periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun hingga kisaran 6.900 tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Menurutnya, pergerakan pasar saham saat ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen jangka pendek, sementara fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

‎Purbaya mengatakan selama fundamental ekonomi nasional tetap baik, kinerja pasar saham pada akhirnya juga akan mengikuti.

‎"Nggak apa-apa itu. Jadi gini, perhatikan fundamental perekonomian. Selama fundamental ekonominya bagus, pasti akan bagus juga. Tapi kan sekarang banyak noise, banyak yang bilang ekonomi udah resesi," ucap Purbaya kepada media, Jakarta, dikutip Selasa (17/3). 

‎Dia menegaskan berbagai indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang masih solid. Salah satunya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV tahun lalu yang mencapai sekitar 5,39%.

‎Data tersebut, kata dia, berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS). Selain itu, sejumlah indikator lain seperti indeks manufaktur atau Purchasing Managers’ Index (PMI), tingkat kepercayaan konsumen dari Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan, serta indeks penjualan ritel juga menunjukkan tren peningkatan.

‎"Orang bilang itu karangan Purbaya aja. Enggak, itu BPS. Terus ada PMI itu lembaga lain yang mensurvei kan, itu 5,39. Ada consumer confidence yang survei BI sama LPS itu lembaga yang terpisah, sama naik semua," tegasnya. 

‎Ia juga menyoroti pertumbuhan penjualan mobil yang menurutnya mulai membaik setelah sempat terkontraksi pada tahun sebelumnya. Saat ini, penjualan mobil disebut telah tumbuh sekitar 7%.

‎Selain itu, indikator lain seperti Mandiri Spending Index juga menunjukkan tren positif, yang menurut Purbaya mengindikasikan aktivitas konsumsi masyarakat masih kuat.

‎"Itu kan dari lembaga-lembaga yang berbeda. Semuanya converge ke sana. Artinya emang ekonomi betul, memang baik," tambahnya. 

‎Meski IHSG tengah mengalami tekanan, Purbaya optimistis pasar saham Indonesia akan kembali menguat seiring dengan rilis data ekonomi pada triwulan-triwulan berikutnya.

‎Ia bahkan memperkirakan IHSG berpotensi menembus level 10.000 pada akhir tahun, sejalan dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga.

‎"Data triwulan pertama belum, triwulan kedua belum keluar, jadi ekonomi ke sana. Pasti naik ke atas. Jadi ga usah takut teman-teman. Jangan beli saham gorengan, gitu aja. To the moon tetap Rp10 ribu masih bisa," terangnya. 

‎"Ekonomi kita akan berbeda dengan negara-negara tetangga kita. Kita udah nomor 1 di G20. Lu masi ga percaya juga. Apa lagi? dengan modal yang sama dengan defisit yang terkendali kita bisa ciptakan pertumbuhan yang lebih cepat. Itu udah jago banget," Purbaya mengakhiri.