Periskop.id - Ketahanan pangan global kini bertumpu pada lahan pertanian seluas lebih dari 18 juta mil persegi yang tersebar di berbagai belahan dunia. 

Melansir Visual Capitalist pada Sabtu (14/3), data terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang dihimpun Bank Dunia menunjukkan jejak pertanian terbesar saat ini didominasi oleh negara-negara di Asia, Amerika, dan Afrika.

China memimpin di posisi puncak dengan selisih yang sangat signifikan dibandingkan negara lain. Menariknya, Indonesia berhasil mengamankan posisi ke-16, menunjukkan potensi besar sekaligus tantangan serius dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya yang mencapai 281 juta jiwa.

Dominasi China dan Pergeseran Peta Akibat Iklim

Dengan luas lahan mencapai 2 juta mil persegi, China resmi menjadi pemilik lahan pertanian terluas di dunia. Sekitar seperlima penduduknya menggantungkan hidup di sektor ini, menjadikan China sebagai produsen sekaligus konsumen produk pertanian terbesar di jagat raya.

Luas lahan pertanian China bahkan melampaui negara yang secara geografis lebih besar seperti Rusia dan Kanada. Hal ini terjadi karena sebagian besar wilayah Rusia dan Kanada merupakan zona beku atau tundra yang tidak bisa ditanami. 

Namun, para ahli memperkirakan perubahan iklim akan mengubah peta ini, di mana wilayah utara yang dulunya membeku mulai menghangat dan menjadi lebih cocok untuk bercocok tanam.

Di bawah China, Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan 1,6 juta mil persegi lahan yang fokus pada produksi jagung. Australia berada di peringkat ketiga (1,4 juta mil persegi) yang mendominasi pasar gandum meski memiliki wilayah yang cenderung kering. 

Sementara itu, Brasil di posisi keempat (914.000 mil persegi) menguasai pasar kedelai dan tebu dunia.

Potret Pertanian Indonesia

Berdasarkan data terbaru, Indonesia memiliki lahan pertanian seluas 212.828 mil persegi atau setara 551.222 kilometer persegi. 

Angka ini menunjukkan tren positif jika dibandingkan dua dekade lalu, di mana pada 2003 luasnya hanya 465.410 kilometer persegi (24,8% dari luas daratan), lalu naik menjadi 29,1% pada tahun ini.

Pemerintah terus mendorong perluasan ini melalui program Food Estate (lumbung pangan) yang dimulai sejak 2020 sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Fokus pengembangannya tersebar di Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, NTT, hingga Merauke, Papua.

Meskipun masuk dalam jajaran 20 besar dunia, capaian ini dinilai belum sepenuhnya ideal. Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, idealnya Indonesia berada di jajaran 5 besar untuk menjamin kedaulatan pangan secara mandiri. 

Ada beberapa alasan mengapa posisi Indonesia belum maksimal:

  1. Topografi Kepulauan: Berbeda dengan China atau AS yang memiliki daratan luas (kontinental), wilayah Indonesia terbagi oleh laut dan banyak pegunungan vulkanik aktif yang membatasi hamparan lahan datar untuk pertanian skala besar.
  2. Konversi Lahan: Tingginya kepadatan penduduk di pulau-pulau subur seperti Jawa memicu alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri secara masif.
  3. Dominasi Perkebunan: Sebagian besar perluasan lahan justru diisi oleh tanaman tahunan seperti kelapa sawit untuk ekspor, bukan tanaman pangan pokok.

Bila dilihat berdasarkan performanya terhadap perekonomian nasional, menurut laporan OECD bertajuk “Agricultural Policy Monitoring and Evaluation 2025”, sektor pertanian masih menyumbang 12,5% terhadap PDB nasional. 

Namun, terjadi fenomena menarik di mana proporsi tenaga kerja menurun drastis dari 45% (tahun 2000) menjadi 29% (tahun 2022). Hal ini menandakan adanya mekanisasi atau peningkatan produksi per tenaga kerja. Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya produktivitas tenaga kerja di sektor tersebut.

Sektor pertanian juga memiliki peran penting dalam perdagangan internasional Indonesia. Indonesia tercatat sebagai eksportir bersih produk agro pangan, dengan kontribusi sektor ini terhadap total ekspor nasional hampir tiga kali lipat dalam dua dekade terakhir, mencapai sekitar 19% pada 2023.

Namun pada saat yang sama Indonesia juga masih menjadi importir besar sejumlah produk pangan, terutama untuk komoditas tertentu yang produksinya belum mencukupi kebutuhan domestik.

Saat ini luas lahan pertanian Indonesia mewakili sekitar 1,9% dari total lahan pertanian negara negara yang tercakup dalam laporan OECD.

Sebagian besar produksi pangan Indonesia masih didominasi oleh pertanian keluarga skala kecil, sementara komoditas perkebunan seperti kelapa sawit diproduksi oleh perkebunan komersial berskala besar.

Ke depan, peningkatan produktivitas dan keberlanjutan lingkungan menjadi tantangan utama sektor pertanian Indonesia. Perluasan lahan dan penggunaan input seperti pupuk memang mampu meningkatkan produksi, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan.

Karena itu, inovasi teknologi pertanian dan praktik produksi berkelanjutan akan menjadi kunci bagi masa depan sektor pertanian nasional.

Daftar 15 Negara dengan Lahan Pertanian Terluas Dunia 2026

Secara rinci, berikut daftar negara dengan lahan pertanian terbesar di dunia:

PeringkatNegaraLuas Lahan (Mil Persegi)Luas Lahan (Km Persegi)
1China2.009.3265.204.134
2Amerika Serikat1.627.5764.215.406
3Australia1.402.4923.632.440
4Brasil914.1312.367.590
5Rusia832.8262.157.011
6Kazakhstan827.2842.142.657
7India689.4661.785.710
8Arab Saudi670.4181.736.376
9Argentina448.4051.161.364
10Sudan435.0021.126.651
11Mongolia414.9331.074.672
12Meksiko380.486985.455
13Afrika Selatan371.975963.412
14Nigeria267.948693.983
15Kanada219.596568.751
16Indonesia212.828551.222