periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan, setelah MSCI memutuskan untuk menunda sementara penilaian (review) terhadap saham-saham Indonesia. Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan, keputusan ini dipicu oleh isu free float serta transparansi kepemilikan saham di pasar domestik.
“Sentimen ini memicu aksi jual berskala besar, terutama pada saham-saham konglomerasi dan blue chip yang selama ini menjadi tulang punggung indeks,” ujar David dalam keterangannya dikutip Rabu (28/1).
Meski begitu, David menegaskan bahwa koreksi tajam IHSG bukan berasal dari fundamental ekonomi Indonesia.
"Penurunan ini lebih dikarenakan faktor eksternal, sehingga tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Bagi investor yang cermat, kondisi ini justru bisa menjadi peluang, asalkan tetap menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing,” tambah David.
David menekankan meskipun pasar sedang tertekan investor sebaiknya tetap mencari peluang di saham-saham yang masih menunjukkan kekuatan teknikal. Kunci utama adalah disiplin terhadap level entry, target, dan stop loss.
"Dengan kondisi ini, IHSG memang menghadapi tekanan jangka pendek, tetapi para analis meyakini fundamental Indonesia tetap solid. Bagi investor yang mampu membaca momentum teknikal, koreksi ini bisa menjadi kesempatan strategis untuk masuk ke pasar dengan lebih bijak," lanjutnya.
Di tengah tekanan pasar, analis IPOT ini tetap melihat adanya saham-saham yang berpotensi menguat secara teknikal. Beberapa saham pilihan yang layak dicermati antara lain:
WIIM: Buy on breakout di level 1.870, dengan target harga 2.100 dan stop loss di 1.765. Tren pergerakan masih menunjukkan uptrend yang kuat.
ERAA: Entry di 428, target harga 425, stop loss 416. Saham ini menunjukkan adanya bullish divergence, menandakan potensi pembalikan arah harga.
SOFA: Buy di level 460, target harga 540, stop loss 428. Secara teknikal, pergerakan masih cenderung uptrend dengan peluang reversal, harga terjaga di atas indikator MA50.
Disclaimer: Informasi ini disajikan sebagai referensi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan jual beli saham sepenuhnya berada di tangan pembaca. Segala risiko dan konsekuensi yang timbul menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Tinggalkan Komentar
Komentar