periskop.id - Kemunculan Kawasaki Brusky di pasar Indonesia memunculkan rasa penasaran di kalangan penggemar otomotif. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengapa pada beberapa bagian motor tersebut masih terdapat tulisan “Modenas”. 

Bagi sebagian konsumen, hal ini terasa janggal karena Kawasaki dikenal sebagai merek Jepang yang memiliki sejarah panjang dalam industri sepeda motor global. Namun jika menelusuri lebih dalam, keberadaan nama Modenas justru menjadi bagian dari kisah kerja sama strategis yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Advertisement

Modenas merupakan singkatan dari Motosikal dan Enjin Nasional Sdn Bhd, perusahaan sepeda motor nasional Malaysia yang didirikan pada 1995. 

Kehadiran Modenas merupakan bagian dari upaya pemerintah Malaysia untuk membangun industri otomotif roda dua dalam negeri, mirip dengan peran Proton di sektor mobil.

Sejak awal berdiri, Kawasaki Heavy Industries menjadi mitra teknologi utama Modenas. Dukungan Kawasaki tidak hanya berupa transfer teknologi, tetapi juga mencakup pengembangan produk, proses manufaktur, hingga peningkatan kualitas produksi. Hubungan tersebut semakin erat ketika Kawasaki meningkatkan kepemilikan sahamnya di Modenas hingga sekitar 30%.

Berkat kerja sama tersebut, sejumlah motor Modenas menggunakan basis teknologi Kawasaki. Sebaliknya, Kawasaki juga memperoleh akses yang lebih kuat ke pasar Asia Tenggara melalui fasilitas produksi dan jaringan distribusi Modenas di Malaysia.

Mengapa Kawasaki Brusky Masih Bertuliskan Modenas?

Jawaban sederhananya adalah karena Kawasaki Brusky pada dasarnya berasal dari platform yang dikembangkan oleh Modenas.

Motor yang dipasarkan Kawasaki Motor Indonesia tersebut merupakan adaptasi dari Modenas Karisma 125S yang telah lebih dulu dijual di Malaysia. Oleh karena itu, beberapa komponen, cetakan bodi, hingga detail teknis masih mempertahankan identitas Modenas.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam industri otomotif global. Banyak pabrikan menggunakan strategi rebadge atau badge engineering, yaitu menjual produk yang sama dengan merek berbeda untuk pasar tertentu. Strategi tersebut memungkinkan biaya riset dan pengembangan ditekan, sekaligus mempercepat peluncuran produk baru.

Bagi Kawasaki, langkah ini juga menjadi cara yang relatif efisien untuk memasuki segmen skutik harian yang selama ini didominasi pemain besar seperti Honda dan Yamaha di Indonesia.

Kawasaki dan Tradisi Kolaborasi Global

Banyak orang menganggap seluruh motor Kawasaki lahir sepenuhnya dari pusat riset perusahaan di Jepang. Kenyataannya, Kawasaki memiliki sejarah panjang dalam menjalin kerja sama dengan berbagai produsen di dunia.

Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, Kawasaki menjalin hubungan erat dengan Bajaj Auto di India. Kerja sama tersebut melahirkan berbagai model yang diproduksi untuk pasar lokal India. Bahkan beberapa model Kawasaki di negara berkembang menggunakan basis produksi yang melibatkan fasilitas Bajaj.

Kolaborasi lain juga terjadi dengan Kymco dari Taiwan. Kymco pernah memproduksi mesin dan komponen tertentu untuk Kawasaki, terutama pada model skuter dan ATV yang dipasarkan di sejumlah negara.

Di Eropa, Kawasaki juga kerap berbagi pemasok dan jaringan produksi dengan perusahaan lain untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi dan distribusi.

Kawasaki-Buell: Kerja Sama yang Menarik Perhatian

Salah satu kolaborasi terbaru yang menarik perhatian industri adalah hubungan antara Kawasaki dan Buell.

Buell merupakan merek motor sport Amerika Serikat yang dikenal berkat desain unik dan performa tinggi. Setelah sempat mengalami berbagai perubahan kepemilikan dan restrukturisasi, Buell kembali bangkit dengan sejumlah proyek motor baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, Buell menjalin kerja sama dengan Kawasaki terkait pasokan mesin dan pengembangan teknologi tertentu. Salah satu proyek yang banyak dibicarakan adalah penggunaan mesin empat silinder Kawasaki sebagai basis pengembangan motor sport Buell generasi terbaru.

Kerja sama semacam ini menunjukkan bahwa bahkan produsen besar sekalipun kini semakin mengandalkan kolaborasi lintas negara untuk mengurangi biaya pengembangan produk yang semakin mahal akibat regulasi emisi, keselamatan, dan tuntutan teknologi modern.

Mengapa Industri Motor Semakin Sering Berkolaborasi?

Biaya pengembangan sepeda motor modern terus meningkat. Untuk menciptakan satu platform mesin baru, pabrikan dapat menghabiskan investasi ratusan juta dolar sebelum produk dijual ke konsumen.

Karena itu, banyak produsen memilih berbagi platform, mesin, hingga fasilitas produksi. Strategi ini telah dilakukan oleh berbagai merek besar seperti KTM dengan CFMOTO, BMW dengan TVS, Triumph dengan Bajaj, Harley-Davidson dengan Hero MotoCorp, hingga Kawasaki dengan Modenas.

Dalam banyak kasus, konsumen bahkan tidak menyadari bahwa motor yang mereka gunakan merupakan hasil kolaborasi beberapa perusahaan dari negara berbeda.

Kehadiran Kawasaki Brusky menunjukkan bagaimana strategi kolaborasi semakin penting dalam industri roda dua saat ini. Alih-alih mengembangkan skutik baru dari nol, Kawasaki memanfaatkan hubungan panjang dengan Modenas untuk menghadirkan produk yang lebih cepat ke pasar.

Bagi konsumen, pendekatan tersebut menawarkan keuntungan berupa produk yang telah teruji di pasar lain sekaligus didukung jaringan purnajual Kawasaki. Sementara bagi Kawasaki, langkah tersebut memungkinkan perusahaan memperluas portofolio produknya tanpa harus mengeluarkan biaya pengembangan yang sangat besar.