periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan pada pembukaan perdagangan, Selasa 28 Januari 2026, di tengah tekanan jual masif di hampir seluruh saham. IHSG dibuka di level 8.393,51 dan sempat turun ke level terendah 8.349,65.

Berdasarkan data RTI Business, hingga pukul 09.01 WIB IHSG tercatat melemah 602,22 poin atau 6,71% ke posisi 8.378,01. Pelemahan terjadi secara merata, dengan 495 saham melemah, 55 saham menguat, dan 116 saham stagnan.

Aktivitas transaksi tercatat cukup tinggi sejak awal perdagangan. Nilai transaksi mencapai Rp3,14 triliun dengan volume 4,73 miliar saham dan frekuensi 254.503 kali transaksi.

Seiring pelemahan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut menyusut menjadi Rp15.193,57 triliun, mencerminkan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Kekhawatiran Investor Global terhadap Free Float

Analis pasar modal Hendra Wardana menyampaikan tekanan pasar tidak terlepas dari hasil konsultasi global MSCI terkait penilaian free float saham Indonesia yang baru diumumkan.

“Mayoritas investor global masih menyimpan kekhawatiran terhadap keandalan klasifikasi pemegang saham dalam menilai free float saham Indonesia,” ujar Hendra, Rabu (28/1).

Ia menjelaskan, meskipun sebagian investor menyambut baik rencana penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI sebagai referensi tambahan, data tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan struktur kepemilikan yang sebenarnya.

“Keraguan tersebut membuat investor global berhati-hati dalam menilai tingkat free float dan kelayakan investasi saham Indonesia,” katanya.

MSCI menilai perbaikan minor yang dilakukan Bursa Efek Indonesia belum menjawab persoalan mendasar terkait transparansi dan investability pasar saham Indonesia. Sebagai respons, MSCI menerapkan kebijakan pembekuan sementara yang berlaku efektif segera terhadap pasar saham Indonesia.

“MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares, termasuk dari peninjauan indeks maupun aksi korporasi,” jelas Hendra.

Aliran Dana Pasif dan Level Teknis IHSG

Lebih lanjut, Hendra menyebut kebijakan tersebut berpotensi menahan aliran dana pasif global yang selama ini menjadi penopang permintaan saham berkapitalisasi besar di Indonesia

“Pembekuan kenaikan bobot saham Indonesia berarti potensi aliran dana pasif global menjadi tertahan,” ujarnya.

Selain itu, saham-saham yang sebelumnya diharapkan naik kelas dalam indeks MSCI juga kehilangan katalis positif dalam jangka pendek. Dari sisi teknikal, pelaku pasar mencermati area 8.846 sebagai level support IHSG.

“Jika level tersebut ditembus, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di level 8.715, sementara area 9.047 menjadi resistance terdekat,” pungkas Hendra.