periskop.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sudah tiba di Beijing untuk bertemu Presiden China, Xi Jinping dalam rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) kedua negara.

 

Pesawat kepresidenan Air Force One mendarat di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing pada Rabu waktu setempat.

 

Trump turun dari tangga pesawat sambil mengepalkan tangan sebagai simbol semangat dalam kunjungan resmi pertamanya ke Negeri Tirai Bambu sejak 2017.

 

Pemerintah China menyambut kedatangan Trump dengan upacara karpet merah dan barisan sekitar 300 pemuda berseragam putih. Para pemuda tersebut membawa buket bunga serta melambaikan bendera kecil kedua negara sebagai bentuk penghormatan.

 

Trump mengungkapkan keinginannya agar Presiden Xi Jinping bersedia membuka akses Tiongkok lebih luas bagi para inovator hebat dunia. Harapan tersebut ia sampaikan sesaat sebelum mendarat di Beijing untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi bilateral.

 

"Saya akan meminta Presiden Xi, seorang pemimpin luar biasa, membuka Tiongkok sehingga orang-orang brilian dapat menunjukkan kehebatan mereka," tulis Trump melalui media sosial miliknya.

 

Lawatan bersejarah ini menjadi sangat ikonik karena Trump memboyong dua tokoh teknologi dunia, yakni bos Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang. Kehadiran mereka dianggap sebagai sinyal kuat adanya potensi kesepakatan bisnis besar antara dua kekuatan ekonomi dunia.

 

Agenda utama pertemuan ini bertujuan meredakan ketegangan mendalam yang terjadi antara Washington dan Beijing. Sejumlah isu sensitif mulai dari perdagangan, status Taiwan, hingga konflik di Timur Tengah menjadi poin krusial dalam diskusi tersebut.

 

Sebelumnya, jadwal pertemuan kedua pemimpin negara ini sempat mengalami penundaan sejak Maret lalu. Hal itu disebabkan oleh eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

 

Terkait konflik tersebut, Trump memperkirakan adanya diskusi mendalam mengenai posisi China sebagai pembeli utama minyak Iran. Amerika Serikat sendiri saat ini masih memberlakukan sanksi terhadap sektor energi negara tersebut.

 

"Saya rasa kita tidak membutuhkan bantuan apa pun terkait Iran dari Tiongkok dan Xi telah cukup baik dalam hal ini," ujar Trump.

 

Sikap melunak ini sengaja ditunjukkan Trump untuk meredam kesan ketegangan antara dirinya dengan pemimpin China tersebut. Ia lebih memilih fokus pada penguatan hubungan bilateral yang telah lama membeku selama hampir satu dekade.

 

Pihak Beijing melalui Kementerian Luar Negeri merespons positif kehadiran rombongan delegasi Amerika Serikat tersebut. Mereka menyatakan kesiapan untuk mengelola perbedaan pendapat yang selama ini menghambat hubungan kedua negara.

 

"Tiongkok siap bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama dan mengelola perbedaan," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.

 

Sesuai jadwal, Trump dan Xi Jinping akan melangsungkan pembicaraan formal di Great Hall of the People pada Kamis (14/05) pagi. Pertemuan resmi itu direncanakan mulai berlangsung pukul 10.00 waktu setempat.

 

Selain urusan kenegaraan, Trump dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven yang merupakan situs warisan dunia. Lokasi ini secara historis merupakan tempat kaisar China berdoa memohon hasil panen yang melimpah.

 

Rangkaian kunjungan akan ditutup dengan jamuan makan malam kenegaraan serta sesi minum teh bersama pada Jumat (15/05). Agenda santai tersebut diharapkan mampu mencairkan suasana diplomatik sebelum Trump meninggalkan Beijing.