Periskop.id - Daftar Fortune Southeast Asia 500 tahun ini memperlihatkan wajah ekonomi Asia Tenggara yang bergerak dinamis. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan besar kawasan masih mampu mencatat pertumbuhan pendapatan. 

Di sisi lain, sejumlah tekanan global mulai membayangi prospek bisnis, mulai dari kebijakan tarif Amerika Serikat hingga kenaikan harga energi akibat perang di Iran.

Advertisement

Southeast Asia 500 merupakan peringkat tahunan Fortune terhadap perusahaan-perusahaan terbesar di Asia Tenggara berdasarkan pendapatan. Daftar ini melihat kinerja perusahaan berdasarkan pendapatan 2025, sehingga menjadi gambaran penting tentang kekuatan korporasi di kawasan pada tahun sebelumnya.

Dalam daftar tahun ini, perusahaan-perusahaan Southeast Asia 500 mencatat total pendapatan sebesar US$1,88 triliun. Angka tersebut naik 3,4% dibandingkan daftar 2025 yang berada di level US$1,82 triliun.

Pertumbuhan itu terjadi di tengah kekhawatiran bahwa tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump dapat berdampak tidak proporsional terhadap ekonomi negara-negara ASEAN. Namun, secara umum perusahaan besar di Asia Tenggara masih menunjukkan daya tahan.

Total keuntungan perusahaan dalam daftar ini mencapai US$150 miliar. Dengan angka tersebut, kawasan Asia Tenggara mencatat margin bersih sekitar 8%. Fortune mencatat, keuntungan ini sebagian besar didorong oleh restrukturisasi perusahaan dan sebagian lainnya terbantu oleh kondisi ekonomi yang mendukung.

Thailand dan Indonesia Punya Perusahaan Terbanyak

Dari sisi jumlah perusahaan, Thailand dan Indonesia menjadi dua negara dengan kontribusi terbesar dalam daftar Fortune Southeast Asia 500.

Thailand menempati posisi pertama dengan 105 perusahaan. Indonesia berada sangat dekat di posisi kedua dengan 104 perusahaan. Selisih keduanya hanya satu perusahaan, sehingga menunjukkan besarnya skala korporasi dari kedua negara tersebut dalam ekonomi Asia Tenggara.

Meski Thailand dan Indonesia memimpin dari sisi jumlah perusahaan, Singapura menjadi negara paling dominan dari sisi pendapatan. Perusahaan-perusahaan asal Singapura dalam daftar Southeast Asia 500 membukukan pendapatan US$657,5 miliar.

Angka itu setara hampir 35% dari total pendapatan seluruh perusahaan dalam daftar. Artinya, meski jumlah perusahaan Singapura lebih sedikit dibanding Thailand, Indonesia, dan Malaysia, nilai pendapatan korporasinya jauh lebih besar.

Thailand Tampilkan Dua Cerita Kebangkitan

Thailand menunjukkan dua kisah kebangkitan bisnis yang mencolok dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 tahun ini.

Thai Airways International, yang berada di peringkat 67, berhasil bangkit setelah keluar dari perlindungan kebangkrutan pada 2025. Perusahaan penerbangan itu juga kembali tercatat di Bursa Saham Thailand pada tahun yang sama.

Kinerja keuangannya berbalik drastis. Thai Airways berubah dari rugi US$764 juta menjadi untung US$941 juta. Perubahan ini menjadi salah satu contoh restrukturisasi perusahaan yang berdampak besar terhadap profitabilitas.

Kisah kebangkitan lainnya datang dari True Corp. Perusahaan yang berada di peringkat 62 ini kembali mencatat keuntungan setelah sebelumnya menanggung kerugian besar akibat proses merger pada 2024.

Perusahaan Indonesia Catat Lonjakan Peringkat Terbesar

Dari Indonesia, perusahaan pembuat perhiasan emas Hartadinata Abadi menjadi salah satu sorotan utama. Perusahaan ini mencatat lonjakan terbesar dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 tahun ini.

Hartadinata Abadi naik 115 peringkat ke posisi 129. Kenaikan tersebut bukan didorong oleh lonjakan volume penjualan, melainkan oleh tingginya harga emas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga komoditas dapat memberi dampak besar terhadap kinerja perusahaan, terutama bagi emiten yang bergerak di sektor berbasis logam mulia.

Vietnam Jadi Sorotan Utama

Meski Singapura unggul dari sisi pendapatan dan Thailand serta Indonesia memimpin dari sisi jumlah perusahaan, Vietnam menjadi negara yang paling mencuri perhatian dalam daftar tahun ini.

Perusahaan-perusahaan Vietnam dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 mencatat pendapatan US$177,9 miliar. Angka ini naik 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan Vietnam tersebut tiga kali lipat lebih cepat dibandingkan rata-rata regional. Dalam daftar Fortune tahun ini, pertumbuhan pendapatan Vietnam menjadi yang tercepat dibandingkan negara lain, kecuali Kamboja yang basis ekonominya jauh lebih kecil.

Secara keseluruhan, Vietnam menyumbang sekitar seperempat dari pertumbuhan pendapatan Southeast Asia 500 tahun ini. Padahal, Vietnam hanya mewakili kurang dari 10% dari total basis pendapatan dalam daftar tersebut.

Data ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Vietnam sedang tumbuh cepat dan mulai mengambil peran lebih besar dalam lanskap korporasi Asia Tenggara.

Salah satu contoh paling menonjol dari Vietnam adalah Vingroup. Perusahaan yang berada di peringkat 26 itu mencatat lonjakan pendapatan sebesar 69% menjadi US$12,8 miliar.

Kinerja tersebut membuat Vingroup menjadi satu-satunya perusahaan dalam 50 besar Fortune Southeast Asia 500 dengan pertumbuhan tercepat.

Peran Vingroup sebagai juara nasional Vietnam juga semakin kuat. Pada 2025, Politbiro Vietnam menempatkan sektor swasta sebagai kekuatan penggerak terpenting bagi ekonomi negara tersebut.

Kebijakan itu memberi sinyal bahwa Vietnam semakin mendorong peran perusahaan swasta besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, Vingroup menjadi salah satu simbol penting dari perubahan tersebut.

Singapura Unggul dari Sisi Keuntungan

Jika Vietnam menjadi cerita besar dari sisi pertumbuhan pendapatan, Singapura tetap menjadi pusat kekuatan dari sisi keuntungan.

Tiga bank besar Singapura, yakni DBS Group, OCBC, dan UOB, kembali menjadi perusahaan paling menguntungkan di kawasan. DBS bahkan tetap berada di peringkat pertama dalam daftar profitabilitas dengan keuntungan US$8,4 miliar.

Dominasi bank-bank Singapura menunjukkan kuatnya sektor keuangan negara tersebut dalam peta bisnis Asia Tenggara. Sektor perbankan Singapura selama ini dikenal memiliki jaringan regional yang luas, tata kelola kuat, dan basis nasabah korporasi yang besar.

Selain sektor perbankan, sejumlah perusahaan Singapura juga mencatat lonjakan laba yang besar. Fortune mencatat lima perusahaan Singapura masuk dalam kelompok dengan kenaikan profitabilitas terbesar.

Salah satunya adalah Sea, perusahaan yang berada di peringkat 12. Keuntungan Sea hampir berlipat menjadi US$1,58 miliar. Kinerja ini ditopang oleh tiga mesin utama bisnisnya, yakni Shopee, Monee, dan Garena, yang seluruhnya mencatat keuntungan rekor.

Daftar Jumlah Perusahaan dan Pendapatan per Negara

Berikut rincian jumlah perusahaan dan pendapatan dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 berdasarkan negara:

NegaraJumlah PerusahaanPendapatan (Miliar US$)
Thailand105358,2
Indonesia104321,8
Malaysia93214,9
Singapura82657,5
Vietnam72177,9
Filipina42146,1
Kamboja21,7