iklan periskop
Nasional

Kebakaran Bromo Akibat Human Error, Menko Polkam Duga Kecerobohan Pengunjung

Menko Polkam Djamari Chaniago sebut kebakaran Bromo dipicu human error. 520 hektare lahan hangus, akses wisata ditutup, tim gabungan BNPB-Kehutanan masih lakukan pemadaman.

1 jam yang lalu · 2 mnt baca
Kebakaran Bromo Akibat Human Error, Menko Polkam Duga Kecerobohan Pengunjung
Menko Polkam Djamari Chaniago menyampaikan keterangan saat konferensi pers usai Rapat Koordinasi Penangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026). Periskop/Rachel Farahdiba
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menegaskan bahwa insiden kebakaran di kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diduga kuat dipicu oleh faktor kecerobohan manusia.

Menurut Djamari, kelalaian pengunjung saat menyalakan api untuk menghangatkan tubuh di tengah cuaca dingin maupun kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan menjadi indikasi utama penyebab kobaran api.

“Bromo itu kan dingin. Kemudian banyak orang di situ datang, mungkin sambil kedinginan dia bakar. Atau jangan lupa mungkin memadamkannya. Seperti tahun yang lalu kan orang hanya berfoto-foto saja kan bisa terbakar kan? Kira-kira begitu, karena human error. Iya, human error,” ujar Djamari di Gedung Kemenko Polkam, Senin (10/8).

Ia menambahkan, indikasi serupa juga ditemukan pada sejumlah kasus kebakaran di lokasi lain, termasuk kawasan Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat.

“Saya kira banyak sekali hal yang berkaitan dengan human error ya. Belum saya tahu persis itu. Tapi kalau Bromo itu, kira-kira,” katanya.

Terkait penanganan titik api di Bromo, Djamari memastikan tim gabungan dari BNPB serta Kementerian Kehutanan telah turun langsung sejak malam hari. Api berhasil dilokalisasi sehingga kini hanya tersisa beberapa titik kecil.

“Bromo ini Pak BNPB dan Menteri Kehutanan baru tadi malam pulang. Jadi tadi dilaporkan juga bahwa itu sudah kita selesaikan, tinggal satu titik dua titik saja,” ucapnya.

Pemerintah juga melakukan langkah pencegahan ekstra dengan menginstruksikan penyiraman rutin di lokasi penampungan sampah agar tidak mudah tersulut api.

“Kalau masalah TPA upaya untuk itu kita jaga betul supaya disirami supaya basah supaya juga tidak mudah terbakar. Selain itu juga diawasi, dicegah ada orang yang melemparkan puntung rokok di sekitar itu,” jelas Djamari.

Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap aktivitas warga di area TPA untuk mengantisipasi dampak kebocoran gas yang berpotensi menyulitkan proses pemadaman.

“Itu ketat sekali, karena apabila itu terjadi merepotkan kita semua. Lebih baik mencegah daripada terjadi pemadaman,” ungkapnya.

Diketahui, kebakaran di kawasan Bromo yang mulai dilaporkan sejak Senin (3/8) terus meluas. Balai Besar TNBTS menutup total akses wisata dari Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan, hingga Probolinggo.

Dalam sepekan, kebakaran telah menghanguskan sekitar 520 hektare lahan. Hingga Senin (10/8), api masih membakar sejumlah vegetasi kering. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa. Balai Besar TNBTS menegaskan dugaan kuat bahwa kebakaran dipicu oleh ulah manusia, bukan fenomena alam.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Djamari Chaniago, Menkopolkam, gunung bromo, dan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.