periskop.id - Pinhome mencatat tren kenaikan inventori rumah sekunder atau rumah seken sepanjang semester II 2025 dengan rata-rata pertumbuhan penambahan mencapai +5% per bulan. Lonjakan ini paling terasa di wilayah penyangga DKI Jakarta, seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan yang masing-masing menyumbang 8% dari total penambahan inventori.
CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan kondisi ini tak lepas dari dinamika ekonomi nasional.
"Tekanan ekonomi sepanjang 2025, mulai dari gelombang PHK di berbagai sektor hingga melonjaknya biaya hidup, mendorong sebagian pemilik properti melepas aset tahunan mereka demi menjaga likuiditas,” ujar Dayu dalam agenda Pinhome Indonesia Residential Market Report Semester II 2025 & Outlook 2026, Kamis (12/2).
Ia menambahkan tren ini terlihat dari banyaknya listing dengan label “Butuh Uang (BU)”, “Jual Cepat”, atau penawaran di bawah harga pasar. Sementara itu, inventori rumah baru justru menurun drastis, rata-rata -14% per bulan, mencerminkan suplai rumah primer yang terbatas.
"Kondisi ini menjadi peluang bagi pengembang dengan stok rumah siap huni, terutama di tengah kebijakan PPN DTP yang masih berlaku hingga akhir 2027, untuk menarik pembeli yang ingin segera memiliki rumah baru," sambung Dayu.
Selain itu, Pinhome juga melaporkan kontras menarik antara kawasan industri dan residensial komuter. Sektor manufaktur yang tetap ekspansif menjadi motor penggerak permintaan properti. Contohnya, Cikarang mencatat pertumbuhan permintaan hingga 16% di semester II 2025 dibanding semester sebelumnya. Di sisi lain, kawasan residensial komuter seperti Tambun dan Cibitung justru mengalami koreksi permintaan yang cukup dalam, masing-masing -22% dan -9%.
"Tren ini menegaskan kedekatan hunian dengan pusat aktivitas kerja kini menjadi prioritas utama, menjadikan dinamika sektor industri sebagai faktor kunci pembentuk permintaan properti di wilayah penyangga DKI Jakarta," tutup Dayu.
Tinggalkan Komentar
Komentar