Periskop.id - Harga sejumlah komoditas hortikultura di Jakarta kembali mengalami kenaikan pada Mei 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut tingginya curah hujan di daerah sentra produksi, menjadi salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga, terutama pada komoditas cabai.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok mengatakan, cuaca ekstrem membuat produksi hortikultura menurun akibat kualitas tanaman yang terganggu dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Kenaikan harga komoditas hortikultura tersebut disebabkan kondisi curah hujan yang masih tinggi di daerah produsen mengakibatkan penurunan produksi akibat penurunan kualitas dan meningkatnya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT),” kata Hasudungan di Jakarta, Rabu (20/5).
Berdasarkan pemantauan harga pangan pada pekan kedua Mei 2026, cabai rawit merah menjadi komoditas dengan kenaikan paling tinggi di Jakarta. Harga cabai rawit merah melonjak 12,12%atau naik Rp8.689 per kilogram dari sebelumnya Rp71.664 menjadi Rp80.354 per kilogram.
Selain cabai rawit merah, sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan. Harga cabai merah keriting naik 5,61% dari Rp52.117 menjadi Rp55.103 per kilogram. Bawang merah meningkat 3,96% dari Rp52.615 menjadi Rp54.697 per kilogram.
Sementara itu, cabai merah besar tercatat naik 3,84%dari Rp60.069 menjadi Rp62.375 per kilogram. Adapun cabai rawit hijau meningkat 3,05% dari Rp58.166 menjadi Rp59.939 per kilogram.
Peningkatan Permintaan
Menurut Hasudungan, kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca, tetapi juga meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
“Selain karena curah hujan, terjadi peningkatan permintaan pasar menjelang perayaan Hari Idul Adha yang menyebabkan kenaikan harga komoditas cabai dan bawang,” ujarnya.
Kondisi cuaca memang menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian nasional sepanjang 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat sejumlah wilayah sentra produksi pangan masih mengalami intensitas hujan tinggi meski sebagian daerah telah memasuki masa peralihan musim.
Curah hujan yang tinggi dapat memicu pembusukan tanaman hortikultura, menurunkan produktivitas panen, hingga meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman. Komoditas cabai termasuk yang paling rentan mengalami gangguan produksi akibat perubahan cuaca ekstrem.
Kementerian Pertanian sebelumnya juga mengingatkan, fluktuasi harga cabai dan bawang umumnya terjadi menjelang hari besar keagamaan nasional karena permintaan rumah tangga dan pelaku usaha kuliner meningkat signifikan.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), cabai merah dan bawang merah memang menjadi komoditas yang paling sering mengalami gejolak harga di berbagai daerah Indonesia karena sangat dipengaruhi faktor cuaca dan distribusi.
Pemprov DKI Jakarta memastikan terus memantau perkembangan harga pangan di pasar serta berkoordinasi dengan daerah pemasok guna menjaga stabilitas pasokan menjelang Idul Adha.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyiapkan berbagai langkah pengendalian inflasi pangan, termasuk memperkuat distribusi komoditas dan mengoptimalkan kerja sama antardaerah penghasil pangan.
Kenaikan harga cabai sendiri sebelumnya juga sempat terjadi di sejumlah kota besar lain di Indonesia akibat gangguan produksi di sentra pertanian Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang menjadi pemasok utama kebutuhan cabai nasional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar