periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan, Rabu (13/5), setelah dihantam sentimen ganda dari hasil rebalancing indeks global MSCI.

Hingga pukul 10.37 WIB, IHSG tercatat ambles 1,71% atau turun 117,13 poin ke level 6.741,77, melanjutkan pelemahan dari penutupan sebelumnya di 6.858,90. Tekanan kali ini tidak hanya datang dari satu sisi, melainkan kombinasi pukulan pada saham lapis kecil hingga saham berkapitalisasi besar (big caps).

Dari sisi small caps, MSCI Global Small Cap Index mencatat hanya satu saham Indonesia yang masuk, yakni Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), sementara 13 saham justru terdepak dari indeks. Penghapusan ini dinilai berpotensi menekan likuiditas serta aliran dana asing pada saham-saham terkait dalam jangka pendek.

Namun tekanan tidak berhenti di situ. Dari sisi big caps, MSCI Global Standard Index yang menjadi acuan utama investor institusi global, tidak mencatatkan saham Indonesia yang masuk, sementara enam saham keluar dari indeks. Beberapa nama besar yang terdampak antara lain Amman Mineral Internasional (AMMN) dan Barito Renewables Energy (BREN).

Kondisi ini memperparah sentimen pasar karena keluarnya saham dari indeks global standard biasanya berimplikasi langsung pada arus dana asing skala besar, terutama dari dana pasif global. Artinya, pasar tidak hanya kehilangan potensi inflow baru, tetapi juga berisiko menghadapi outflow yang lebih besar.

Analis Phintraco Sekuritas menilai kombinasi tekanan pada small caps dan big caps ini menjadi sinyal negatif bagi pasar saham domestik.

“Secara keseluruhan, hasil rebalancing ini dapat menjadi sentimen negatif bagi IHSG karena mencerminkan berkurangnya representasi saham Indonesia dalam indeks MSCI,” tulis tim riset Phintraco.

Sebelumnya, IHSG telah lebih dulu melemah pada perdagangan Selasa (12/5) dan ditutup di level 6.858,90 atau turun 0,68%. Pelemahan tersebut dipicu oleh depresiasi rupiah yang menyentuh rekor terendah di Rp17.525 per dolar AS serta antisipasi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI.

Dari sisi sektoral, sektor kesehatan mencatatkan koreksi terdalam sebesar 3,51%, sementara sektor basic materials justru menguat 1,85%. Ke depan, Phintraco memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level psikologis 6.700.

“Diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.700. Perlu diwaspadai koreksi lanjutan karena pengumuman MSCI dan menjelang libur long weekend,” tulis Phintraco.

Dengan demikian, tekanan yang terjadi saat ini tidak hanya bersifat jangka pendek akibat rebalancing, tetapi juga dipengaruhi faktor eksternal seperti pelemahan rupiah dan sentimen global. Riset CGS International Sekuritas Indonesia menilai kombinasi pelemahan global dan sentimen domestik dapat menekan pasar saham.

“Melemahnya mayoritas indeks di bursa Wall Street, pengumuman rebalancing indeks MSCI, berlanjutnya tekanan terhadap rupiah dan aksi jual investor asing diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar,” tulis CGS.

Meski demikian, terdapat potensi penopang dari sektor tertentu. Sementara itu naiknya harga komoditas energi dan potensi adanya rotasi ke saham-saham berfundamental kokoh berpeluang menjadi katalis positif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG pun diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah.

“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.760,6.660 dan resist 6.960,7.055,” ulas CGS.

Meski begitu, pelaku pasar masih menantikan katalis berikutnya dari MSCI melalui MSCI Market Accessibility Review pada Juni 2026. Tim riset Stockbit menilai evaluasi tersebut akan jauh lebih menentukan arah pasar ke depan, terutama terkait potensi perubahan status pasar Indonesia, kebijakan free float, hingga kepastian tidak adanya penurunan ke frontier market.

“Yang perlu dicermati ke depan adalah MSCI Market Accessibility Review pada Juni 2026 sebagai katalis yang lebih substansial,” tulis Stockbit.

Ke depan, arah IHSG akan sangat bergantung pada apakah tekanan ini berkembang menjadi arus keluar dana asing yang lebih besar, atau justru mereda dengan munculnya sentimen positif dari evaluasi lanjutan MSCI.