Periskop.id - Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, mengakui tengah menghadapi kekurangan pasokan baterai akibat melonjaknya permintaan mobil listrik dengan teknologi pengisian ultra-cepat atau flash charging. Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi baterai perusahaan berada dalam tekanan tinggi sepanjang 2026.
Dilaporkan Carnewschina, Ketua dan Presiden BYD Wang Chuanfu mengatakan, tingginya permintaan kendaraan listrik generasi terbaru membuat lini produksi baterai perusahaan bekerja di level maksimal. Menurut Wang, sejumlah model baru BYD saat ini sedang memasuki fase peningkatan produksi massal sehingga kebutuhan baterai meningkat tajam dalam waktu bersamaan.
Ia menjelaskan, pasokan baterai diperkirakan akan mulai membaik dalam beberapa bulan ke depan seiring ekspansi kapasitas produksi yang tengah dilakukan perusahaan. Permintaan terbesar datang dari model-model anyar BYD yang telah menggunakan Blade Battery generasi kedua dan teknologi pengisian ultra-cepat 1.500 kW. Teknologi tersebut menjadi salah satu daya tarik utama BYD dalam persaingan pasar mobil listrik global.
Beberapa model yang sudah mengadopsi teknologi itu antara lain Denza B5 Flash Charge Edition, Denza B8 Flash Charge Edition, hingga BYD Atto 3 terbaru yang menggunakan motor listrik belakang bertenaga 240 kW.
BYD sebelumnya mengklaim sistem flash charging generasi terbaru mampu mengisi baterai dari 10% ke 70% hanya dalam waktu lima menit. Dalam kondisi ideal, pengisian daya dari 10% hingga 97% disebut dapat dicapai hanya dalam sembilan menit.
Kemampuan pengisian super cepat tersebut menjadi salah satu strategi BYD untuk menantang dominasi produsen mobil listrik global seperti Tesla yang selama ini dikenal unggul, dalam teknologi pengisian daya dan ekosistem kendaraan listrik.
Di tengah lonjakan permintaan kendaraan listrik, pengiriman baterai BYD pada April 2026 tercatat mencapai 20,98 GWh. Sementara total distribusi baterai sejak awal tahun telah menembus 81,2 GWh.
Selain memperkuat produksi kendaraan, BYD juga terus memperluas infrastruktur pengisian ultra-cepat di China. Hingga pertengahan Mei 2026, perusahaan mengklaim telah memiliki 5.979 stasiun flash charging yang tersebar di 312 kota.
Pengisian Ultra-Cepat
BYD menargetkan, jumlah stasiun pengisian ultra-cepat di China meningkat menjadi 20 ribu unit pada akhir 2026 sebagai bagian dari penguatan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Ekspansi tersebut tidak hanya difokuskan untuk pasar domestik. BYD juga mulai memperluas jaringan pengisian ultra-cepat ke pasar internasional, termasuk Eropa dan Asia Tenggara yang kini menjadi wilayah strategis pertumbuhan kendaraan listrik.
Asia Tenggara sendiri mulai menjadi pasar penting bagi BYD, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Berdasarkan data berbagai asosiasi otomotif regional, penjualan mobil listrik di Asia Tenggara terus tumbuh dua digit dalam beberapa tahun terakhir seiring percepatan transisi energi dan dukungan kebijakan pemerintah terhadap kendaraan rendah emisi.
Fenomena kekurangan baterai yang dialami BYD juga mencerminkan ketatnya persaingan industri kendaraan listrik global. Sebelumnya sejumlah produsen otomotif dunia seperti Tesla dan Volkswagen juga pernah menghadapi tantangan serupa akibat tingginya permintaan baterai lithium dan rantai pasok material penting seperti nikel dan lithium.
Analis industri otomotif menilai kemampuan produsen mengamankan pasokan baterai kini menjadi faktor penentu dalam memenangkan persaingan kendaraan listrik global. Terutama ketika konsumen mulai mengutamakan teknologi pengisian cepat dan efisiensi daya sebagai fitur utama kendaraan masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar