periskop.id - Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang istirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Di tengah malam yang tenang, salat Tarawih hadir sebagai media bagi kita untuk kembali pulang dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mengapa ibadah ini selalu menjadi momen yang paling dirindukan setiap tahunnya? Lebih dari sekadar tradisi masjid yang ramai, Tarawih adalah gerbang ampunan dosa yang dibuka lebar bagi siapa saja yang melaksanakannya dengan iman. Mari kita bedah lebih dalam mengenai keistimewaan, panduan niat, hingga tata cara pelaksanaannya agar ibadah malam Anda kian bermakna.
Mengapa Salat Tarawih Begitu Istimewa?
Para ulama sepakat bahwa hukum salat Tarawih adalah sunah muakkadah atau sunah yang sangat dianjurkan bagi laki-laki maupun perempuan. Tarawih tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Keutamaan besar ibadah ini ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa barang siapa yang menunaikan qiyam Ramadan dengan landasan iman dan penuh harap akan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Keistimewaan lainnya terletak pada perannya sebagai bentuk menghidupkan malam (qiyamul lail). Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meski kata "Tarawih" tidak disebut secara eksplisit dalam hadis, para ulama sepakat bahwa ibadah inilah yang dimaksud untuk mengisi malam Ramadan.
Waktu Pelaksanaan dan Batas Akhir
Waktu salat Tarawih dimulai segera setelah salat Isya ditunaikan dan berakhir sesaat sebelum masuknya waktu subuh. Rentang waktu yang panjang ini memberikan fleksibilitas bagi umat muslim untuk memilih waktu terbaik mereka.
Satu poin krusial yang perlu diperhatikan adalah batas akhir pelaksanaannya. Jika fajar telah menyingsing atau waktu subuh telah masuk, maka salat Tarawih tidak lagi sah untuk dikerjakan. Oleh karena itu, bagi Anda yang berencana menggabungkan Tarawih dengan salat tahajud di sepertiga malam terakhir, pastikan untuk memantau jadwal imsak agar ibadah tidak terputus oleh masuknya waktu fajar.
Panduan Niat Salat Tarawih
Niat adalah rukun pertama yang menentukan keabsahan salat. Berikut adalah bacaan niat yang dapat Anda gunakan sesuai dengan posisi saat melaksanakan ibadah:
- Sebagai Makmum (Berjamaah):
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
(Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini mustaqbilal qiblati ma’muuman lillahi ta’aalaa)
Artinya: "Aku niat salat sunah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala."
- Sebagai Imam (Berjamaah):
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى
(Ushollii sunnatat-taraawiihi rok’ataini mustaqbilal qiblati adā’an imaaman lillaahi ta’alaa)
Artinya: "Aku niat salat sunah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala."
- Salat Sendiri (Munfarid):
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى
(Usholli sunnatattarowihi rok’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala)
Artinya: "Aku niat salat sunah Tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala."
Tata Cara Pelaksanaan Langkah-demi-Langkah
Secara teknis, salat Tarawih memiliki gerakan dan bacaan yang sama dengan salat sunah lainnya. Perbedaannya terletak pada niat dan pelaksanaannya yang dilakukan setiap dua rakaat satu salam. Berikut adalah urutan ringkasnya:
- Membaca niat sesuai posisi (imam/makmum/sendiri) diikuti Takbiratul Ihram.
- Membaca doa iftitah, Surah Al-Fatihah, dan salah satu surah dari Al-Qur'an (dianjurkan surah pendek agar tidak memberatkan).
- Melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua dengan tumaninah (tenang).
- Duduk sejenak sebelum berdiri untuk rakaat kedua.
- Mengerjakan rakaat kedua dengan urutan yang sama, diakhiri dengan tasyahud akhir dan salam.
- Ulangi rangkaian ini hingga jumlah rakaat yang diinginkan (8 atau 20 rakaat) terpenuhi.
- Dianjurkan membaca istighfar dan doa setelah salat Tarawih setelah seluruh rangkaian Tarawih selesai sebelum beranjak ke salat witir.
Memahami Perbedaan Jumlah Rakaat
Diskusi mengenai jumlah rakaat Tarawih merupakan hal yang lumrah dan telah ada sejak lama di kalangan ulama. Perlu dipahami bahwa tidak ada hadis yang secara tegas membatasi jumlah rakaat yang harus dilakukan. Perbedaan pendapat ini justru dipandang sebagai rahmat bagi umat muslim. Terdapat tiga pendapat utama yang umum dijumpai:
- 8 Rakaat:
Merujuk pada hadis Aisyah RA yang menyebut bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melebihi 11 rakaat (termasuk witir), baik di bulan Ramadan maupun di luarnya.
- 20 Rakaat:
Merujuk pada praktik Khalifah Umar bin Khattab RA dan para sahabat yang kemudian diikuti oleh mayoritas ulama empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).
- 36 Rakaat:
Berdasarkan praktik ulama salaf di Madinah yang diikuti oleh sebagian mazhab Maliki.
Meski berbeda-beda, yang paling penting bukanlah mana yang paling banyak atau sedikit, melainkan kekhusyukan dan keikhlasan dalam mengerjakannya. Masing-masing pendapat memiliki dasar yang kuat dan layak dihormati.
Tinggalkan Komentar
Komentar