Periskop.id - Banyak orang masih percaya bahwa hubungan asmara sebaiknya dijalani pelan-pelan tanpa terlalu cepat membahas hal serius. Dalam dunia kencan, aturan seperti jual mahal, tidak mengirim pesan lebih dulu, menghindari obrolan berat, hingga membiarkan hubungan “mengalir saja” sering dianggap sebagai cara aman agar tidak terlihat terlalu serius di awal.
Namun, psikolog klinis Sabrina Romanoff menilai kebiasaan tersebut justru tidak selalu membantu hubungan bertahan lama. Dalam opini yang terbit di CNBC, Senin (29/6), psikolog lulusan Harvard itu menyebut pasangan yang kuat biasanya tidak mengikuti aturan kencan populer semacam itu.
“Pasangan paling kuat justru tidak mengikuti aturan-aturan tersebut,” kata Romanoff.
Menurutnya, pasangan yang hubungannya sehat dan bertahan lama tidak menunggu momen tertentu hanya karena dianggap lebih pantas secara sosial. Mereka justru berani membahas hal-hal penting ketika waktunya terasa tepat bagi hubungan mereka.
Hubungan Perlu Didefinisikan, Bukan Ditebak-Tebak
Romanoff mengatakan pasangan yang kuat biasanya tidak menunggu garis waktu tertentu untuk membicarakan status hubungan. Ketika hubungan terasa sudah siap, mereka berani membahas soal eksklusivitas dan arah hubungan ke depan.
Bagi banyak perempuan, obrolan seperti ini sering terasa menegangkan karena ada kekhawatiran dianggap terlalu menuntut atau membuat pasangan takut. Namun, Romanoff menilai rasa canggung dalam percakapan tersebut adalah hal wajar.
Ia menyarankan seseorang membuka pembicaraan dengan kalimat yang lembut, misalnya menyampaikan bahwa ia senang menghabiskan waktu bersama pasangannya dan ingin terus membangun hubungan tersebut.
“Jika percakapan terasa sedikit tidak nyaman atau canggung, atau jika kamu perlu membicarakannya lebih dari sekali, itu bukan tanda hubungan akan berakhir,” kata Romanoff.
Menurutnya, hal paling penting adalah kejelasan. Hubungan yang sehat tidak dibangun dari tebak-tebakan, melainkan dari keberanian untuk menyampaikan kebutuhan dan harapan secara terbuka.
“Yang penting adalah bersikap jelas dan terbuka tentang apa yang kamu inginkan ke depannya,” ujarnya.
Bahas Hal Prinsip Sebelum Terlalu Jauh
Selain status hubungan, Romanoff juga menilai pasangan perlu membicarakan hal-hal yang tidak bisa dikompromikan sejak awal. Topik ini bisa mencakup keinginan memiliki anak, rencana tempat tinggal, keyakinan pribadi, hingga keuangan.
Namun, ia menegaskan pembicaraan tersebut tidak perlu dilakukan seperti interogasi.
“Percakapan ini tidak perlu dilakukan seperti interogasi pada kencan pertama,” kata Romanoff.
Menurutnya, membicarakan hal prinsip sejak awal penting agar seseorang tidak baru menyadari ketidakcocokan mendasar setelah hubungan berjalan berbulan-bulan. Bagi perempuan, ini juga bisa menjadi cara untuk menjaga diri agar tidak terlalu jauh menaruh perasaan pada hubungan yang ternyata memiliki arah berbeda.
Romanoff menyarankan agar seseorang menyampaikan preferensinya lebih dulu sebelum bertanya kepada pasangan. Misalnya, menjelaskan mengapa ingin tinggal di kota tertentu karena dekat dengan keluarga, lalu menanyakan apakah pasangan memiliki bayangan hidup yang sama.
Cara ini dinilai lebih nyaman dibanding langsung bertanya secara kaku, seperti “Kamu ingin tinggal di mana?” Sebab, obrolan yang diawali dengan keterbukaan biasanya terasa lebih aman dan tidak menghakimi.
Riwayat Hubungan Bukan Selalu Red Flag
Romanoff juga menyoroti pentingnya membicarakan riwayat hubungan. Menurutnya, pasangan yang berhasil tidak selalu menganggap masa lalu sebagai beban. Sebaliknya, mereka melihat pengalaman hubungan sebelumnya sebagai konteks penting untuk memahami satu sama lain.
“Pasangan yang berhasil secara aktif membagikan riwayat hubungan dan pola romantis mereka sejak awal,” ujar Romanoff.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa membicarakan masa lalu bukan berarti menjadikan pasangan sebagai tempat menumpahkan trauma secara berlebihan. Tujuannya bukan untuk memancing kecemburuan atau membuat pasangan berperan seperti terapis.
Yang lebih penting adalah memahami bagaimana seseorang merespons tekanan, apa yang pernah menyakitinya, dan pola apa yang mungkin muncul dalam hubungan saat ini.
“Mengetahui bagaimana seseorang pernah mencintai dan terluka sebelumnya dapat memberi gambaran tentang bagaimana ia akan bersikap di masa kini,” kata Romanoff.
Dengan memahami pola tersebut, pasangan bisa lebih peka terhadap kebutuhan emosional masing-masing. Hal ini juga membantu seseorang membedakan antara masa lalu yang sudah diproses dan luka yang masih memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan.
Ikatan Emosional Dibangun dari Hal Kecil
Romanoff menegaskan, pasangan yang kuat tidak menunggu ikatan emosional muncul begitu saja. Mereka membangunnya melalui hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Ikatan emosional bisa terbentuk dari kesepakatan sederhana, seperti frekuensi bertukar pesan, cara memberi kabar ketika sedang sibuk, membagi waktu antara pasangan dan teman, atau saling mendukung setelah hari yang melelahkan.
Ia mencontohkan, seseorang bisa menyampaikan bahwa ia merasa lebih tenang jika diberi tahu ketika pasangannya tidak bisa dihubungi untuk sementara waktu. Bisa juga dengan mengungkapkan bahwa pesan selamat pagi membuatnya merasa diperhatikan.
Bagi Romanoff, hal-hal kecil seperti ini membantu pasangan memahami apa yang membuat masing-masing merasa dihargai dan apa yang justru membuat mereka menutup diri.
“Ketika konflik yang lebih besar muncul, mereka sudah memiliki peta untuk menghadapinya,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar