periskop.id - Optimisme terhadap kebangkitan pasar modal Indonesia pada 2026 semakin menguat. Mandiri Sekuritas meyakini gelombang penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kian semarak, baik dari sisi jumlah maupun skala emiten yang melantai.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menyampaikan antrean perusahaan yang bersiap masuk pasar modal tahun ini tercatat lebih panjang dibandingkan periode sebelumnya. Fenomena tersebut dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
"IPO itu akan lebih bagus.Semakin banyak dan semakin besar. Lihat saja ini story-nya belakangan bagus nih, provided storynya juga terlihat bagus, fundamentalnya bagus, manajemen bagus," ucap Oki kepada wartawan, Jakarta Selatan, dikutip Rabu (25/2).
Menurut Oki, kualitas menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan IPO. Perusahaan dengan fundamental solid, tata kelola yang baik, serta narasi bisnis yang relevan dengan arah pertumbuhan ekonomi diyakini akan mendapat respons positif dari investor.
Selain itu, kata dia keyakinan tersebut tetap terjaga meskipun pasar sempat dibayangi sentimen global, termasuk evaluasi dari lembaga internasional seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody's.
Bagi Mandiri Sekuritas, dinamika tersebut tidak menggerus minat perusahaan untuk tetap melanjutkan rencana IPO. Bahkan, hingga saat ini tidak ada calon emiten yang menunda ataupun membatalkan aksi korporasinya.
"Terlepas dari peraturan-peraturan baru yang nanti akan keluar. Pipeline kita untuk IPO tahun ini sebenarnya lebih banyak daripada tahun lalu," sambungnya.
Lebih jauh, reformasi struktural yang tengah diupayakan oleh Self-Regulatory Organization (SRO) di lingkungan BEI diyakini akan menjadi katalis positif. Pembaruan regulasi, penguatan tata kelola, serta upaya mendorong likuiditas pasar disebut akan menciptakan ekosistem investasi yang lebih sehat dan kompetitif.
Salah satu kebijakan yang dinilai strategis adalah peningkatan ketentuan porsi kepemilikan saham publik (free float) minimal menjadi 15%. Dengan komposisi saham beredar yang lebih besar di tangan publik, likuiditas perdagangan diharapkan meningkat signifikan.
Langkah tersebut juga dipandang mampu memperdalam pasar keuangan domestik. Portofolio investor akan memiliki lebih banyak pilihan saham dengan kapitalisasi dan likuiditas yang mencukupi. Hal ini pada akhirnya memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tengah kompetisi regional.
"Tapi sekali lagi, saya yakin dengan peraturan-peraturan baru yang akan nanti diterapkan, itu akan membuat market kita jauh lebih legit," beber dia.
Mandiri Sekuritas menilai, kombinasi antara pipeline IPO yang solid, reformasi regulasi, serta perbaikan struktur likuiditas akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan pasar pada 2026. Jika momentum ini terjaga, bukan hanya jumlah emiten yang meningkat, tetapi juga kualitas dan skala penawaran yang lebih besar.
Dengan prospek tersebut, tahun 2026 berpotensi menjadi babak baru bagi pasar modal Indonesia lebih dalam, lebih likuid, dan semakin dipercaya sebagai sumber pendanaan utama bagi ekspansi dunia usaha nasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar