periskop.id - PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) resmi melangkah ke fase baru bisnisnya setelah mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 10 April 2026. Tak berhenti di sektor darat, perusahaan logistik ini kini bersiap memperluas sayap ke bisnis logistik perkapalan (shipping) sebagai bagian dari strategi integrasi layanan yang lebih menyeluruh.

Direktur Utama WBSA, Edwin Wibowo, menegaskan bahwa arah besar perusahaan adalah menjadi pemain logistik paling terintegrasi di Indonesia. Perusahaan akan terus memperluas jangkauan layanan sekaligus memperdalam integrasi antar lini bisnis yang sudah berjalan.

“Visi kami adalah menjadi perusahaan logistik yang paling terintegrasi di Indonesia. Jadi kami akan terus berkembang, menambah coverage, dan juga memperdalam integrasi yang paling komprehensif. Saat ini kami sudah mencakup trucking, warehousing, freight, dan nantinya juga ada shipping,” ujar Edwin saat ditemui di Gedung BEI, Jumat (10/4).

Langkah ekspansi ke sektor shipping menjadi sinyal kuat bahwa WBSA tidak hanya ingin memperkuat bisnis inti yang sudah ada, tetapi juga membangun ekosistem logistik end-to-end dari darat hingga laut. Saat ini WBSA telah memiliki sekitar 1.000 armada, yang terdiri dari kepemilikan sendiri maupun kerja sama dengan mitra vendor di berbagai daerah.

Edwin mengatakan bahwa model bisnis WBSA saat ini banyak bertumpu pada kolaborasi dengan vendor lokal di berbagai wilayah strategis Indonesia, termasuk Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Pola kemitraan tersebut tidak hanya memperluas jangkauan operasional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendorong pertumbuhan pelaku logistik lokal.

“Armada kami terus bertambah, ada yang kami miliki sendiri dan ada juga dari vendor. Dengan logistik yang terintegrasi, sebagian besar armada kami bekerja sama dengan vendor di lokasi yang berbeda-beda. Kami bekerja dengan vendor lokal dan membantu mereka untuk bisa berkembang juga, itu visinya,” jelasnya.

Terkait rencana penambahan armada, Edwin mengklaim saat ini perusahaan masih membuka ruang ekspansi, namun akan dilakukan secara selektif sesuai kebutuhan bisnis dan kondisi pasar yang berkembang.

Sementara itu, terkait target kinerja dan profit di tengah tekanan dan berbagai sentimen pasar, Edwin tetap optimistis. Menurutnya, dinamika industri logistik justru dapat membuka peluang baru di tengah tantangan yang ada.

“Kalau kami tetap positif dengan logistik. Setiap orang butuh logistik. Zaman selalu berubah, keadaan selalu berubah, tetapi seperti yang saya bilang, semua masalah bisa jadi peluang,” ungkapnya.

Sebagai informasi, WBSA merupakan emiten pertama yang mencatatkan saham perdana di BEI pada 2026. Perusahaan logistik tersebut melepas 1,8 miliar saham baru atau setara 20,75% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp168 per saham.

Dari aksi tersebut, WBSA berhasil mengumpulkan dana segar sebesar Rp302,4 miliar. WBSA juga mencatat respons pasar yang sangat kuat, tercermin dari tingkat kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga 386,86 kali.