Periskop.id - Bayangan umum kita tentang gurun Sahara mungkin hanya sesederhana “gurun terluas di dunia” dengan kekeringan terik yang tak terbayangkan. Lalu sekarang bayangkan sebuah kereta api yang melintasi gurun ini. 

Inilah Le Train du Désert, Kereta Gurun, atau lebih dikenal sebagai Iron Ore Train Mauritania. Salah satu pengalaman perjalanan paling ekstrem, paling liar, dan paling mengesankan yang bisa kita rasakan di muka bumi ini.

Aslinya kereta ini bukan lahir untuk turis. Kereta ini adalah urat nadi ekonomi Mauritania, sebuah negara Afrika Barat yang sebagian besar wilayahnya adalah hamparan gurun.

Dioperasikan oleh SNIM (Société Nationale Industrielle et Minière), perusahaan tambang milik negara, kereta ini bertugas mengangkut jutaan ton bijih besi setiap tahun dari kota tambang Zouérat di pedalaman Sahara menuju pelabuhan Nouadhibou di pesisir Atlantik. Jarak yang harus ditempuh kereta ini sekitar 704 kilometer, melintasi salah satu lanskap paling gersang dan terpencil di gurun Sahara.

Rute ini hanya memiliki tiga titik pemberhentian: Zouérat, Choum, dan Nouadhibou. Di antara ketiganya kita hanya akan bertemu dengan lautan pasir yang membelah cakrawala.

Benar-Benar Kereta Terpanjang di Dunia

Bukan hiperbola atau klaim marketing wisata. Ketika semua gerbong terpasang penuh, kereta ini bisa mencapai panjang hingga 3 kilometer dengan lebih dari 200 gerbong. 

Masing-masing gerbong mampu memuat hingga 84 ton bijih besi. Berat secara totalnya bisa melampaui 20.000 ton, di mana untuk menggerakkan monster ini dibutuhkan beberapa lokomotif diesel-elektrik yang bekerja beriringan, menderu melewati tanjakan dan tikungan di medan gurun yang keras.

Ketika kereta ini lewat, kamu perlu menunggu hampir tiga menit hanya untuk melihatnya berlalu sepenuhnya.

Cara Naik: Gratis, Tapi Bukan Tanpa Harga

Inilah bagian yang membuat para pelancong petualang seluruh dunia rela terbang jauh-jauh ke Afrika Barat di mana siapa pun bisa naik kereta ini secara gratis, dengan cara memanjat dan duduk di atas tumpukan bijih besi di dalam gerbong terbuka.

Perjalanan kereta terpanjang tanoa tiket dan nomor bangku. Yang ada adalah gundukan bijih besi setinggi lutut, langit terbuka di atas kepala kita dan angin Sahara yang menghantam wajah selama 20 jam perjalanan.

Memang ada gerbong penumpang berbayar yang tersedia, dan itupun hanya sekitar US$5 (Rp89 ribu) namun mayoritas pelancong memilih naik ke gerbong bijih besi. Bukan karena pelit, melainkan karena di gerbong inilah pemandangan dan pengalaman terbaik yang bisa ditawarkan Iron Ore Train Mauritania. Hamparan Sahara yang tak bertepi, langit bintang malam yang mustahil indah, dan sesekali mungkin papasan dengan Badui gurun yang melambaikan tangan dari kejauhan.

Iron Ore Train Mauritania. Dok. Seeafricatoday.com

Sebagai catatan, sejak 2024, berkendara di atas gerbong bijih besi secara teknis dikategorikan ilegal oleh otoritas setempat. Namun dalam praktiknya, turis masih terus naik ke gerbong, terutama oleh warga lokal yang menggunakan kereta ini sebagai transportasi sehari-hari.

"Bus" bagi Warga Lokal

Bagi para pelancong asing, ini adalah bucket list. Tapi bagi ribuan warga Mauritania yang tinggal di sepanjang jalur rel, kereta ini adalah satu-satunya transportasi yang tersedia. 

Mereka naik membawa barang dagangan, hasil laut dari Nouadhibou, bahkan ternak dan unta. Tidak ada jalan raya yang menghubungkan kota-kota di pedalaman ini secara langsung, Iron Ore Train Mauritania adalah penghubung hidup mereka.

Itulah mengapa suasana di dalam gerbong bisa sangat hidup: percakapan dalam bahasa Hassaniya bercampur dengan suara ternak, aroma teh mint yang dibawa penumpang, dan tawa anak-anak yang bermain di antara tumpukan besi.

Siang yang Memukau, Malam yang Menggigil

Perjalanan siang hari adalah surga visual. Dari atas gundukan bijih besi, kamu bisa menatap cakrawala Sahara yang luar biasa luas, lautan pasir keemasan yang berombak, siluet bukit batu, dan awan yang bergerak lambat di langit yang terasa sangat dekat. 

Sesekali, badai pasir bisa menjadi hal yang menakutkan bagi wisatawan yang tak terbiasa. Namun ketika matahari terbenam, kisahnya berubah. 

Suhu bisa anjlok drastis dari terik 40-an derajat Celsius di siang hari menjadi dingin menggigil di bawah 15 derajat Celsius. Angin yang tadinya terasa sepoi kini berubah jadi cambukan. Debu bijih besi yang halus menempel di pakaian, di alis, di dalam hidung. Waja kita akan hitam total sebelum perjalanan selesai.

Tapi di atas semua itu, ada satu hal yang membuat semua orang melupakan rasa tidak nyaman, langit malam Sahara. Tanpa polusi cahaya sejauh ratusan kilometer kita sangat mungkin melihat langit tercerah dengan jutaan bintang yang belum pernah kita temukan di belahan dunia manapun.

Pelancong bersiap naik ke kereta di Zouerat. Dok. Offbeattravelling.com

Persiapan Perjalanan

Kereta bijih besi bukan perjalanan sembarangan. Para traveler profesional merekomendasikan beberapa perlengkapan wajib yang harus kita bawa untuk jadi standar nyaman menumpangi Iron Ore Train Mauritania.

  • Googles tertutup, debu bijih besi halus bisa melukai mata tanpa pelindung
  • Masker wajah rangkap, satu masker kain, satu masker medis. Ganti masker medis berkali-kali sepanjang perjalanan
  • Selimut tebal atau sleeping bag 
  • Syal atau keffiyeh untuk menutup kepala, leher, dan wajah
  • Snack dan air yang cukup, tidak ada warung di tengah Sahara. 
  • Alas duduk/tikar, duduk langsung di bijih besi selama 15 jam bisa penyiksaan punggung

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah November hingga April, musim dingin Sahara saat suhu siang hari masih bisa ditoleransi dan malam tidak terlalu ekstrem.

Menunggu adalah Bagian dari Petualangan

Tidak ada jadwal yang bisa dipegang. Kereta berangkat ketika gerbong-gerbong penuh terisi bijih besi dan mengisi lebih dari 200 gerbong butuh waktu yang tidak pasti. 

Para pelancong yang memilih naik dari Choum (titik tengah yang paling populer) kerap menunggu 6 hingga 12 jam di bawah terik matahari.

Taktik terbaik yang bisa dilakukan adalah bertanya kepada warga lokal di stasiun. Mereka selalu mendapat informasi terkini dari kerabat di tambang melalui pesan singkat. Mereka tahu lebih awal dari siapa pun.

Sebagai catatan juga, Mauritania adalah salah satu negara paling jarang dikunjungi di Afrika dan justru itu yang membuatnya menarik. Sebelum menaiki kereta legendaris ini, banyak pelancong menyempatkan diri menjelajahi Chinguetti (kota kuno UNESCO di tengah gurun), Atar, atau oasis Terjit yang tersembunyi di antara tebing batu. Visa on arrival tersedia bagi banyak negara, termasuk negara-negara ASEAN. Dari Indonesia sendiri, rute paling umum adalah terbang ke Casablanca atau Dakar, lalu lanjut ke Nouadhibou atau Nouakchott.