periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak variatif dengan peluang teknikal rebound terbatas pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Meski berpotensi menguat dalam jangka pendek, indeks masih dibayangi tekanan jual asing dan risiko koreksi lanjutan sehingga penguatan diperkirakan bersifat terbatas.

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan rebound jangka pendek sebelum kembali menghadapi tekanan di area resistance.

“IHSG berpotensi short term teknikal rebound hari ini ke 6.950, tapi gunakan untuk sell on high karena IHSG masih rentan kembali koreksi,” tulis Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam risetnya, Selasa (12/5).

Level teknikal IHSG pada perdagangan hari ini diproyeksikan berada di area support 6.650–6.850, dengan batas atas (resistance) di kisaran 6.950-7.050.

Dari sisi aliran dana, pada perdagangan sebelumnya IHSG ditutup melemah 0,92% dengan net sell asing sekitar Rp659 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing tercatat pada BMRI, DSSA, BRPT, BBRI, dan TPIA.

Sejumlah saham yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini antara lain BUMI, AADI, BULL, HRTA, WIFI, dan ELSA dengan strategi perdagangan disesuaikan level teknikal masing-masing saham. 

BUMI direkomendasikan spec buy di area 210-212, AADI di 9.050-9.150, BULL di 450-460, HRTA di 2.670, WIFI di 2.210-2.240, serta ELSA di 670-690.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat moderat pada perdagangan Senin (11/5). Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,19%, S&P 500 menguat, dan Nasdaq Composite bertambah 0,10%. Penguatan dipimpin optimisme sektor kecerdasan buatan (AI), meski dibayangi kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak serta mandeknya negosiasi damai AS-Iran.

Di sisi korporasi, saham Intel naik 3,6% usai laporan awal kerja sama produksi chip dengan Apple. Saham Qualcomm melonjak 8,4% dan mencetak rekor tertinggi baru. Sebaliknya, saham maskapai seperti Delta Air Lines, United Airlines, hingga Southwest Airlines turun 2,9%-4,4% akibat tekanan harga minyak terhadap margin.

Sementara itu, pasar Asia bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,47% dan ASX 200 Australia melemah 0,49%. Di sisi lain, Hang Seng Hong Kong naik 0,05%, CSI 300 China melesat 1,64%, Taiex Taiwan naik 0,45%, dan Kospi Korea Selatan melonjak 4,32%. FTSE Straits Times menguat 0,42%, sementara FTSE Malaysia KLCI melemah 0,16%.

Penguatan di sebagian pasar Asia terjadi di tengah kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik AS–Iran, setelah Presiden AS menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik. Iran sendiri disebut mengajukan proposal baru yang mencakup penghentian perang di semua lini serta pencabutan sanksi terhadap Teheran.

Sentimen global juga dipengaruhi rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini, yang akan membahas isu strategis mulai dari perdagangan, Iran, Taiwan, AI, hingga mineral tanah jarang.