Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru dari Perpustakaan Nasional yang memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi literasi di tanah air. 

Berdasarkan laporan tersebut, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat Indonesia pada 2025 secara nasional tercatat berada pada angka 54,80. Angka ini mencerminkan kondisi aktual bagaimana masyarakat berinteraksi dengan bahan bacaan di tengah derasnya arus informasi digital.

Berdasarkan Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 9 Tahun 2025, TKM didefinisikan sebagai suatu ukuran nilai yang menggambarkan kondisi kegemaran membaca masyarakat baik pada tingkat nasional, provinsi, hingga kabupaten dan kota. 

Pengukuran ini menjadi sangat krusial karena berfungsi sebagai instrumen untuk mengidentifikasi motivasi dan minat baca, dasar perumusan kebijakan pembudayaan literasi, serta sarana evaluasi dalam rangka meningkatkan kecerdasan literasi masyarakat secara luas.

Nusa Tenggara Timur Pimpin Daftar 10 Provinsi Tertinggi

Data TKM tahun 2025 menunjukkan adanya sebaran minat baca yang cukup menarik di berbagai wilayah Indonesia. Secara mengejutkan, wilayah Indonesia bagian timur menunjukkan performa yang sangat impresif dalam hal kegemaran membaca. 

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) secara resmi menduduki peringkat pertama sebagai wilayah dengan TKM tertinggi di Indonesia dengan skor mencapai 62,05.

Keunggulan NTT disusul oleh tetangganya, Nusa Tenggara Barat, yang berada di posisi kedua. Berikut adalah daftar lengkap 10 provinsi dengan Tingkat Kegemaran Membaca tertinggi pada tahun 2025:

  1. Nusa Tenggara Timur: 62,05
  2. Nusa Tenggara Barat: 61,19
  3. Sumatera Selatan: 60,86
  4. Maluku Utara: 60,66
  5. Kalimantan Barat: 59,85
  6. Sulawesi Selatan: 59,84
  7. Sulawesi Tengah: 59,51
  8. Sumatera Barat: 59,42
  9. Sumatera Utara: 59,36
  10. Kepulauan Riau: 59,33

Daftar tersebut menunjukkan bahwa semangat membaca tidak lagi hanya terpusat di wilayah tertentu, namun telah tersebar secara signifikan dari Sumatera hingga ke Sulawesi dan Kepulauan Maluku.

Metode Pengukuran

Pengukuran TKM tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui kerangka dimensi yang sangat detail mencakup fase prambaca, fase saat membaca, hingga fase pascamembaca. 

Pada fase prambaca, terdapat variabel motivasi membaca yang mengukur minat intrinsik serta variabel akses yang menyoroti ketersediaan bahan bacaan dan durasi membaca masyarakat. Selain itu, faktor pembelajaran sosial seperti keteladanan orang tua dan pengaruh teman sebaya juga menjadi indikator penting dalam fase ini.

Memasuki fase saat membaca, penilaian difokuskan pada perilaku membaca seperti strategi pemahaman dan interaksi dengan teks, serta literasi sosial yang mencakup diskusi teks dan kolaborasi membaca. Hal ini bertujuan untuk melihat bagaimana masyarakat mengolah informasi yang mereka dapatkan dari buku atau media lainnya.

Terakhir, pada fase pascamembaca, variabel yang diukur adalah dampak nyata dari kegiatan membaca tersebut. Indikator yang digunakan meliputi perkembangan kognitif, sosial, serta emosional pembaca. Harapannya, nilai tambah yang diperoleh dapat memberikan ekspektasi kognitif yang lebih baik bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan masa depan.