periskop.id- Intensitas perjalanan dinas luar negeri yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto belakangan ini mulai memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan.

 

Advertisement

Mantan diplomat hingga pengamat politik menyoroti besarnya frekuensi lawatan internasional sang kepala negara, terutama setelah kunjungan terbarunya ke Prancis.

 

Sederet perjalanan itu dinilai memboroskan anggaran negara di tengah kondisi ekonomi warga yang serba sulit.

 

Menanggapi hal itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, alasan Presiden Prabowo Subianto cukup sering melakukan kunjungan luar negeri demi membangun hubungan kuat dengan para pemimpin dunia. Langkah ini diambil sebagai langkah antisipasi di tengah situasi global penuh ketidakpastian.

 

"Setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan, tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan dan begitu pula sebaliknya," kata Teddy di Jakarta, Senin (1/06).

 

Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan resmi Sekretariat Kabinet. Penjelasan ini menjadi respons atas aspirasi mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait intensitas perjalanan internasional sang Presiden.

 

Teddy menilai perkembangan dunia global sangat dinamis setiap harinya. Oleh karena itu, kepala negara memiliki jadwal tahunan yang sudah pasti.

 

Di samping itu, ada pula jadwal mendesak. Agenda tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri.

 

Presiden Prabowo Subianto sendiri mulai memimpin Indonesia di tengah berbagai krisis internasional. Konflik global ini sedang terjadi di sejumlah kawasan dunia.

 

Kondisi tersebut menuntut kepala negara aktif menjalin komunikasi. Hubungan langsung dengan para pemimpin negara lain menjadi hal krusial.

 

Hubungan antarnegara tidak dapat dibangun secara instan ketika krisis melanda. Presiden Prabowo perlu membangun kedekatan dan kepercayaan sejak awal.

 

Diplomasi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan formal terbuka. Komunikasi personal yang berlangsung tertutup juga menjadi bagian strategi.

 

"Beliau lah yang mengetahui mana yang prioritas, mana pertemuan yang harus diutamakan. Mana pertemuan yang bisa langsung ataupun cukup menggunakan telpon, mana pertemuan yang perlu diberitakan, mana yang tidak diberitakan," terang Teddy.