periskop.id - Evaluasi terbaru indeks global MSCI Inc. pada Mei 2026 memberikan sentimen negatif bagi pasar saham Indonesia, khususnya pada kelompok saham berkapitalisasi besar (big caps).

Dalam MSCI Global Standard Index, tidak ada satu pun saham Indonesia yang masuk (inclusion). Sebaliknya, enam saham justru dikeluarkan (exclusion), yakni Amman Mineral Internasional (AMMN), Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), serta Sumber Alfaria Trijaya (AMRT).

Ketiadaan saham yang masuk dan dominasi penghapusan mencerminkan penurunan daya saing saham Indonesia di mata investor global, terutama dari sisi kapitalisasi pasar dan likuiditas. Analis dari Phintraco Sekuritas menilai hasil rebalancing kali ini bahkan lebih buruk dari ekspektasi pasar.

Rebalancing MSCI Mei 2026 cenderung di bawah ekspektasi pasar, karena jumlah saham Indonesia yang dikeluarkan lebih banyak dari perkiraan awal, yaitu AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Kondisi ini mencerminkan penurunan representasi saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes,” tulis Tim Riset Phintraco Sekuritas, Rabu (13/5).

Penghapusan dari MSCI Standard Index berpotensi memicu tekanan jual signifikan, mengingat indeks ini menjadi acuan utama bagi dana pasif global (passive funds) dan exchange traded funds (ETF). Phintraco juga memperkirakan dampak arus dana keluar tidak kecil.

“Perubahan tersebut berpotensi memicu passive outflow dan meningkatkan volatilitas jangka pendek, terutama pada saham-saham yang dikeluarkan seiring penyesuaian portofolio investor institusi global berbasis MSCI. Dengan country weight Indonesia sekitar 0,72%, rebalancing kali ini dapat mendorong potensi outflow sekitar Rp28–31 triliun,” tulis riset yang sama.

Secara khusus, terdapat catatan pada saham Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) yang tidak sepenuhnya keluar dari MSCI. AMRT tidak sepenuhnya keluar dari indeks MSCI, melainkan mengalami penurunan klasifikasi dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes. Meski demikian, perpindahan ini tetap mengurangi bobot alokasi dana asing pasif pada saham tersebut.

Dengan berkurangnya enam konstituen sekaligus, Indonesia berisiko mengalami penurunan aliran dana asing (foreign inflow) dalam jangka pendek, sekaligus meningkatkan volatilitas pada saham-saham terkait.

Di sisi lain, tekanan eksternal turut membayangi pergerakan pasar. Riset CGS International Sekuritas Indonesia menilai kombinasi pelemahan global dan sentimen domestik dapat menekan pasar saham.

“Melemahnya mayoritas indeks di bursa Wall Street, pengumuman rebalancing indeks MSCI, berlanjutnya tekanan terhadap rupiah dan aksi jual investor asing diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar,” ulas Tim RIset CGS International Sekuritas Indonesia.

Meski demikian, terdapat potensi penopang dari sektor tertentu. Sementara itu naiknya harga komoditas energi dan potensi adanya rotasi ke saham-saham berfundamental kokoh berpeluang menjadi katalis positif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG pun diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah.

“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.760,6.660 dan resist 6.960,7.055,” tulis riset tersebut.