periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan reformasi regulasi pasar modal. 

Langkah ini menyusul keputusan Goldman Sachs yang menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, serta adanya peringatan dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Airlangga menegaskan reformasi regulasi pasar modal perlu terus dilakukan guna memperkuat daya saing dan kredibilitas pasar keuangan domestik di mata investor global.

"Ya tentu kita harus terus melakukan reform terhadap regulasi di pasar modal. Makanya kan tadi saya bilang, kita akan meminta untuk bursa kita melakukan reform mengenai regulasi," kata Airlangga kepada media, Jakarta, Kamis (29/1).

Airlangga menilai momentum ini dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mempercepat reformasi pasar modal dengan mengacu pada praktik terbaik internasional (best practices). Ia menegaskan pemerintah telah menjalin komunikasi sebelumnya dengan MSCI dan pembahasan tersebut telah memiliki jadwal yang jelas.

"Pada prinsipnya momentum ini digunakan untuk mereform regulasi daripada pasar modal dan kita melihat best practice. Jadi kita ikuti saja karena itu sudah ada jadwalnya sudah ada pembicaraan dengan MSCI sebelumnya," terang dia.

Sebelumnya,Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan akan mengerahkan seluruh upaya untuk menjaga stabilitas pasar saham pasca pengumuman MSCI yang memicu tekanan di IHSG.

Merespons hal tersebut Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti hal-hal yang diperlukan terkait pengumuman MSCI dan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan lainnya.

"Kami akan segera melakukan langkah-langkah konkret untuk merespons tekanan IHSG," ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI),  Rabu (28/1).

Sementara itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menegaskan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026 lebih dipicu oleh aksi panic selling investor, bukan karena memburuknya fundamental pasar modal Indonesia.

“Tekanan pasar hari ini muncul karena panic selling terkait pengumuman freeze rebalancing, bukan karena fundamental pasar melemah,” tutup Iman.