Periskop.id - Siapa sih di antara kita yang tak kenal dengan crop top? Atasan dengan potongan pendek yang super modis ini sudah lama menjadi andalan banyak perempuan untuk tampil kasual, trendi, sekaligus berani memamerkan pesona diri.
Mengenakan crop top rasanya memang selalu sukses memberikan kesan yang berjiwa muda, modis, dan sedikit menyenangkan. Namun, di balik tampilannya yang sangat kekinian dan melekat erat dengan gaya hidup modern, gaya berpakaian yang satu ini ternyata menyimpan cerita yang luar biasa lantaran sudah eksis sejak ratusan tahun yang lalu.
Bila melihat definisinya secara umum, crop top merupakan jenis atasan yang dirancang dengan potongan pendek sehingga memperlihatkan area pinggang, pusar, atau bagian bawah dada.
Variasi panjangnya pun sangat beragam, mulai dari yang menggantung sedikit di atas pusar hingga yang berpotongan sangat ekstrem hingga nyaris menyentuh garis bawah dada.
Modelnya juga tak kalah bervariasi karena kini sudah diadaptasi ke berbagai jenis pakaian, mulai dari kaos santai untuk bersantai, tank top sporty untuk berolahraga, blus yang elegan, bahkan hingga atasan formal untuk acara resmi.
Lahir dari Budaya Kuno di Wilayah Beriklim Panas
Jauh sebelum bertransformasi menjadi salah satu tren mode yang diadopsi secara global, crop top sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat di negara-negara yang beriklim panas, terutama di wilayah belahan bumi bagian timur.
Di India, masyarakat mengenal choli, yaitu atasan pendek khas yang biasanya dipadukan dengan kain sari. Sementara itu, pada zaman Yunani kuno, para wanita kerap mengenakan chiton, sejenis pakaian yang dililit sedemikian rupa dan sering kali memperlihatkan bagian tengah tubuh mereka.
Bagi banyak budaya tradisional, pilihan menggunakan atasan pendek ini murni didasarkan pada faktor kenyamanan agar tubuh tetap terasa sejuk di tengah cuaca yang menyengat.
Perjalanan crop top untuk bisa dikenal oleh masyarakat di belahan dunia Barat sendiri dimulai pada akhir tahun 1800-an. Pakaian ini pertama kali diperkenalkan melalui penampilan memukau para penari perut dalam ajang bergengsi World’s Fair yang diselenggarakan di Chicago pada 1893.
Para penari tersebut tampil mengenakan bedlah, sebuah kostum tari tradisional yang terdiri dari bra dan rok atau celana yang didesain sedemikian rupa sehingga memperlihatkan area perut.
Kostum bedlah ini awalnya dirancang oleh seorang seniman berbakat asal Mesir yang bernama Badia Masabni dengan tujuan utama untuk menarik perhatian para turis.
Kendati demikian, gaya busana yang berani ini sempat memicu kontroversi dan dianggap kurang pantas oleh masyarakat Barat yang pada masa itu masih memegang teguh norma berpakaian yang sangat konservatif.
Pengaruh Perang Dunia Hingga Menjadi Simbol Pergerakan Perempuan
Memasuki era 1940 hingga 1950-an, pandangan dunia Barat terhadap crop top perlahan-lahan mulai bergeser ke arah yang lebih positif.
Ketika Perang Dunia II berkecamuk, pasokan bahan pakaian menjadi sangat terbatas akibat adanya kebijakan pembatasan fungsional. Dalam kondisi yang serba terbatas tersebut, crop top mendadak hadir sebagai solusi model busana yang sangat tepat, efisien, dan sederhana untuk menghemat penggunaan kain atau tekstil.
Sejak saat itulah, masyarakat mulai lazim mengenakan crop top untuk menghadiri acara-acara santai, seperti saat berlibur ke pantai dengan memadukannya bersama rok atau celana yang berpotongan pinggang tinggi.
Memasuki dekade 1960-an hingga 1970-an, posisi crop top dalam dunia mode mengalami kenaikan kelas yang sangat signifikan karena resmi diangkat menjadi simbol feminisme.
Gaya berpakaian ini dinilai berhasil merepresentasikan kebebasan berekspresi bagi kaum perempuan sekaligus menjadi bentuk perlawanan terhadap standar berpakaian lama yang dianggap terlalu kaku dan mengekang.
Popularitasnya semakin tak terbendung pada era 1980-an ketika penyanyi legendaris dunia seperti Madonna mengadopsi crop top sebagai bagian iconic dari gaya panggungnya yang eksentrik.
Evolusi Global Menuju Era yang Lebih Inklusif
Tren ini mencapai puncaknya pada dekade 1990-an ketika crop top semakin digandrungi oleh generasi muda di seluruh dunia.
Ikon-ikon musik pop ternama pada masa itu, sebut saja seperti Britney Spears hingga grup vokal Spice Girls, kerap mengenakan atasan pendek ini dalam berbagai video musik maupun konser megah mereka. Fenomena tersebut sukses membuat eksistensi crop top melekat kuat di dalam budaya populer dan menjadi identitas busana anak muda.
Dari awal 2000-an hingga saat ini, crop top terus mengalami evolusi desain yang luar biasa kreatif, mulai dari yang bernuansa sporty hingga yang bernuansa kasual.
Menariknya, crop top kini juga hadir dengan konsep yang jauh lebih inklusif dan ramah untuk siapa saja, tanpa perlu lagi memandang batasan bentuk tubuh maupun gender tertentu.
Di sejumlah negara yang memiliki budaya berpakaian sangat bebas, seperti di Amerika Serikat dan berbagai negara di kawasan Eropa, penggunaan crop top bahkan sudah dianggap sangat lumrah untuk dikenakan saat menghadiri acara-acara yang sifatnya formal.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar