periskop.id - Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menanggapi keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi pasar modal Indonesia sekaligus menyoroti langkah FTSE Russell yang menunda review indeks saham Indonesia.

Menurut Josua, kedua keputusan ini seharusnya tidak dipandang sebagai hal negatif, melainkan sebagai momentum penting bagi pemerintah dan pasar untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi kepemilikan saham, serta memperbaiki mekanisme pasar modal secara menyeluruh.

"Ini adalah lesson learned. Jangan dianggap negatif. Justru melalui respons kita terhadap catatan tersebut terlihat apa saja yang perlu diperbaiki, mulai dari kondisi ekonomi, tata kelola perusahaan, hingga keterbukaan informasi dan UBO," ujar Josua kepada wartawan di Amanaia Resto, Jakarta, Kamis (12/2).

Josua menuturkan, perilaku investor global diperkirakan akan cenderung wait and see, menunggu komitmen pemerintah dalam merespons catatan MSCI dan FTSE Russell sebelum mengambil keputusan investasi.

"Saya pikir pastinya akan wait and see juga, menunggu bagaimana komitmen ataupun respons dari pemerintah terkait MSCI dan FTSE Russell. Meski prospek fiskal Indonesia tetap aman, mereka mencatat beberapa hal kualitatif yang perlu diperhatikan, terutama terkait produktivitas dan proyek investasi yang diharapkan meningkat tahun ini," tambahnya.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini juga telah menunjukkan komitmen kuat untuk melakukan reformasi menyeluruh di pasar modal, tercermin dari agenda reformasi pasca kejadian MSCI sebelumnya. Ia juga mengatakan, setiap catatan negatif dari lembaga internasional biasanya memicu langkah-langkah positif, mulai dari perbaikan tata kelola hingga peningkatan komunikasi kebijakan.

"Biasanya setelah hal negatif yang terjadi secara historis, selalu ada reformasi baru yang muncul," lanjutnya.

Menurut Josua, yang paling penting saat ini adalah bagaimana pemerintah dan pelaku pasar memanfaatkan momen ini untuk berbenah diri. Setiap masukan atau catatan dari lembaga internasional harus dijadikan dorongan untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, dan menyempurnakan komunikasi kebijakan.

“Ini bisa menjadi pemicu untuk memperkuat tata kelola, memastikan kebijakan dijalankan dengan tepat, dan meningkatkan komunikasi secara lebih jelas dan efektif. Dengan langkah-langkah ini, kepercayaan investor dapat tumbuh dan pasar modal Indonesia akan menjadi lebih sehat serta berkelanjutan,” imbuhnya.

Dengan pendekatan ini, Josua menegaskan catatan MSCI dan FTSE Russell bukanlah ancaman, melainkan alarm positif untuk memperkuat fondasi ekonomi dan pasar modal nasional.

"Bagi pemerintah dan pasar, ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memantapkan reformasi, dan membangun ekosistem yang lebih transparan, inklusif, serta kompetitif di mata dunia," pungkasnya.