periskop.id - Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengambil langkah tegas terkait saham Indonesia di indeks global. Dalam pengumuman Selasa 27 Januari 2026 waktu setempat MSCI menyatakan akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham hasil peninjauan indeks.
"Menunda penambahan saham ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta menghentikan migrasi antar segmen ukuran saham, termasuk dari Small Cap ke Standard," tulis MSCI dalam laman resminya dikutip, Rabu (28/1).
Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham Indonesia, meski data free float dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan perbaikan minor. MSCI menilai laporan Monthly Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) masih belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
MSCI menegaskan persoalan mendasar adalah potensi perdagangan terkoordinasi yang bisa mengganggu pembentukan harga wajar, sehingga keputusan interim ini bersifat pencegahan sementara sambil menunggu perbaikan transparansi pasar. Jika hingga Mei 2026 tidak ada kemajuan signifikan, MSCI akan melakukan peninjauan ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.
Kebijakan ini bisa menahan aliran modal asing masuk, sekaligus memberi tekanan pada saham-saham yang berpotensi masuk indeks global. Investor diminta lebih hati-hati memantau perkembangan regulasi dan laporan kepemilikan saham, karena keputusan MSCI bisa berdampak langsung pada valuasi pasar.
IHSG Langsung Anjlok
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan pada pembukaan perdagangan, Selasa 28 Januari 2026, di tengah tekanan jual masif di hampir seluruh saham. IHSG dibuka di level 8.393,51 dan sempat turun ke level terendah 8.349,65.
Berdasarkan data RTI Business, hingga pukul 09.01 WIB IHSG tercatat melemah 602,22 poin atau 6,71% ke posisi 8.378,01. Pelemahan terjadi secara merata, dengan 495 saham melemah, 55 saham menguat, dan 116 saham stagnan.
Aktivitas transaksi tercatat cukup tinggi sejak awal perdagangan. Nilai transaksi mencapai Rp3,14 triliun dengan volume 4,73 miliar saham dan frekuensi 254.503 kali transaksi.
Seiring pelemahan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turut menyusut menjadi Rp15.193,57 triliun, mencerminkan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar
Tinggalkan Komentar
Komentar