periskop.id - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menyatakan perlintasan sebidang yang rawan harus segera dievaluasi menyusul sejumlah kecelakaan kereta api dalam beberapa hari terakhir.

Dudung menyampaikan belasungkawa atas kecelakaan antara kereta api dan mobil di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang menewaskan empat orang pada dini hari. Insiden tersebut terjadi setelah sebelumnya kecelakaan kereta juga terjadi di Bekasi Timur dengan 16 korban jiwa pada Senin (27/4).

“Rangkaian kecelakaan ini menjadi alarm pengingat untuk membenahi transportasi publik, khususnya kereta api. Armada, infrastruktur, hingga layanan kepada publik harus dibarengi dengan infrastruktur penopang seperti perlintasan yang aman,” kata Dudung di Jakarta, Jumat (1/5).

Dudung menegaskan, saat ini merupakan peringatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perlintasan sebidang sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengungkapkan terdapat sekitar 1.800 titik perlintasan sebidang di Indonesia yang memerlukan perhatian serius.

KSP menyoroti tingginya risiko pada perlintasan sebidang, terutama di kawasan padat dan jalur lalu lintas ramai, baik di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya. Menurutnya, salah satu solusi yang dapat dipercepat adalah pembangunan flyover di titik-titik rawan dengan dukungan anggaran yang telah disiapkan pemerintah.

Selain pembangunan fisik, Dudung menekankan pentingnya implementasi sistem peringatan dini (early warning system) serta sistem mekanik otomatis di perlintasan sebidang sebagaimana telah diarahkan Presiden Prabowo. Ia juga mengingatkan pihak operator untuk memperketat pengawasan di lapangan.

“PT KAI juga perlu memastikan standar operasional prosedur di perlintasan sebidang berjalan dengan baik, termasuk keberadaan dan kesiapsiagaan penjaga perlintasan,” ujarnya.

Dudung menekankan, pemerintah akan bekerja lebih keras untuk menuntaskan persoalan keselamatan di perlintasan kereta api.

“Keselamatan publik adalah prioritas utama dalam pengelolaan transportasi publik,” tegasnya.

Diketahui, Senin malam (27/4) menjadi momen kelam bagi dunia perkeretaapian Indonesia. Sekitar pukul 20.53 WIB, tabrakan keras terjadi di Stasiun Bekasi Timur antara Commuter Line jurusan Jakarta–Cikarang dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek. Kecelakaan tersebut terjadi di gerbong KRL khusus perempuan.

Munir, salah satu penumpang yang selamat, menceritakan detik-detik kejadian. Ia berada di gerbong keempat dari belakang saat Commuter Line berhenti di jalur 1. Beberapa menit kemudian, Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang dan menghantam keras gerbong paling belakang Commuter Line.

Lalu, pada Jumat (1/5), Satlantas Polres Grobogan mengonfirmasi kecelakaan maut antara kereta api dan sebuah mobil di perlintasan sebidang tanpa palang pintu yang menewaskan empat orang penumpang. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 02.52 WIB di jalan Tuko–Sidorejo, tepatnya di Dusun Sugihan. Mobil Toyota Avanza berpelat nomor H-1060-ZP bermuatan sembilan orang tertabrak kereta Argo Bromo Anggrek.

Kereta rute tersebut melaju kencang dari arah barat menuju timur melintasi wilayah Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon. Kendaraan roda empat yang melaju ke arah utara itu diduga mendadak mati mesin tepat di atas rel. Jarak kereta sudah terlalu dekat sehingga tabrakan hebat menghantam bagian depan kiri mobil tidak terhindarkan.