periskop.id - Kanker paru masih menjadi momok serius di Indonesia. Meski kerap diasosiasikan dengan kebiasaan merokok, fakta di lapangan menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Tak sedikit pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker paru ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut, bahkan tanpa pernah menyentuh rokok seumur hidup.

Data medis Parkway Cancer Centre menunjukkan, kanker paru tidak berdiri sebagai satu jenis penyakit tunggal. Sekitar 9,8% kasus merupakan small cell lung cancer yang mayoritas dialami perokok, sementara sekitar 90,2% lainnya adalah non-small cell lung cancer yang justru banyak ditemukan pada nonperokok. Komposisi ini mempertegas bahwa rokok bukan satu-satunya pintu masuk terjadinya kanker paru.

Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Dr. Tanujaa Rajasekaran, menjelaskan bahwa hingga kini penyebab pasti kanker paru pada nonperokok masih menjadi tanda tanya besar dunia medis.

“Yang kita pahami saat ini adalah terjadinya mutasi atau kelainan pada sel tubuh. Namun, apa yang memicu mutasi itu—apakah polusi udara, stres kronis, atau faktor tertentu dalam makanan—belum bisa dipastikan,” ujar Dr. Tanujaa dalam acara Demografi Kanker di Jakarta, Jumat (27/2).

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Tanujaa mencontohkan Singapura, negara dengan prevalensi perokok yang relatif rendah, namun kanker paru tetap menempati posisi kedua kanker terbanyak.

“Ini menjadi bukti bahwa faktor risiko kanker paru jauh lebih luas daripada sekadar kebiasaan merokok,” katanya.

Dari sisi usia, kanker paru umumnya masih lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut, yakni di atas 50 hingga 70 tahun. Hal ini berkaitan dengan proses penuaan alami tubuh. Seiring bertambahnya usia, mutasi sel menumpuk, sementara kemampuan sistem imun untuk mengenali dan menghancurkan sel abnormal ikut menurun.

“Saat muda, tubuh masih mampu membersihkan sel-sel yang bermutasi. Ketika usia bertambah, mekanisme pertahanan itu melemah,” jelas Tanujaa.

Meski begitu, dokter kini juga melihat tren yang mengkhawatirkan, yakni meningkatnya jumlah pasien kanker di usia lebih muda. Tidak hanya kanker paru, tetapi juga kanker otak dan kanker usus besar.

“Kita belum tahu pasti penyebabnya. Dugaan sementara mengarah ke polusi lingkungan dan perubahan gaya hidup, tetapi riset masih terus berjalan,” ujarnya.

Dalam hal pengobatan, imunoterapi menjadi salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan. Namun, durasinya tidak bisa disamaratakan.

“Jika kanker masih tahap awal, imunoterapi bisa diberikan sekitar satu tahun. Pada kanker tahap tiga, durasinya juga kurang lebih sama,” kata Tanujaa.

Situasinya berbeda pada kanker stadium empat yang sudah menyebar. Pada kondisi ini, imunoterapi dapat berlangsung jauh lebih lama.

“Selama kanker masih memberikan respons positif, terapi akan diteruskan. Bisa berlangsung bertahun-tahun, tergantung bagaimana tubuh pasien merespons,” ujarnya.

Ketika terapi tak lagi memberikan hasil, dokter akan meninjau ulang strategi pengobatan. Tujuannya bukan hanya memperpanjang harapan hidup, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien.

Meningkatnya kasus kanker paru pada nonperokok menjadi peringatan bahwa pencegahan kanker memerlukan pendekatan yang lebih luas. Menjaga kualitas udara, pola hidup sehat, serta meningkatkan kesadaran deteksi dini menjadi langkah penting agar penyakit ini tidak terus terdeteksi terlambat.