periskop.id - Penemuan spesies baru di Kamboja dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti bahwa kawasan Asia Tenggara masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Salah satu temuan terbaru adalah spesies tokek gua bernama Cyrtodactylus regicavernicolus atau “royal cave bent-toed gecko” yang ditemukan di Provinsi Kampot pada 2024. 

Tidak hanya satu, penelitian lanjutan bahkan menemukan beberapa spesies baru lainnya dalam waktu singkat. Dalam satu ekspedisi di kawasan karst, ilmuwan berhasil mengidentifikasi tiga spesies tokek baru hanya dalam satu malam penelitian.  Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Kamboja masih jauh dari kata “terpetakan” secara ilmiah.

Daftar Spesies Baru yang Ditemukan

Berikut beberapa contoh spesies baru yang ditemukan di Kamboja:

Cyrtodactylus regicavernicolus (tokek gua kerajaan)

Tiga spesies tokek baru dari kawasan karst Battambang (belum semuanya dinamai secara resmi)

Berbagai fauna lain seperti katak, ular, hingga invertebrata kecil yang masih dalam proses identifikasi

Penelitian terbaru bahkan mengindikasikan bahwa masih banyak spesies yang belum dideskripsikan secara ilmiah, terutama di kawasan terpencil.  Ini menjadikan Kamboja sebagai salah satu “hotspot” biodiversitas baru di dunia.

Habitat Batuan Kapur (Karst) yang Unik

Kunci utama dari banyaknya penemuan spesies baru ini terletak pada habitat batuan kapur atau karst. Karst adalah bentang alam yang terbentuk dari pelapukan batu kapur selama jutaan tahun, menciptakan gua, celah, dan bukit terisolasi.

Lingkungan ini bersifat unik karena setiap bukit karst dapat berfungsi seperti “pulau biologis” yang terpisah. Akibatnya, spesies yang hidup di satu lokasi bisa berevolusi secara mandiri dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. 

Namun, kawasan ini juga sangat rentan terhadap aktivitas manusia, terutama industri semen yang membutuhkan batu kapur sebagai bahan utama.

Gua Kamboja: Surga Tersembunyi bagi Spesies Endemik

Gua-gua di Kamboja menjadi rumah bagi berbagai spesies yang memiliki adaptasi ekstrem. Banyak hewan gua memiliki ciri khas seperti warna tubuh pucat, mata yang mengecil, atau kemampuan hidup dalam kondisi minim cahaya.

Peneliti menyebut bahwa memasuki satu gua saja bisa membuka peluang menemukan spesies baru. Ekosistem gua yang tertutup dan stabil memungkinkan evolusi berlangsung secara unik selama ribuan hingga jutaan tahun. 

Sayangnya, eksplorasi ilmiah masih terbatas, dan banyak gua belum pernah diteliti sama sekali.

Di balik penemuan yang menjanjikan, terdapat ancaman serius. Aktivitas penambangan batu kapur untuk industri semen menjadi risiko utama bagi habitat karst. Jika satu bukit karst hancur, maka spesies endemik yang hidup di dalamnya bisa punah sebelum sempat dipelajari. 

Para ilmuwan bahkan memperingatkan bahwa beberapa spesies mungkin sudah hilang sebelum sempat didokumentasikan.