periskop.id - Pernahkah kamu mendengar istilah bahwa ijazah sarjana adalah "tiket emas" menuju kesuksesan? Dulu, anggapan ini sangat kuat. Orang tua kita sering berkata, "Kuliah yang rajin biar gampang cari kerja."
Namun, tampaknya angin perubahan sedang bertiup kencang di dunia pendidikan dan ketenagakerjaan. Sebuah studi terbaru membawa kabar yang cukup mengejutkan, separuh dari Generasi Z (Gen Z) kini merasa bahwa gelar sarjana yang mereka perjuangkan dan biayai dengan mahal sebenarnya tidak terlalu berguna.
Riset yang dilakukan oleh Indeed Hiring Lab mengungkapkan bahwa permintaan perusahaan terhadap gelar sarjana semakin menurun. Lebih jauh lagi, survei ini menyoroti perasaan skeptis yang tumbuh di kalangan pekerja muda mengenai Return on Investment (ROI) atau timbal balik modal dari pendidikan tinggi.
Mari kita bedah fenomena ini lebih dalam. Apakah benar kuliah itu sia-sia atau ada faktor lain yang membuat nilainya tergerus? Berikut ulasan lengkapnya.
Gelar Kuliah Kini Bukan Tiket Emas Lagi? Ini Fakta yang Membuat Gen Z Skeptis
Persepsi tentang nilai sebuah gelar ternyata sangat bergantung pada kapan kamu lahir dan memasuki dunia kerja. Studi yang dilakukan secara daring oleh The Harris Poll atas nama Indeed pada Maret 2025 terhadap 772 orang dewasa di Amerika Serikat (AS) menunjukkan adanya kesenjangan pandangan yang sangat tajam antargenerasi.
Mari kita lihat datanya. Hanya 20% dari generasi Baby Boomer yang menganggap gelar mereka sebagai pemborosan uang. Bagi mereka, kuliah adalah investasi yang hampir pasti menguntungkan. Namun, angka skeptisme ini terus merangkak naik sekitar 10% pada setiap generasi setelahnya, hingga puncaknya terjadi pada Gen Z. Hasil studi menunjukkan 51% responden gen Z, merasa skeptis terhadap nilai gelar mereka.
Mengapa pergeseran drastis ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada kondisi ekonomi makro. Selama beberapa dekade, memiliki gelar sarjana identik dengan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan lulusan sekolah menengah. Data dari Federal Reserve Bank of San Francisco mencatat bahwa dari tahun 1980 hingga 2010, kesenjangan pendapatan ini melebar signifikan yang menguntungkan para sarjana. Namun, belakangan ini, para ekonom melihat bahwa upah yang tinggi bagi lulusan perguruan tinggi telah mencapai titik jenuh. Artinya, kenaikan gaji bagi lulusan baru tidak lagi sepesat dulu.
Masalah ini diperparah dengan biaya pendidikan yang meroket tak terkendali. Laporan dari U.S. News menyebutkan bahwa biaya kuliah di universitas-universitas Amerika Serikat, baik negeri maupun swasta telah melonjak antara 32% hingga 45% dalam dua dekade terakhir, bahkan setelah disesuaikan dengan inflasi.
Inilah akar masalahnya, gen Z menghadapi biaya masuk yang jauh lebih mahal daripada orang tua mereka, tetapi menghadapi pasar kerja dengan tawaran gaji yang stagnan.
Wajar jika mereka merasa rugi, ketika investasi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan, skeptisisme adalah respons yang sangat rasional. Ini bukan tentang gen Z yang tidak menghargai pendidikan, melainkan tentang realitas ekonomi yang semakin sulit dijangkau.
52% Lulusan Punya Utang, Gen Z Lebih Percaya Bisa Sukses Tanpa Gelar
Biaya kuliah yang selangit memang memberatkan, tetapi utang mahasiswa adalah "pukulan kedua" yang benar-benar bikin pusing. Bagi banyak orang, lulus kuliah tidak hanya membawa pulang ijazah, tetapi juga tagihan bulanan yang menghantui selama bertahun-tahun.
Data Indeed menunjukkan fakta pahit, sebanyak 52% responden lulus dengan utang, sebanyak 58% Milenial menjadi yang paling terdampak. Bukannya jadi pendorong sukses, bagi 38% responden, utang ini justru menghambat karier karena mereka jadi sulit menabung atau berinvestasi. Tak heran jika mereka yang berhutang (41%) lebih cenderung merasa kuliah itu buang-buang uang dibanding yang tidak punya utang.
Di tengah tekanan biaya ini, muncul tren baru, bahwa keterampilan lebih penting daripada gelar. Gen Z paling sadar akan hal ini. Sebanyak 68% dari mereka yakin bisa bekerja tanpa ijazah sarjana, tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Per Januari 2024, 52% lowongan di Indeed tidak lagi mewajibkan pendidikan formal, naik dari tahun 2019.
Inilah paradoksnya, kita membayar semakin mahal untuk kuliah, padahal dunia kerja kini justru makin tidak peduli pada gelar dan lebih mencari bukti skill yang nyata.
Jangan Buru-Buru Berhenti Kuliah! Ini Alasan Ijazah Masih Penting di Era Artificial Intelligence (AI)
Lantas, apakah kita harus berhenti kuliah? Belum tentu. Meski kemampuan teknis kini bisa digantikan mesin, pola pikir yang dibentuk saat kuliah tetaplah krusial, apalagi di era AI.
Ambil contoh Nico Maggioli, seorang lulusan desain. Baginya, AI memang bisa mengerjakan detail teknis, tetapi tidak bisa menggantikan kreativitas dan strategi manusia. Di sinilah peran kuliah, mengajarkan kita cara berpikir, bukan sekadar hafalan teknis yang cepat usang.
Karena teknologi berubah sangat cepat, pendidikan yang hanya fokus pada teknik terbaru akan cepat basi sebelum mahasiswanya wisuda. Maka, kampus harus bergeser fokus ke soft skills, seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan belajar hal baru yang tidak bisa ditiru oleh algoritma.
Pesannya jelas, masa depan adalah milik mereka yang mengutamakan skill, bukan cuma ijazah. Pemberi kerja kini mencari bukti bakat nyata. Jadi, tunjukkan keahlianmu dari hobi, proyek, atau organisasi. Di zaman AI ini, kemampuan beradaptasi jauh lebih berharga daripada sekadar gelar sarjana.
Tinggalkan Komentar
Komentar