Periskop.id - Toyota Indonesia memastikan komitmen ekspor ke pasar Timur Tengah masih berjalan seperti biasa, sekalipun situasi geopolitik di kawasan tersebut memanas. Sejauh ini belum ada perubahan komitmen dengan para importir. Hanya saja, pengiriman kendaraan menghadapi kendala logistik.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto di Jakarta, Jumat (6/3) malam, menjelaskan, produksi kendaraan tetap berjalan normal sesuai dengan pesanan dari pasar ekspor. Namun, proses pengapalan untuk wilayah Timur Tengah sementara terhenti karena gangguan pada jalur pengiriman.

“Sampai saat ini komitmen kami dengan importir tidak ada perubahan. Hanya masalahnya adalah logistik terganggu, sehingga kita tetap produksi normal sesuai dengan order, tapi shipping atau pengapalan melihat situasi,” jelasnya. 

Area Penampungan

Akibat tertahannya pengiriman, Toyota Indonesia kini menyiapkan area penampungan kendaraan di stockyard. Kendaraan yang telah diproduksi sementara disimpan sambil menunggu kondisi pengiriman kembali memungkinkan.

“Yang kita produksi tidak bisa shipping, jadi sekarang stop dulu. Tapi komitmen belum ada perubahan,” kata Nandi.

Perusahaan juga mengaku belum dapat memastikan berapa lama penundaan pengiriman akan berlangsung. Saat ini kapal-kapal pengangkut disebut belum beroperasi menuju kawasan tersebut. “Belum tahu, karena kapal sekarang tidak ada yang jalan ke sana,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi situasi ini, TMMIN tengah mempelajari kemungkinan penggunaan rute pengiriman alternatif. Sementara itu, pengiriman komponen atau suku cadang tetap dilakukan dengan memanfaatkan jalur udara.

Di sisi lain, TMMIN menegaskan pasar ekspor mereka tidak hanya bergantung pada Timur Tengah. Saat ini, ekspor terbesar perusahaan justru menuju kawasan ASEAN dan Amerika Latin. Adapun kontribusi pasar Timur Tengah diperkirakan sekitar 17-20% dari total ekspor kendaraan Toyota Indonesia.

Selat Hormuz
Untuk diketahui, Iran secara resmi telah menutup Selat Hormuz, jalur vital yang kerapkali dimanfaatkan sebagai jalur distribusi minyak global, dengan alasan keamanan terkait perang antara Negeri Para Mullah tersebut dengan Amerika Serikat+Israel yang pecah sejak Sabtu (28/2). Padahal, sekitar 20-30 persen perdagangan minyak global, melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Indonesia yang masih tergantung pada pasokan minyak global diperkirakan bakal ikut terdampak dengan adanya ketegangan geopolitik tersebut.

Lantas dengan ditutupnya Selat Hormuz, apa dampak yang bakal terasa bagi industri yang ada di Indonesia, khususnya industri otomotif Nasional? Ketika harga minyak naik, tekanan pertama terasa pada nilai tukar rupiah dan beban subsidi energi. Jika subsidi membengkak atau harga BBM dalam negeri ikut terkerek, daya beli masyarakat bisa terdampak.

Atas dasar inilah yang menjadikan industri otomotif semakin tertekan jika kondisi yang panas itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, jika ketegangan ini terus berlangsung lama akan memiliki dampak terhadap harga minyak yang dapat menembus US$100 per barel.

“Dampaknya langsung terasa pada industri otomotif Indonesia, karena biaya produksi bisa naik lebih dari 5 persen. Terutama akibat kenaikan biaya energi, lonjakan ongkos logistik, serta semakin mahalnya parts impor perakitan mobil di Indonesia akibat naiknya tarif pengiriman,” kata Yannes.

Memang, ketegangan yang diakibatkan oleh pihak luar tidak serta merta meruntuhkan industri otomotif secara langsung. Namun, kejadian itu memberikan pertumbuhan yang "stunting" bagi industri itu sendiri akibat daya beli yang kurang bergairah.

Masa Krisis

Jika kita menengok sejarah yang membuat industri otomotif melambat terdapat tiga kejadian besar yang sudah pernah dialami. Mulai dari krisis finansial global pada tahun 2008, pandemi covid-19 hingga penyesuaian harga BBM yang terjadi di 2022 lalu.

Pada krisis finansial global 2008, pelemahan ekonomi dan nilai tukar membuat penjualan mobil nasional turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Konsumen menahan pembelian karena ketidakpastian ekonomi.

Saat pandemi Covid-19 pada 2020, dampaknya jauh lebih dalam. Penjualan mobil nasional anjlok hampir 50% dibanding 2019. Aktivitas ekonomi terhenti, daya beli melemah, dan pembiayaan menjadi lebih ketat.

Sementara itu, pada 2022 ketika harga BBM dalam negeri mengalami penyesuaian, penjualan mobil memang tidak runtuh, tapi pertumbuhannya tertahan dan konsumen menjadi lebih selektif. Terutama di segmen kendaraan dengan konsumsi bahan bakar lebih besar.

Dari tiga periode tersebut terlihat satu pola: setiap kali terjadi tekanan ekonomi yang memukul daya beli, industri otomotif ikut merasakan perlambatan. Nah, di tahun 2025, pasar domestik mengalami penurunan yang cukup mendalam dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Di 2025, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan hanya mencapai 803.687 unit. Angka tersebut turun 7,2% dibandingkan capaian 2024 yang masih berada di level 865.723 unit.

Berbanding terbalik, kendaraan-kendaraan yang diproduksi secara lokal justru mendapatkan respon yang positif dari pasar global. pada tahun 2025. Kinerja ekspor kendaraan utuh (CBU) produksi lokal mencatat pertumbuhan solid 9,7 persen, dari 472 ribu unit pada 2024 menjadi 518 ribu unit di 2025.

Menurut Yannes, jalur ekspor cukup membantu untuk menghidupkan industri otomotif dalam beberapa waktu terakhir. Kawasan Timur Tengah memberikan sumbangsih yang cukup besar yakni 11,8% dari total ekspor mobil Indonesia yang mencapai 518.212 unit pada 2025.

“Jika ketegangan berlangsung cukup lama, permintaan dari kawasan itu berisiko turun secara drastis karena biaya distribusi meningkat, dan turunnya demand akibat sentimen pasar yang bergeser ke arah mencari keamanan untuk diri mereka,” tuturnya. 

Dia melanjutkan jika ekspor ke Timur Tengah yang selama ini cukup membantu menahan penurunan produksi saat penjualan domestik melemah, terganggu, maka produsen otomotif Indonesia harus mencari jalur alternatif untuk tetap menghidupkan utilisasi pabrik di dalam negeri.