periskop.id - Banyak orang beranggapan bahwa perempuan memiliki keuntungan besar di aplikasi kencan karena menerima lebih banyak perhatian dibanding laki-laki. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Di balik banyaknya notifikasi, match, dan pesan yang masuk setiap hari, banyak perempuan justru mengaku kesulitan menemukan pasangan yang benar-benar cocok untuk hubungan jangka panjang.
Fenomena ini tidak hanya muncul dalam pengalaman pribadi pengguna Tinder, Bumble, atau Hinge. Berbagai penelitian akademis, survei industri, hingga laporan media internasional menunjukkan bahwa perempuan menghadapi tantangan yang berbeda dari laki-laki.
Jika laki-laki sering mengeluhkan minimnya respons, perempuan justru harus menyaring terlalu banyak kandidat, menghadapi risiko keamanan, serta mengelola kelelahan emosional yang muncul dari proses pencarian pasangan yang tak kunjung berakhir.
Terlalu Banyak Pilihan
Salah satu paradoks terbesar dalam dunia kencan digital adalah banyaknya pilihan tidak selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Perempuan sering menerima jumlah match yang jauh lebih tinggi dibanding laki-laki. Studi mengenai perilaku pengguna Tinder menunjukkan bahwa perempuan memperoleh kecocokan atau match jauh lebih cepat dan dalam jumlah lebih banyak dibanding pengguna laki-laki.
Sekilas kondisi tersebut tampak menguntungkan. Namun dalam praktiknya, banyak perempuan harus menghabiskan waktu untuk memilah siapa yang benar-benar serius, siapa yang hanya mencari hubungan kasual, dan siapa yang bahkan tidak memiliki niat menjalin hubungan sama sekali.
Profesor sosiologi Elizabeth Bruch dan Mark Newman menemukan bahwa pasar kencan online menciptakan hierarki daya tarik yang sangat kompetitif.
Akibatnya, baik laki-laki maupun perempuan sering mengejar pasangan yang dianggap lebih menarik daripada dirinya, sehingga proses pencarian menjadi semakin kompleks dan penuh penolakan.
Dating Fatigue
Istilah dating fatigue atau kelelahan berkencan kini semakin sering muncul dalam berbagai studi dan laporan media. Pengguna merasa lelah karena harus terus menggeser layar, memulai percakapan baru, mengulangi cerita yang sama, lalu menghadapi kegagalan berulang kali.
Laporan yang dikutip The Times menyebut sekitar 70% perempuan pengguna Bumble mengaku mengalami kelelahan akibat aplikasi kencan.
Kondisi ini membuat banyak pengguna kehilangan motivasi untuk membangun koneksi yang sebenarnya berpotensi berkembang menjadi hubungan serius.
CEO Bumble, Lidiane Jones, bahkan mengakui bahwa sebagian perempuan merasa terbebani oleh ekspektasi untuk selalu mengambil langkah pertama dalam percakapan. Ia mengatakan bahwa Bumble sendiri secara konsep ingin memberi perempuan “lebih banyak pilihan” dalam cara mereka memulai interaksi.
Match Banyak, Kualitas Rendah
Masalah lain yang sering dikeluhkan perempuan adalah kualitas interaksi. Mendapatkan match ternyata jauh lebih mudah daripada menemukan seseorang yang mampu membangun komunikasi yang sehat dan konsisten.
Penelitian dari Monash University menemukan bahwa meskipun aplikasi seperti Bumble memberi perempuan lebih banyak kendali, hal tersebut tidak otomatis menghilangkan berbagai norma dan ekspektasi sosial yang sudah lama melekat dalam dunia kencan.
Banyak perempuan tetap merasa harus melakukan pekerjaan emosional tambahan untuk menjaga percakapan tetap berjalan.
Dalam penelitian lain mengenai pengalaman pengguna Bumble, sejumlah responden perempuan mengaku menggunakan berbagai strategi untuk menghindari pelecehan, manipulasi, maupun interaksi yang membuat mereka tidak nyaman.
Proses penyaringan ini sendiri pun berangakat dari pengalaman buruk berulang yang bahkan memerlukan energi banyak untuk bisa secara konsisten menerapkannya.
Ancaman Ghosting dan Ketidakjelasan Niat
Banyak perempuan mengeluhkan bahwa sebagian besar percakapan berakhir tanpa kejelasan. Setelah beberapa hari berbicara intensif, lawan bicara bisa saja menghilang begitu saja tanpa penjelasan.
Fenomena ghosting menjadi semakin umum karena aplikasi kencan memberikan akses ke banyak alternatif. Ketika seseorang merasa selalu ada pilihan baru yang lebih menarik, komitmen terhadap satu hubungan menjadi lebih sulit terbentuk.
Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai “illusion of choice” atau ilusi pilihan yang tak terbatas.
Akibatnya, perempuan sering merasa hubungan yang sedang dibangun bisa berakhir kapan saja tanpa alasan yang jelas. Sederhananya, setiap pengguna secara tidak langsung dituntut untuk tidak berpikir bahwa mereka sedang menjadi satu-satunya pilihan si lawan bicara.
Faktor Keamanan
Berbeda dengan laki-laki, perempuan cenderung harus mempertimbangkan aspek keamanan secara lebih serius saat menggunakan aplikasi kencan.
Penelitian mengenai pengalaman perempuan di Bumble menunjukkan bahwa banyak pengguna memilih aplikasi tertentu karena dianggap lebih aman dan memberi mereka kendali lebih besar terhadap interaksi awal. Namun para peneliti juga menekankan bahwa fitur teknologi tidak sepenuhnya mampu menghilangkan risiko pelecehan, manipulasi, maupun perilaku tidak pantas dari pengguna lain.
Studi lain mengenai interaksi seksual yang dimediasi aplikasi kencan juga menemukan adanya kesalahpahaman terkait persetujuan (consent) dan ekspektasi seksual yang dapat meningkatkan kerentanan pengguna terhadap pengalaman negatif.
Perempuan Lebih Selektif
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perempuan umumnya lebih selektif dalam memilih pasangan dibanding laki-laki. Selektivitas ini bukan sekadar soal penampilan, melainkan juga berkaitan dengan stabilitas emosional, nilai hidup, tujuan hubungan, hingga keamanan pribadi.
Penelitian yang menganalisis ribuan pengguna aplikasi kencan menemukan bahwa perempuan cenderung mempertimbangkan lebih banyak faktor sebelum memutuskan melanjutkan hubungan. Konsekuensinya, proses pencarian pasangan menjadi lebih panjang dan melelahkan.
Secara Struktur Aplikasi Kencan Tak Dirancang untuk Hubungan Jangka Panjang
Beberapa ahli menilai bahwa struktur aplikasi kencan sendiri dapat menjadi hambatan. Sistem swipe yang cepat mendorong pengguna membuat keputusan berdasarkan foto dan kesan singkat, bukan kompatibilitas yang lebih mendalam.
Profesor psikologi Paul Eastwick dari University of California, Davis, mengatakan bahwa banyak aplikasi kencan “sebagian besar hanya membuang waktu” jika tujuan pengguna adalah menemukan pasangan yang benar-benar kompatibel.
Menurutnya, kecocokan antara dua personal sangat umum tumbuh melalui interaksi berulang dalam kehidupan nyata, bukan dari proses penyaringan profil yang sangat cepat.
Ia menambahkan bahwa hubungan yang kuat sering berkembang secara perlahan melalui pengalaman bersama, bukan semata-mata karena ketertarikan instan pada foto profil.
Pada akhirnya, satu fakta yang jelas-jelas bisa kita sepakati adalah “aplikasi kencan memang mempermudah pertemuan antara dua orang asing,” namun hubungan yang sehat dan berkelanjutan tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diberikan algoritma: waktu, konsistensi, dan koneksi emosional yang tumbuh secara manusiawi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar