Periskop.id - Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Martin D. Siyanarammual, mendorong pemerintah untuk segera membenahi sistem data perumahan nasional. Menurutnya, ketersediaan data yang akurat menjadi fondasi penting dalam menyusun kebijakan perumahan, termasuk mengejar target pembangunan tiga juta rumah.
Martin mengatakan, selain menetapkan target yang terukur dan mudah dievaluasi, pemerintah juga perlu memperkuat basis data sektor perumahan. Saat ini, kualitas data perumahan Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia.
"Jadi yang penting itu, bagaimana cara tracking-nya kita bisa diskusikan. Yang kedua, yang saya pikirkan cukup fundamental adalah ketersediaan data saat ini. Data perumahan kita itu sebetulnya tidak terlalu baik dibandingkan dengan Malaysia, kita masih kalah saing," ungkap Martin saat konferensi pers, Jakarta, Rabu (22/7).
Menurut dia, kelemahan data tidak hanya menyangkut jumlah penjualan rumah, tetapi juga profil masyarakat yang membeli rumah. Padahal, informasi tersebut penting untuk memastikan apakah kebijakan yang dijalankan sudah tepat sasaran.
"Jadi artinya soal data ini menjadi sangat krusial. Data bukan hanya dari sisi penjualan perumahan, tetapi katakanlah siapa sih yang membeli rumah itu, kan kita tidak tahu bagaimana informasinya. Ini akan sangat berkaitan dengan sebetulnya target 350.000 unit (kuota FLPP)," terang Martin.
Martin menilai, data yang komprehensif akan membantu pemerintah mengevaluasi berbagai target di sektor perumahan, termasuk program pembangunan tiga juta rumah dan optimalisasi skema pembiayaan perumahan.
Lebih lanjut, ia mengatakan pemerintah juga perlu memahami penyebab melemahnya permintaan rumah sebelum merumuskan kebijakan. Menurutnya, penurunan permintaan tidak selalu disebabkan oleh menyusutnya kelas menengah, tetapi bisa juga dipengaruhi ketidakpastian ekonomi maupun perubahan pola konsumsi masyarakat.
"Jadi kalau ditanya apakah penurunan permintaan rumah ini akibat dari kondisi masyarakat, penyusutan dari kelas menengah, ada kemungkinan untuk itu. Atau kemungkinan yang lain adalah karena ketidakpastian," Martin mengakhiri.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar