periskop.id - Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergulir pada Rabu, 18 Februari 2026 setelah libur panjang perayaan Imlek 2026. Pelaku pasar pun mulai menakar arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah dinamika global dan sentimen domestik yang masih beragam.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai pergerakan IHSG sepanjang Februari memang masih berada di zona negatif. Ia menilai IHSG sejatinya tetap mencerminkan tren jangka panjang yang positif dan relatif bullish.

Artinya, pelemahan yang terjadi saat ini lebih merefleksikan dinamika siklus jangka pendek ketimbang sinyal perubahan arah tren utama. Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,64% atau turun 53,08 poin ke level 8.212,2 pada Jumat (13/2).

Melihat kondisi tersebut, Nafan mengatakan fase koreksi seperti sekarang justru membuka ruang akumulasi selektif. Investor dapat memanfaatkan momentum ini untuk melakukan bottom fishing pada saham-saham dengan fundamental kuat, valuasi yang sudah terdiskon, serta menunjukkan indikasi pembalikan arah secara teknikal.

"Jadi faktor kelemahan kinerja IHSG pada Februari itu sebenarnya bisa menjadikan momentum untuk bottom fishing dengan mencermati saham-saham yang berfundamental solid," ucap Nafan kepada periskop Rabu (18/2).

Kendati demikian, Nafan menekankan pentingnya disiplin dalam manajemen risiko dan penerapan trading plan yang terukur agar strategi akumulasi tidak berubah menjadi spekulasi yang berlebihan.

Dari sisi katalis, ia melihat momentum musiman seperti Imlek, Ramadan, hingga Lebaran berpotensi menjadi penopang pergerakan pasar melalui dorongan konsumsi domestik. Siklus musiman tersebut, jika dikombinasikan dengan stabilitas makroekonomi, dapat memperkuat optimisme pelaku pasar dalam jangka menengah.

"IHSG ini semestinya masih prospektif dalam momentun Imlek maupun juga menyambut Ramadan dan Lebaran," sambungnya.

Sementara itu,Ia juga menyoroti terkait keputusan final MSCI yang masih membutuhkan waktu, Nafan menilai fokus utama seharusnya berada pada komitmen otoritas pasar dalam mempercepat reformasi struktural.

"Yang paling penting BEI berkomitmen untuk meningkatkan transparansi di pasar modal Tanah Air dengan good capital governance harus ditekankan sembari meneruskan proses peningkatan free float minimal ke 15%," sambung Nafan.

Ia menambahkan, kepemimpinan yang profesional, independen, serta memiliki rekam jejak dan integritas yang kuat akan menjadi fondasi penting dalam menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia. Reformasi yang dijalankan secara nyata bukan sekadar simbolik akan menentukan arah kepercayaan investor, khususnya investor global. Tanpa langkah yang substansial dan berkelanjutan, sentimen positif yang terbangun berisiko memudar dan berujung pada tekanan terhadap arus modal masuk.

Dengan demikian, pembukaan kembali perdagangan BEI pasca libur panjang bukan sekadar penanda dimulainya aktivitas bursa, tetapi juga menjadi momentum evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pasar modal Indonesia tetap kompetitif, transparan, dan berdaya saing di tengah ketatnya dinamika global.