Periskop.id - Selama berpuluh-puluh tahun, arah kebijakan pangan di Indonesia cenderung bertumpu pada satu tujuan utama, yaitu menjaga stabilitas harga beras.
Strategi ini memang dinilai sukses dalam jangka pendek karena efektif menekan laju inflasi serta menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah.
Namun, fokus yang terlalu besar pada satu komoditas ini menyisakan efek samping berupa struktur sektor pertanian yang kurang lincah dalam menghadapi perubahan ekonomi jangka panjang.
Fenomena tersebut diulas secara mendalam dalam sebuah working paper yang dipublikasikan oleh LPEF FEB UI dengan judul From Rice-Based Stabilization to a Connected Food System: Rethinking Agricultural Transformation in Indonesia.
Kajian ini menyoroti bahwa kebijakan yang terlalu berfokus pada produksi pangan pokok secara tidak langsung telah membatasi diversifikasi sektor pertanian dan menghambat kemampuan produksi domestik untuk beradaptasi dengan pola permintaan masyarakat yang terus berubah.
Urbanisasi dan Modernisasi Pola Konsumsi
Dalam beberapa dekade terakhir, arus urbanisasi dan peningkatan pendapatan telah mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. Konsumen masa kini menuntut pilihan makanan yang lebih beragam, berkualitas, aman, serta praktis.
Perubahan perilaku ini mendorong pertumbuhan sistem pangan modern yang mencakup industri pengolahan, rantai pasok yang terorganisir, hingga jaringan ritel modern.
Sayangnya, produksi pertanian domestik dianggap belum mampu mengejar kecepatan perubahan tersebut. Muncul kesenjangan antara permintaan pasar dengan apa yang mampu diproduksi di dalam negeri, sehingga celah ini sering kali diisi oleh produk impor, terutama untuk produk olahan dan komoditas bernilai tambah tinggi.
Permintaan penduduk kota yang seharusnya menjadi motor penggerak produksi lokal justru berujung pada ketergantungan impor.
Belajar dari Kelincahan Ekosistem Gandum
Kajian LPEF FEB UI memberikan ilustrasi menarik melalui komoditas gandum. Meskipun seluruh kebutuhan gandum dipenuhi melalui impor, komoditas ini berhasil memainkan peran penting sebagai penghubung atau connector dalam rantai pasok nasional.
Gandum berhasil mengintegrasikan rantai pasok global dengan industri pengolahan domestik dan konsumsi masyarakat urban.
Di Indonesia, gandum diolah menjadi tepung terigu yang kemudian menjadi bahan dasar mi instan, roti, hingga makanan siap saji.
Struktur ini membuat gandum memiliki keunggulan karena selaras dengan transformasi permintaan konsumen dan berkontribusi pada stabilitas sistem pangan melalui integrasi agroindustri.
Sebaliknya, komoditas lokal seperti sorgum, sagu, singkong, dan jagung dinilai masih terjebak dalam rantai pasok tradisional.
Komoditas ini menghadapi berbagai kendala mulai dari keterbatasan pengolahan, lemahnya standardisasi kualitas, hingga sulitnya menembus jaringan ritel modern seperti supermarket dan minimarket. Persoalan utamanya bukan sekadar kalah saing dengan produk impor, melainkan kalah dalam hal sistem.
Pelajaran dan Strategi Transformasi Lokal
LPEF FEB UI menekankan bahwa gandum tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai acuan atau benchmark untuk membangun sistem pangan lokal yang lebih terkoneksi.
Ada beberapa poin penting yang bisa dipetik dari ekosistem gandum untuk diterapkan pada pangan lokal, di antaranya:
- Penguatan Inovasi: Produk seperti sagu atau singkong harus hadir dalam bentuk siap konsumsi sesuai gaya hidup masyarakat perkotaan.
- Standardisasi Kualitas: Penerapan sistem grading, sertifikasi, dan branding sangat diperlukan agar kualitas produk tetap konsisten.
- Integrasi Ritel: Pangan lokal harus terintegrasi dengan sistem distribusi modern agar lebih mudah diakses konsumen.
- Industri Skala Menengah: Memperkuat ekosistem industri antara sebagai penghubung petani dengan pasar.
- Penciptaan Permintaan: Melalui kebijakan pengadaan publik, program makan di sekolah, hingga kampanye konsumsi aktif.
Fokus pada Nilai Tambah
Peneliti menekankan pentingnya melihat di titik mana nilai tambah terbesar tercipta, atau yang disebut sebagai value-added window. Nilai ekonomi tidak selalu harus berasal dari sektor hulu atau budidaya. Pendekatan stage-specific comparative advantage menunjukkan bahwa ekonomi dapat tercipta melalui pengolahan, skala ekonomi, efisiensi logistik, dan diferensiasi produk.
Dalam kasus gandum, meskipun Indonesia tidak menanamnya, nilai tambah besar tercipta di sektor penggilingan dan industri makanan olahan.
Secara keseluruhan, meskipun beras tetap menjadi jangkar stabilitas, kebijakan pangan Indonesia perlu meluas menuju sistem yang terdiversifikasi, mulai dari hortikultura hingga peternakan.
Pemerintah didorong untuk memperkuat sektor antara dan hilir seperti agroindustri, logistik, dan sistem sertifikasi yang mampu menawarkan nilai tambah serta penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
Impor pun perlu dilihat secara strategis sebagai bagian dari penciptaan nilai domestik melalui integrasi dalam rantai pasok global.
Tinggalkan Komentar
Komentar