Periskop.id – Di tengah kemungkinan perbedaan dan penantian antara merayakan Idulfitri 2026 di hari Jumat (20/3) atau Sabtu (21/3), sebagian umat muslim di sejumlah daerah justru sudah merayakan Idulfitri di Kamis (19/3) hari ini.
Warga Muslim di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, misalnya, merayakan Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah pada Kamis, dengan melaksanakan Shalat Id di Masjid Hasan Soleman sejak pagi hari.
"Untuk penetapan 1 Ramadan, kita mulai menghitung dari 1 Muharram 1447 Hijriah. Dan semua itu seirama sampai dengan 1 Syawal hari ini," kata Imam Masjid Hila Abdul Kadir Ollong, di Ambon, Kamis (19/3).
Shalat Idulfitri yang dipusatkan di masjid tersebut berlangsung khidmat dan diikuti ribuan jamaah, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Ibadah dimulai sekitar pukul 08.13 WIT, dipimpin Imam Abdul Kadir Ollong, sementara khutbah disampaikan oleh Yusuf Lating.
Perayaan Idulfitri di Hila tahun ini berlangsung lebih awal dibandingkan penetapan pemerintah. Warga setempat diketahui menjalankan puasa Ramadan dua hari lebih dulu, karena menggunakan perhitungan penanggalan sendiri yang diwariskan secara turun-temurun.
Usai pelaksanaan Shalat Id, warga melanjutkan tradisi bersalam-salaman sebagai bentuk saling memaafkan. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di seluruh negeri, dengan warga saling berkunjung ke rumah keluarga dan kerabat.
Selain di Negeri Hila, ada beberapa negeri di Leihitu, Maluku Tengah yang sudah melaksanakan Lebaran Idulfitri hari ini, di antaranya, Negeri Wakal, Negeri Lima dan Seith.
Tarekat Syattariyah
Perayaan idulfitri lebih awal juga dilakukan ribuan pengikut tarekat Syattariyah di Kabupaten Nagan Raya, Aceh yang merayakan di hari Kamis ini. Hal tersebut ditandai dengan pelaksanaan Shalat Id di Masjid Peuleukung, Kecamatan Seunagan Timur.
Perayaan ini dilakukan setelah para jamaah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan selama genap 30 hari. Bupati Nagan Raya, Aceh Teuku Raja Keumangan yang juga cucu kandung dari ulama besar kharismatik Aceh, Habib Muda Seunagan mengatakan, penetapan 1 Syawal bagi pengikut Tarekat Syathariyah didasarkan pada metode Hisab Bilangan Lima.
"Metode ini sudah digunakan secara turun-temurun di Nagan Raya selama lebih dari 200 tahun," ujarnya.
Menanggapi adanya perbedaan waktu hari raya dengan pemerintah atau kelompok masyarakat lain, Bupati Teuku Raja Keumangan menyatakan hal tersebut bukanlah persoalan baru. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap menjaga keharmonisan dan saling menghargai.
"Di Nagan Raya ini sudah biasa, tidak ada masalah karena sudah berlangsung ratusan tahun. Ada yang menggunakan metode rukyah, ada yang hisab. Bahkan di tingkat nasional pun perbedaan sering terjadi," imbuhnya.
Teuku Raja Keumangan mengatakan penetapan hari raya yang lebih awal ini merupakan bagian dari kekayaan tradisi religius di Aceh, khususnya di Kabupaten Nagan Raya yang terus dilestarikan oleh para pengikut ulama-ulama terdahulu hingga saat ini.
Saling Menghormati
Di Pulau Jawa, sekitar 100 orang melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah lebih awal di Masjid Nur Muhammad Al Muhdlor, Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Kamis, dengan pengamanan aparat kepolisian.
Pelaksanaan ibadah berlangsung khidmat sejak pagi hari sekitar pukul 06.30 WIB di lingkungan pondok pesantren setempat yang selama ini dikenal memiliki tradisi penetapan hari raya lebih awal. Kapolsek Sumbergempol AKP Mochamad Anshori mengatakan pihaknya menerjunkan pengamanan terbuka dan tertutup, guna memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif.
"Jumlah jamaah sekitar 100 orang dan pelaksanaan berjalan lancar. Kami melakukan pengamanan terbuka dan tertutup untuk mengantisipasi potensi gangguan," tuturnya.
Ia menyebutkan kegiatan tersebut merupakan satu-satunya pelaksanaan Shalat Id lebih awal di wilayah Sumbergempol dan terpusat di lingkungan pondok tersebut.
Meski berlangsung secara terbatas, rangkaian ibadah berjalan seperti pelaksanaan Shalat Id pada umumnya. Usai shalat, jamaah saling bersalaman dan dilanjutkan dengan makan bersama berupa hidangan berkat atau nasi ambeng.
Di sisi lain, aktivitas masyarakat di sekitar lokasi tetap berlangsung normal. Sejumlah warga yang mengikuti penetapan 1 Syawal pemerintah, tampak melintas di depan kawasan masjid untuk melakukan ziarah kubur ke makam leluhur di sekitar kompleks tersebut.
Perbedaan waktu pelaksanaan Hari Raya Idulfitri di wilayah itu tidak memicu gesekan di tengah masyarakat. Salah seorang peziarah, Hasan (60), mengatakan perbedaan tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan tetap dijalani dengan saling menghormati.
"Tidak ikut (Lebaran awal), kami ikut (ketetapan 1 Syawal) pemerintah saja. Ini yang ikut Shalat Id memang khusus jamaah gus e (ustadz-nya)," kata Hasan.
Dia mengatakan sebagaimana diungkapkan peziarah maupun jamaah Al Muhdlor, fenomena perbedaan penentuan hari raya tersebut menjadi bagian dari dinamika kehidupan beragama yang lazim dan dianggap hal biasa bagi masyarakat sekitar.
Tinggalkan Komentar
Komentar