periskop.id - Banjir yang melanda wilayah Pasuruan, Jawa Timur, pada akhir Maret 2026 menyebabkan gangguan serius di jalur Pantai Utara (Pantura), salah satu akses vital transportasi nasional. Hujan deras dengan intensitas tinggi memicu meluapnya sungai dan merendam jalan utama, termasuk jalur penghubung Surabaya-Probolinggo yang dikenal padat, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran.
Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada aktivitas warga, tetapi juga mengganggu mobilitas antarwilayah di Jawa Timur. Jalur Pantura yang biasanya menjadi tulang punggung distribusi logistik dan transportasi kini lumpuh akibat genangan air yang cukup tinggi.
Lalu Lintas Lumpuh di Jalur Pantura
Melansir berbagai sumber, genangan air setinggi 50 hingga 100 sentimeter di sejumlah titik membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas. Kondisi ini terjadi terutama di kawasan Beji yang menjadi penghubung penting antara Gempol dan Bangil. Akibatnya, arus lalu lintas sempat lumpuh total dan memicu antrean panjang kendaraan.
Banyak pengendara terpaksa berhenti atau memutar balik untuk mencari jalur alternatif. Bahkan, tidak sedikit kendaraan yang mogok setelah nekat menerobos banjir. Kondisi semakin parah karena volume kendaraan meningkat signifikan akibat arus balik Lebaran 2026.
Petugas kepolisian dan dinas perhubungan pun melakukan rekayasa lalu lintas dengan mengalihkan kendaraan ke jalur tol atau jalur lain yang lebih aman. Penutupan sementara juga diberlakukan di beberapa ruas jalan untuk menghindari risiko kecelakaan.
Daerah yang Terdampak Banjir di Pasuruan
Banjir tidak hanya merendam jalur Pantura, tetapi juga meluas ke berbagai wilayah di Pasuruan, baik di tingkat kabupaten maupun kota. Kecamatan Beji menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah, diikuti oleh Gempol, Kejayan, Pohjentrek, hingga Winongan.
Selain itu, sejumlah kawasan lain seperti Bangil, Sukorejo, Gondang Wetan, Pasrepan, dan Rejoso juga dilaporkan terdampak genangan air. Bahkan, wilayah perkotaan seperti Blandongan, Kraton, dan Purworejo tidak luput dari banjir akibat luapan sungai.
Di beberapa lokasi, air juga merendam permukiman warga dengan ketinggian mencapai 30 hingga 100 sentimeter. Aktivitas masyarakat pun terganggu, mulai dari kegiatan rumah tangga hingga perayaan Lebaran yang tidak bisa dilakukan secara normal.
Penyebab Banjir dan Dampaknya
Banjir di Pasuruan dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam, menyebabkan debit air sungai meningkat drastis hingga meluap. Beberapa tanggul yang tidak mampu menahan volume air turut memperparah kondisi.
Selain merendam jalan dan rumah warga, banjir juga berdampak pada infrastruktur lain seperti jalur rel kereta dan jalan penghubung antar kota. Kerugian material diperkirakan cukup besar, meskipun belum ada laporan korban jiwa hingga saat ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar