periskop.id - Kasus wabah hantavirus menjadi perhatian global setelah insiden yang terjadi pada kapal ekspedisi MV Hondius di Samudra Atlantik pada 2026. Wabah ini dilaporkan menyebabkan beberapa kematian dan infeksi serius di antara penumpang serta awak kapal. 

Organisasi kesehatan dunia menilai kasus ini unik karena terjadi di lingkungan tertutup seperti kapal ekspedisi, yang biasanya lebih identik dengan wabah penyakit seperti norovirus atau COVID-19.

Dalam investigasi awal, para ahli menduga sumber infeksi tidak sepenuhnya berasal dari kapal itu sendiri, melainkan kemungkinan terjadi saat aktivitas darat (shore excursion) di wilayah Amerika Selatan, tempat virus ini lebih umum ditemukan. Namun, ada pula indikasi langka bahwa penularan antarmanusia mungkin terjadi dalam kasus ini, terutama pada varian tertentu seperti Andes virus.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama oleh hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, termasuk Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memengaruhi ginjal.

Menurut lembaga kesehatan global dan riset epidemiologi, hantavirus tergolong penyakit langka tetapi memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi, terutama jika tidak ditangani secara cepat. 

Studi juga menunjukkan bahwa penyebaran virus ini berkaitan erat dengan populasi hewan pengerat dan kondisi lingkungan tertentu, seperti perubahan iklim dan ekosistem.
Dalam kasus wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius, jumlah korban yang tercatat (berdasarkan laporan terbaru dari WHO dan media internasional) adalah:

  • Total kasus: sekitar 7 orang (2 terkonfirmasi + 5 suspek)
  • Korban meninggal: 3 orang penumpang
  • Kondisi kritis: setidaknya 1 orang dirawat intensif
  • Kasus lainnya: beberapa mengalami gejala ringan hingga sedang

Sumber Wabah di Kapal Ekspedisi

Dalam kasus kapal ekspedisi MV Hondius, sumber wabah hantavirus masih dalam penyelidikan. Namun, beberapa kemungkinan utama telah diidentifikasi:

  1. Paparan lingkungan sebelum naik kapal
    Penumpang diduga terpapar virus saat berkunjung ke wilayah endemik seperti Argentina atau Chile, di mana varian Andes virus cukup umum ditemukan.
  2. Kontaminasi oleh hewan pengerat
    Virus dapat bertahan pada permukaan yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus. Dalam kondisi tertentu, area kapal atau pelabuhan bisa menjadi titik paparan.
  3. Kemungkinan penularan antarmanusia (langka)
    Berbeda dari sebagian besar hantavirus, varian Andes diketahui dapat menular antar manusia melalui kontak dekat, meskipun kasusnya sangat jarang.

Lingkungan kapal yang tertutup dan padat juga memperbesar risiko penyebaran penyakit, terutama jika deteksi awal terlambat.

Cara Penularan Hantavirus

Secara umum, hantavirus tidak menyebar seperti virus flu atau COVID-19. Cara penularannya lebih spesifik, yaitu:

  • Menghirup partikel udara yang terkontaminasi dari kotoran atau urin tikus
  • Kontak langsung dengan permukaan yang terinfeksi
  • Gigitan hewan pengerat (jarang terjadi)
  • Dalam kasus tertentu (varian Andes), melalui kontak erat antar manusia

Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa aktivitas seperti membersihkan area yang terkontaminasi tanpa perlindungan dapat meningkatkan risiko infeksi. Oleh karena itu, pencegahan utama adalah menghindari paparan terhadap hewan pengerat dan menjaga kebersihan lingkungan.

Kasus hantavirus di kapal ekspedisi menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis yang berasal dari hewan, masih menjadi ancaman global. Meski risiko bagi masyarakat umum dinilai rendah, insiden ini menunjukkan bahwa mobilitas internasional dan wisata lintas negara dapat mempercepat penyebaran penyakit langka.