periskop.id – Anggota Komisi IV DPR RI, Hindun Anisah mengatakan pemerintah perlu memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha.
Langkah tersebut guna memastikan seluruh hewan kurban memenuhi standar kesehatan, kelayakan fisik, serta kesesuaian syariat Islam.
"Hewan kurban harus benar-benar bebas dari penyakit agar aman dikonsumsi masyarakat saat proses penyembelihan nanti," ujar Hindun Anisah dalam keterangannya, Selasa (5/5).
Politisi Fraksi PKB tersebut menekankan pengawasan lemah berisiko meningkatkan peredaran ternak sakit. Kondisi ini merugikan masyarakat secara ekonomi sekaligus berpotensi membatalkan keabsahan ibadah kurban.
Sesuai ketentuan syariah, kata dia, hewan kurban juga wajib aktif dan memiliki nafsu makan baik. Selain itu, fisik ternak tidak boleh cacat, terutama pada bagian ekor maupun telinga.
Legislator asal Jawa Tengah ini secara khusus menyoroti ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Wabah tersebut masih menghantui populasi sapi, kambing, serta domba di Indonesia.
Petugas lapangan diminta mewaspadai gejala klinis seperti luka mulut dan kaki. Indikasi lainnya mencakup demam tinggi hingga kondisi tubuh ternak yang melemah.
“Penyebaran PMK dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas daging kurban, mengganggu rantai distribusi ternak, hingga merusak kepercayaan masyarakat terhadap ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Pemerintah dipandang perlu melakukan mitigasi sejak dini melalui Dinas Peternakan. Pemeriksaan fisik menyeluruh harus menyasar pasar-pasar hewan di tiap wilayah.
Hindun menegaskan, setiap komoditas ternak wajib mengantongi surat keterangan sehat dari dokter hewan. Prosedur ini menjadi jaminan bagi calon pembeli mengenai kondisi fisik hewan.
“Pemerintah daerah juga bisa memperketat pemeriksaan lalu lintas ternak antar daerah sehingga bisa mengantisipasi sejak dini jika hewan kurban terjangkit PMK,” ujarnya.
Selain peran birokrasi, Hindun mengimbau calon pekurban lebih jeli saat memilih. Masyarakat diingatkan tidak sekadar tergiur harga murah atau ukuran badan yang besar.
Kondisi kesehatan tetap menjadi variabel utama sebelum memutuskan membeli. Ketelitian pembeli menjadi filter terakhir dalam rantai distribusi hewan kurban.
"Masyarakat harus lebih bijak. Jangan hanya melihat harga dan ukuran, tetapi pastikan hewan tersebut sehat, tidak cacat, dan sesuai syariah," ujarnya.
Ia menambahkan, kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci keberhasilan kurban tahun ini. Ibadah kurban menurutnya bukan sekadar persoalan kuantitas, melainkan kualitas dan keamanan pangan.
"Kesadaran masyarakat adalah kunci, karena ibadah kurban bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas dan keamanan," ujarnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar