Periskop.id – Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, menargetkan dapat menggusur Toyota sebagai produsen mobil terlaris dunia dalam lima tahun atau sekitar 2031. Ambisi tersebut akan dikejar tanpa mengandalkan pasar mobil penumpang Amerika Serikat yang masih membatasi masuknya kendaraan buatan China.
Wakil Presiden Eksekutif BYD Stella Li mengatakan target itu didasarkan pada pertumbuhan organik perusahaan. BYD akan memperbesar penjualan di Eropa, Amerika Latin, Asia Tenggara, dan Australia, sejumlah wilayah yang menjadi penopang ekspansi internasional perusahaan.
BYD juga tidak berencana membeli produsen mobil lain hanya untuk mempercepat pertumbuhan penjualan. Akuisisi merek mewah Eropa tetap terbuka apabila muncul peluang yang sesuai, tetapi perusahaan belum menetapkan target khusus.
Pernyataan Li memperkuat target yang sebelumnya disampaikan pendiri sekaligus Chairman BYD Wang Chuanfu dalam rapat umum pemegang saham pada Juni 2026.
“BYD benar-benar akan menjadi produsen mobil nomor satu secara global dalam hal skala dalam lima tahun,” kata Wang, sebagaimana dikutip Reuters.
Wang meyakini ekspor, pengembangan baterai generasi kedua, dan teknologi pengisian daya sangat cepat akan menjadi pendorong utama pertumbuhan. BYD juga sedang meningkatkan kapasitas produksi baterai untuk mengatasi hambatan pasokan yang sempat memperlambat pengiriman sejumlah model.
Penjualan BYD Masih Separuh Toyota
Ambisi tersebut tidak mudah karena kesenjangan penjualan kedua perusahaan masih lebar. BYD menjual sekitar 4,55 juta kendaraan energi baru sepanjang 2025. Kendaraan energi baru atau new energy vehicle mencakup mobil listrik berbasis baterai dan kendaraan hibrida plug-in.
Pada periode yang sama, penjualan mobil bermerek Toyota dan Lexus mencapai 10,5 juta unit. Jika Daihatsu dan Hino ikut dihitung, total penjualan Toyota Group mencapai rekor 11,3 juta kendaraan, menjadikannya produsen mobil terlaris dunia selama enam tahun berturut-turut.
Dengan demikian, volume penjualan Toyota pada 2025 masih lebih dari dua kali lipat dibandingkan BYD. Namun, produsen China itu menilai perubahan teknologi dan pertumbuhan pasar luar negeri dapat mempersempit selisih dalam lima tahun mendatang.
BYD menargetkan penjualan global sebanyak 5 juta hingga 5,5 juta kendaraan energi baru pada 2026. Dari angka tersebut, sekitar 1,5 juta unit ditargetkan berasal dari pasar di luar China.
Target itu ditopang oleh peningkatan kapasitas produksi. BYD mengumumkan kendaraan energi baru ke-17 juta telah keluar dari lini produksi pada 8 Juli 2026. Model yang menjadi penanda pencapaian tersebut adalah sedan BYD Seal 08.
Laju produksinya meningkat pesat. BYD mencapai produksi 10 juta kendaraan energi baru pada November 2024, kemudian menyentuh 15 juta unit pada Desember 2025. Perusahaan hanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk menambah produksi dari 15 juta menjadi 17 juta kendaraan.
Pasar China Melemah, Ekspor Jadi Andalan
Meski kapasitas produksinya tumbuh, kinerja penjualan BYD pada semester pertama 2026 masih menghadapi tekanan. Data perusahaan yang dihimpun CnEVPost menunjukkan total penjualan kendaraan energi baru mencapai 1.808.511 unit, turun 15,72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka mobil penumpangnya tercatat sekitar 1,78 juta unit. Penurunan terutama terjadi di pasar domestik China akibat persaingan harga, perubahan insentif, dan proses transisi menuju teknologi baterai generasi baru.
Sebaliknya, penjualan luar negeri menjadi titik terang. BYD menjual 792.256 kendaraan di pasar internasional selama Januari–Juni 2026, melonjak 70,65% secara tahunan. Penjualan luar negeri tersebut menyumbang hampir 44% dari total penjualan BYD pada semester pertama.
Reuters mencatat ekspor BYD pada Januari hingga Mei 2026 tumbuh 65%. Brasil, Inggris, dan Australia menjadi tiga pasar ekspor terbesarnya, didukung hambatan perdagangan yang relatif lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.
Ekspansi BYD juga mendapat momentum dari lonjakan ekspor kendaraan China. Pada Juni 2026, ekspor mobil China menembus lebih dari 1,1 juta unit atau meningkat sekitar 72% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan tersebut berpotensi memperbesar ketegangan dagang dan mendorong negara tujuan memperketat perlindungan terhadap industri otomotif domestik.
Secara hitungan, penurunan penjualan pada semester pertama membuat BYD harus mempercepat pertumbuhan secara tajam pada paruh kedua untuk mencapai target tahunan. Keberhasilan menyalip Toyota akan bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan ekspor, membangun pabrik di luar China, memperluas jaringan pengisian daya, dan menghadapi kebijakan perdagangan yang semakin protektif.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar