periskop.id - Pergeseran menuju kendaraan listrik di Indonesia dinilai belum sepenuhnya mencerminkan perluasan pasar baru. Research Associate ID COMM, Claudius Surya, menilai fenomena yang terjadi lebih menyerupai “kanibalisme pasar”, yakni perpindahan konsumen dari mobil berbahan bakar bensin (ICE) ke mobil listrik akibat perang harga yang semakin agresif.
Menurut Claudius, tren penjualan kendaraan dalam dua tahun terakhir menunjukkan pola yang kurang ideal.
“Yang terjadi sekarang adalah peralihan dari mobil ICE ke mobil listrik, bukan penambahan pembeli baru. Konsumennya itu-itu saja, hanya bergeser karena harga makin agresif,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (11/12).
Ia menjelaskan, produsen mobil listrik kini terjebak dalam kompetisi harga yang ketat. Model baru ditawarkan dengan harga semakin rendah, sehingga beberapa merek harus memangkas margin secara ekstrem.
“Price war ini di satu sisi menguntungkan konsumen, tapi berisiko membuat beberapa merek tidak bertahan karena margin makin tipis dan persaingan makin keras,” kata Claudius.
Selain harga, siklus pembaruan model kendaraan listrik juga semakin cepat. Jika mobil konvensional biasanya bertahan 4–5 tahun sebelum facelift, EV kini diperbarui hanya dalam dua tahun. Kondisi ini menambah tekanan bagi produsen untuk menjaga stabilitas bisnis, terlebih ketika insentif pemerintah masih belum konsisten.
Claudius menekankan bahwa adopsi kendaraan listrik belum inklusif.
“Harapannya, pengguna mobil murah konvensional bisa naik ke mobil listrik, tapi faktanya belum. Yang membeli EV saat ini tetap kelompok menengah ke atas,” jelasnya.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil listrik sepanjang 2024 masih didominasi segmen premium, dengan kontribusi lebih dari 70% berasal dari merek menengah ke atas.
Ia juga menyoroti preferensi konsumen Indonesia yang cenderung memilih kendaraan serbaguna, khususnya tujuh penumpang. Produsen yang mampu menghadirkan model sesuai kebutuhan ini lebih cepat menembus pasar.
“Mobil yang value for money, sesuai kebutuhan, dan tidak berlebihan teknologinya, cenderung lebih diterima konsumen Indonesia,” tambahnya.
Dalam konteks perilaku pembeli, Claudius menilai komunitas pengguna memainkan peran penting dalam membentuk kepercayaan publik terhadap EV.
“Karena adopsinya masih di fase awal, orang belajar dari sesama pengguna. Komunitas menjadi sumber informasi utama dan jauh lebih dominan dibandingkan di mobil berbahan bakar fosil,” ujarnya.
Riset BloombergNEF 2024 menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, yang berhasil meningkatkan penetrasi EV hingga 15% berkat dukungan kebijakan fiskal yang stabil. Hal ini memperkuat pandangan Claudius bahwa keberlanjutan pasar EV di Indonesia sangat bergantung pada konsistensi regulasi dan insentif.
Tinggalkan Komentar
Komentar