periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,06% ke level 6.154,924 pada sesi pertama perdagangan Kamis (18/6). Penurunan ini terjadi berlawanan arah dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak menguat.

Berdasarkan data RTI pukul 12.00 WIB, indeks terkoreksi 65,816 poin dari posisi sebelumnya. Sebanyak 417 saham terpantau melemah, 225 saham menguat, dan 158 saham stagnan, dengan volume perdagangan 14,9 miliar saham senilai Rp10 triliun.

Advertisement

Tekanan pada IHSG bersumber dari tujuh indeks sektoral yang menutup sesi pertama di zona merah. Tiga sektor dengan penurunan terdalam yaitu IDX-Infra yang tergerus 2,03%, IDX-Finance turun 1,46%, dan IDX-Health melemah 1,41%.

Di jajaran saham LQ45, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi penekan terbesar dengan anjlok 7,77% ke Rp2.730. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menyusul dengan penurunan 4,72% ke Rp1.515, sementara PT Indosat Tbk (ISAT) terkoreksi 3,77% ke Rp1.785.

Di sisi lain, sejumlah saham mampu menopang indeks dari kejatuhan lebih dalam. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memimpin penguatan dengan melonjak 5,86% ke Rp2.890, diikuti PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang naik 3,91% ke Rp372, serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menguat 2,20% ke Rp5.100.

Kontras dengan performa IHSG, mayoritas bursa saham Asia bergerak positif. Reli saham teknologi dan optimisme investor yang tumbuh terhadap prospek ekonomi kawasan menjadi pendorong utama penguatan tersebut.

Pasar Korea Selatan menjadi sorotan setelah indeks KOSPI melonjak lebih dari 1,5% dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis 9.000. Momentum itu turut mengangkat indeks saham Taiwan hampir 1%, yang bersama KOSPI mendorong indeks MSCI Emerging Markets Asia ke posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Di Singapura, indeks FTSE Straits Times mencetak rekor tertinggi baru setelah menguat selama enam sesi berturut-turut, termasuk kenaikan 1,2% pada perdagangan sebelumnya. Indeks saham Filipina juga naik 0,8%, sementara pasar Malaysia dan Thailand bergerak relatif terbatas.

Aset keuangan Indonesia justru menghadapi tekanan dari berbagai arah. Selain IHSG yang pada satu titik sempat melemah hingga 2,4%, rupiah juga terdepresiasi ke level Rp17.865 per dolar AS menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Sepanjang tahun ini, rupiah beberapa kali mencatat level terlemah terhadap dolar AS. Tekanan tersebut dipicu kekhawatiran investor atas arah kebijakan fiskal pemerintah serta volatilitas harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters, bank sentral Taiwan diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan moneter terdekat.