Periskop.id - Pariwisata telah menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sangat masif di tingkat dunia. 

Melansir Visual Capitalist, industri pariwisata global diproyeksikan bakal menyumbang angka fantastis sebesar US$11,7 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2025. Angka ini setara dengan sekitar 10 persen dari total output ekonomi seluruh dunia.

Meski demikian, signifikansi sektor ini tidak merata di setiap negara. Bagi beberapa negara maju dengan industri manufaktur atau jasa keuangan yang kuat, pariwisata mungkin hanya dianggap sebagai pendapatan tambahan. 

Namun, bagi banyak negara lain, sektor ini adalah pilar utama yang menopang aktivitas ekonomi nasional dan lapangan kerja.

Peta Kekuatan Pariwisata di Kawasan ASEAN

Di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN, ketergantungan terhadap kunjungan wisatawan mancanegara terlihat sangat kontras. 

Berdasarkan data penerimaan pariwisata internasional dari UN Tourism yang disandingkan dengan data PDB dari IMF, Thailand menduduki posisi puncak sebagai negara yang paling bergantung pada pariwisata di kawasan ini.

Berikut adalah rincian peringkat negara-negara anggota ASEAN  berdasarkan pangsa pariwisata terhadap PDB mereka:

Peringkat DuniaNegaraPangsa Pariwisata terhadap PDB (%)
41Thailand8,8%
44Kamboja8,5%
48Laos7,0%
57Malaysia5,8%
68Singapura4,4%
77Myanmar3,3%
82Timor Leste3,2%
102Filipina2,4%
116Brunei Darussalam1,9%
138Indonesia1,3%
189Vietnam0,0%*

Sebagai catatan, angka pariwisata Vietnam berada jauh di bawah 1%, sehingga dalam pembulatan data ini tampak sebagai 0,0%.

Analisis Posisi Indonesia dan Thailand

Thailand, yang berada di peringkat 41 dunia, mencatatkan kontribusi pariwisata sebesar 8,8% terhadap PDB. Hal ini tidak mengherankan mengingat strategi promosi "Land of Smiles" yang sangat agresif serta infrastruktur pendukung wisata yang sangat matang. 

Kamboja menyusul ketat di posisi kedua wilayah regional dengan 8,5%, yang sebagian besar didorong oleh wisata sejarah seperti kompleks Angkor Wat.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Meskipun dikenal memiliki destinasi kelas dunia seperti Bali, Labuan Bajo, dan Raja Ampat, Indonesia ternyata berada di peringkat 138 dunia dengan kontribusi pariwisata sebesar 1,30% terhadap PDB.

Penjelasan logis di balik angka ini bukan berarti pariwisata Indonesia tidak laku, melainkan karena struktur ekonomi Indonesia yang sangat besar dan terdiversifikasi. PDB Indonesia banyak ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga, manufaktur, serta ekspor komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit. 

Hal ini membuat persentase pariwisata terlihat kecil jika dibandingkan dengan total keseluruhan ekonomi nasional, berbeda dengan negara yang skala ekonominya lebih kecil namun fokus pada satu sektor jasa.

Data di atas juga menunjukkan bahwa pariwisata tetap menjadi "napas" bagi ekonomi di Indochina seperti Thailand, Kamboja, dan Laos. 

Sementara bagi negara dengan sumber daya alam melimpah atau pusat finansial seperti Brunei, Singapura, dan Indonesia, pariwisata berperan sebagai penyeimbang ekonomi yang potensinya masih terus digali untuk meningkatkan devisa negara di masa depan.