periskop.id - Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50% pada pertengahan tahun ini.

 

Advertisement

Kebijakan moneter tersebut diperkirakan bakal menekan aktivitas sektor riil dalam beberapa bulan mendatang.

Chief Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan transmisi kenaikan BI Rate umumnya berlangsung secara bertahap.

 

Dalam jangka pendek, aktivitas sektor riil masih relatif tertahan dari dampak langsung karena sebagian besar kredit yang telah berjalan belum mengalami penyesuaian bunga.

 

Ia menguraikan bahwa tekanan baru akan terasa nyata dalam jangka waktu tiga hingga enam bulan ke depan.

 

Hal itu terjadi akibat lonjakan biaya dana perbankan serta penyesuaian bunga pada kredit baru.

"Dalam jangka pendek, sektor riil belum langsung terpukul besar karena banyak kredit lama masih mengikuti jadwal penyesuaian masing-masing," kata Josua kepada Periskop, Senin (15/6). 

Menurut Josua, sektor yang paling rentan terdampak kenaikan suku bunga adalah sektor yang sangat bergantung pada pembiayaan kredit dan cicilan.

 

Sektor properti dan konstruksi misalnya, berpotensi menghadapi perlambatan permintaan karena pembelian rumah sangat bergantung pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kepercayaan konsumen. 

Selain itu, sektor otomotif juga diperkirakan menghadapi tantangan serupa mengingat sebagian besar pembelian kendaraan dilakukan melalui skema kredit.

 

Kenaikan bunga berpotensi meningkatkan biaya cicilan sehingga menahan minat masyarakat untuk membeli kendaraan baru. 

"Properti rentan karena pembelian rumah sangat bergantung pada KPR dan kepercayaan konsumen. Otomotif rentan karena penjualan kendaraan banyak ditopang kredit kendaraan," jelasnya. 

Di sisi lain, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya modal.

 

Dengan ruang keuntungan yang relatif terbatas, UMKM memiliki kemampuan yang lebih sempit untuk mengalihkan kenaikan biaya ke harga jual produk. 

"Manufaktur rentan karena menghadapi tekanan ganda, yakni biaya pinjaman naik dan rupiah lemah membuat bahan baku impor lebih mahal. UMKM rentan karena kemampuan menaikkan harga jual terbatas, sementara biaya modal kerja naik," paparnya. 

Josua menjelaskan dampak penuh kenaikan suku bunga terhadap konsumsi, investasi, produksi, hingga penyerapan tenaga kerja umumnya baru terlihat dalam rentang dua hingga empat triwulan. 

Karena itu, perkembangan sektor properti, otomotif, dan manufaktur dalam beberapa kuartal mendatang akan menjadi indikator penting untuk mengukur seberapa dalam dampak kebijakan moneter terhadap sektor riil. 

"Dampaknya tidak akan merata. Sektor yang memiliki arus kas kuat, pendapatan ekspor, atau kas besar akan lebih tahan. Sebaliknya, sektor yang bergantung pada permintaan domestik, cicilan konsumen, dan bahan baku impor akan lebih tertekan. Properti, otomotif, dan manufaktur akan menjadi barometer utama. Jika penjualan rumah, kendaraan, dan pesanan manufaktur mulai melemah bersamaan, itu menjadi tanda bahwa kenaikan suku bunga sudah masuk lebih dalam ke sektor riil," tutupnya.