periskop.id - Teknologi canggih yang awalnya dibuat untuk memudahkan hidup, ternyata bisa jadi masalah serius kalau dipakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Alih-alih membantu, justru bisa mengancam privasi dan bahkan disalahgunakan untuk tindakan seperti pelecehan seksual.
Kacamata pintar dari Meta (Ray-Ban Meta Smart Glasses) yang digadang-gadang bakal jadi pengganti ponsel, kini justru menuai sorotan. Pasalnya, perangkat ini dilaporkan disalahgunakan oleh oknum pria tidak bertanggung jawab untuk merekam perempuan tanpa sepengetahuan mereka.
Video hasil rekaman itu kemudian diunggah ke internet dan memicu kekhawatiran serius dari para pegiat privasi. Mereka menilai, risiko penyalahgunaan teknologi ini bisa jadi jauh lebih berbahaya jika perangkat tersebut dilengkapi dengan fitur pengenalan wajah karena memungkinkan identitas korban diketahui secara cepat tanpa persetujuan.
Melansir New York Post pada Selasa (14/4), Wired melaporkan bahwa semakin banyak kreator konten yang memanfaatkan kacamata pintar untuk mengubah interaksi di dunia nyata menjadi bahan konten.
Dalam laporan tersebut, sejumlah pria diduga menyalahgunakan perangkat ini dengan berkeliaran di area publik seperti pantai, pusat hiburan malam, pusat perbelanjaan, hingga jalanan kota untuk merekam perempuan tanpa sepengetahuan mereka.
Modus yang digunakan adalah mendekati korban terlebih dahulu, lalu memulai percakapan ringan seperti memberikan pujian atau meminta nama dan nomor telepon. Namun di saat yang sama, mereka diduga merekam bagian tubuh korban secara diam-diam.
Video hasil rekaman itu kemudian diunggah ke platform seperti TikTok dan Instagram untuk mengejar jumlah penonton, tanpa korban mengetahui bahwa dirinya sedang direkam.
Fenomena ini kemudian memicu reaksi keras dari publik hingga membuat perangkat tersebut dijuluki sebagai “kacamata mesum”. Para pengkritik juga menyebut perilaku para pelaku sebagai tindakan predator yang melanggar privasi dan etika.
Ray-Ban Meta Smart Glasses sebagai perangkat teknologi canggih masa kini sebenarnya sudah dibekali lampu indikator (LED) kecil yang akan menyala saat proses perekaman berlangsung. Namun, fitur keamanan ini dinilai masih punya celah. Oknum yang menyalahgunakan kacamata pintar tersebut bisa saja menutupi lampu LED dengan selotip hitam atau bahkan spidol permanen, sehingga aktivitas merekam tidak terlihat sama sekali.
Melansir laporan Wired, penggunaan kacamata pintar ini juga semakin marak di kalangan kreator konten untuk merekam momen secara natural di dunia nyata. Sayangnya, tren ini ikut dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk membuat konten tanpa persetujuan orang yang direkam.
Kecaman Publik dan Seruan Pengaturan Hukum yang Lebih Tegas
Fenomena penyalahgunaan kacamata pintar Meta Platforms ini memicu gelombang protes dari publik, terutama komunitas yang fokus pada perlindungan hak perempuan.
Penggunaan teknologi untuk tujuan tidak pantas tersebut dinilai sebagai ancaman serius yang bisa menjadi kemunduran dalam rasa aman di ruang publik, seperti transportasi umum, pusat perbelanjaan, hingga area keramaian lainnya.
Sejumlah sorotan utama yang muncul meliputi lemahnya kontrol penggunaan perangkat, dampak psikologis bagi korban, serta regulasi hukum yang dinilai belum mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Di sisi lain, meskipun produk ini membawa inovasi baru, Meta dinilai belum sepenuhnya mampu memastikan perangkatnya tidak disalahgunakan untuk melanggar privasi. Kehadiran kacamata pintar ini juga membuat sebagian orang merasa diawasi sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman saat beraktivitas di ruang publik.
Selain itu, warganet dan pegiat digital menilai bahwa aturan terkait perangkat wearable di banyak negara, termasuk Indonesia, masih belum cukup spesifik untuk menjerat pelaku perekaman ilegal menggunakan teknologi seperti kacamata pintar.
Tinggalkan Komentar
Komentar