Periskop.id - Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, menghadapi sejumlah kendala dalam proses identifikasi jenazah korban kecelakaan kereta rangkaian listrik (KRL) CommuterLine dan Kereta Diesel (KRD) jarak jauh Argo Bromo Anggrek, di Stasiun Bekasi Timur.

"Pada saat kita cek menggunakan MAMBIS, identitasnya tidak langsung keluar. Ini menjadi salah satu kendala yang saat ini masih kami dalami," kata Kepala RS Polri Kramat Jati, Prima Heru Yulihartono saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4). 

Kendala tersebut terutama terkait hasil pemeriksaan awal menggunakan alat identifikasi biometrik. Mobile Automated Multi-Biometric Identification System atau MAMBIS sendiri merupakan alat portabel canggih yang biasa digunakan tim Inafis Polri, untuk mengidentifikasi korban kecelakaan maupun jenazah tanpa identitas.

Namun dalam kasus ini, tidak semua data biometrik korban dapat langsung terbaca oleh sistem tersebut. Selain kendala teknologi, kondisi fisik jenazah juga turut memengaruhi proses identifikasi.

Meski sebagian besar jenazah dalam kondisi relatif utuh, terdapat beberapa korban yang mengalami kerusakan pada bagian kepala. "Kami menemukan ada beberapa jenazah dengan kerusakan di bagian kepala, sehingga identifikasi wajah menjadi tidak maksimal," ucap Prima.

Kondisi tersebut membuat tim DVI harus mengandalkan metode lain, seperti pemeriksaan sidik jari, rekam medis gigi, hingga uji DNA guna memastikan identitas korban secara akurat.

Meski dihadapkan pada sejumlah kendala, kata Prima, RS Polri memastikan proses identifikasi tetap dilakukan secara maksimal dan secepat mungkin. Hal ini penting agar jenazah dapat segera diserahkan kepada pihak keluarga.

"Kami upayakan secepatnya, karena kondisi jenazah tidak seperti korban kebakaran yang umumnya lebih sulit diidentifikasi," ucap Prima.

Saat ini, proses identifikasi masih terus berlangsung. RS Polri juga mengimbau keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarganya dalam peristiwa tersebut, untuk segera melapor dan memberikan data pembanding guna mempercepat proses pencocokan identitas.

Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati telah menerima sebanyak 10 kantong jenazah sejak Selasa pagi sekitar pukul 03.00 WIB. Sebanyak tujuh keluarga korban kecelakaan kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur telah melapor ke posko identifikasi korban (Disaster Victim Identification/DVI).

PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyebutkan korban meninggal dunia atas insiden tabrakan antara kereta Commuter Line dan kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam, bertambah menjadi 15 orang.

"10 jenazah di RS Polri, 3 jenazah di RSUD Bekasi, satu jenazah di RSU Bella, satu jenazah di RS Mitra Keluarga," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan.

Tunggu Hasil Identifikasi 
Sementara itu, sejumlah keluarga korban kecelakaan antara kereta rangkaian listrik (KRL) CommuterLine dan Kereta Diesel (KRD) jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, masih terus menunggu hasil identifikasi di Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Salah satunya adalah Wasirin, keluarga dari Vica Acnia Pratiwi yang hingga kini belum diketahui keberadaannya pasca kecelakaan. "Pastinya, kami berharap dan masih menunggu hasil identifikasi dari rumah sakit di sini (RS Polri)," kata Wasirin saat ditemui ANTARA di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.

Proses identifikasi korban kecelakaan antara kereta CommuterLine dan Kereta Diesel (KRD) jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur terus berlangsung di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Sejumlah keluarga korban mendatangi posko Disaster Victim Identification (DVI) dengan membawa data sebelum kematian (ante mortem) guna membantu proses pencocokan identitas.

"Kami sudah menyerahkan KTP, dan diminta juga ijazah untuk membantu pengecekan sidik jari. Sekarang masih menunggu hasilnya," jelas Wasirin.

Menurutnya, langkah ini dilakukan setelah pihak keluarga tidak berhasil menghubungi Vica sejak Senin (27/4) malam, bertepatan dengan waktu terjadinya kecelakaan. Upaya komunikasi yang dilakukan keluarga tidak mendapatkan respons, sehingga memicu kekhawatiran.

"Keluarga di Bekasi sudah coba menghubungi sejak malam, tapi tidak ada balasan sama sekali. Akhirnya saya diminta ke sini untuk memastikan,” ujar Wasirin.

Setibanya di RS Polri, Wasirin sempat diarahkan ke bagian forensik sebelum akhirnya diminta melengkapi data ante mortem. Data tersebut nantinya akan dicocokkan dengan data setelah kematian (post mortem) korban yang sedang diidentifikasi oleh tim DVI.

“Kami masih menunggu, apakah dari korban yang ada ini termasuk keponakan saya atau bukan. Belum ada kepastian sampai sekarang,” ucapnya.

Wasirin mengatakan, pihak keluarga sebelumnya juga telah melakukan pencarian di sejumlah rumah sakit di Bekasi. Namun, hasilnya nihil karena nama Vica tidak ditemukan dalam daftar pasien maupun korban yang dirawat.

“Kami sudah cek di rumah sakit di Bekasi, tidak ada. Jadi kami menduga kemungkinan ada di sini, tapi masih menunggu kepastian dari tim,” katanya.

Di sisi lain, kondisi keluarga korban juga tengah diliputi situasi sulit. Orang tua Vica diketahui masih berada di perjalanan menuju Jakarta, setelah sebelumnya berada di kampung halaman untuk melayat anggota keluarga yang juga meninggal dunia.

"Orang tuanya masih di jalan menuju ke sini. Mereka sebelumnya sedang melayat karena ada keluarga yang meninggal,” tutur Wasirin.

Hingga kini, keluarga berharap proses identifikasi dapat segera selesai sehingga memberikan kepastian. Mereka juga masih menyimpan harapan, Vica tidak termasuk dalam daftar korban kecelakaan tersebut.

"Kami hanya bisa menunggu hasilnya. Semoga bukan termasuk korban," ucap Wasirin.