periskop.id - Konflik antara Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar ketegangan diplomatik biasa. Hubungan kedua negara telah diwarnai kudeta, revolusi, perang bayangan, hingga serangan militer terbuka yang mengguncang stabilitas Timur Tengah. 

Dari perebutan kepentingan minyak pada 1950-an hingga isu nuklir dan operasi militer terbaru pada 2026, rivalitas ini terus berkembang dan kini berpotensi memicu dampak global, termasuk ancaman krisis energi dunia. 

Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula konflik ini terjadi dan bagaimana kronologinya berkembang hingga hari ini?

Dari Minyak ke Kudeta: Awal Panasnya Konflik Iran dan Amerika Serikat

Menurut artikel jurnal “Analisis Sejarah Penyebab Awal Konflik antara Amerika Serikat dan Iran” (2024), awal ketegangan kedua negara bermula pada 1951. Saat itu, Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh menasionalisasi industri minyak agar keuntungannya dinikmati rakyat Iran, bukan perusahaan asing yang sebagian besar berasal dari Inggris.

Langkah ini dianggap mengancam kepentingan ekonomi Inggris dan Amerika Serikat karena Amerika Serikat sangat bergantung pada pasokan minyak Iran. Pada 1953, CIA dan MI6 melancarkan operasi rahasia bernama Operation Ajax, yang berujung pada penggulingan Mossadegh dan mengembalikan kekuasaan kepada Shah Mohammad Reza Pahlavi. Peristiwa ini memperkuat pengaruh Barat di Iran, tetapi juga menimbulkan kemarahan rakyat karena campur tangan asing dalam urusan negara mereka.

Selama berkuasa, Shah Mohammad Reza Pahlavi membawa Iran ke arah modernisasi dan menjalin hubungan sangat dekat dengan Amerika Serikat. Pembangunan berjalan cepat, tetapi di sisi lain pemerintahannya dinilai otoriter, penuh korupsi, dan tidak adil bagi sebagian rakyat.

Kekecewaan masyarakat akhirnya meledak dalam Revolusi Iran pada 1979. Revolusi ini menggulingkan Shah dan melahirkan Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini Sejak saat itu, arah politik Iran berubah drastis. Pengaruh Barat berakhir dan hubungan dengan Amerika Serikat berubah menjadi penuh ketegangan dan konfrontasi.

Sejak Revolusi Iran pada 1979, hubungan Iran dan Amerika Serikat terus memburuk. Pada tahun yang sama, terjadi krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran, ketika 52 diplomat Amerika ditahan selama 444 hari. Peristiwa ini membuat hubungan kedua negara semakin tegang dan mendorong Amerika Serikat untuk menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi dan politik terhadap Iran.

Insiden Ranjau Berujung Serangan Besar-besaran

Pada 1988, setelah sebuah kapal perang Amerika terkena ranjau yang dituduh berasal dari Iran, Angkatan Laut AS melancarkan serangan besar terhadap armada dan fasilitas minyak Iran dalam operasi bernama Operation Praying Mantis.

Serangan ini menghancurkan sejumlah kapal perang Iran dan merusak infrastruktur minyaknya. Peristiwa tersebut menjadi satu-satunya bentrokan militer langsung dan terbuka antara Iran dan Amerika Serikat. Operasi ini juga mengirim pesan tegas bahwa AS siap menggunakan kekuatan militer untuk menjaga kepentingannya di Timur Tengah, sekaligus menjadi momen penting menjelang berakhirnya Perang Iran-Irak.

Iran vs AS Lewat “Perang Bayangan” di Timur Tengah

Iran dan Amerika Serikat tidak selalu berhadapan langsung di medan perang. Sebaliknya, keduanya kerap terlibat dalam “perang proksi” atau perang lewat pihak ketiga.

Di Lebanon, Iran mendukung Hezbollah, kelompok yang sering berkonflik dengan Israel dan kepentingan Barat. Di Irak, Teheran memperkuat milisi Syiah yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan bagi pasukan AS setelah invasi 2003. Sementara di Suriah, Iran berdiri di belakang pemerintahan Bashar al-Assad yang berseberangan dengan kelompok oposisi yang didukung Barat.

Di Yaman, Iran juga dikaitkan dengan dukungan terhadap kelompok Houthi yang berperang melawan koalisi pimpinan Arab Saudi, sekutu utama AS di kawasan.

Strategi ini menunjukkan cara Iran melawan pengaruh Amerika secara tidak langsung, sekaligus memperluas pengaruh politik dan militernya di Timur Tengah.

Pembunuhan Jenderal Iran (2020)

Pada 2020, Amerika Serikat menewaskan Qasem Soleimani, salah satu jenderal paling berpengaruh di Iran, dalam serangan di Baghdad. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Irak.

Insiden ini sempat memicu kekhawatiran dunia akan pecahnya perang terbuka antara kedua negara. Di dalam negeri, peristiwa tersebut memicu gelombang protes anti-AS dan memperkuat sentimen nasionalisme di Iran.

Meski perang besar berhasil dihindari, kejadian ini semakin memperdalam permusuhan dan mempertegas sikap Iran untuk terus menantang pengaruh Amerika Serikat, baik lewat jalur militer maupun diplomasi di kawasan.

Harapan Baru Lewat Kesepakatan Nuklir

Pada 2015, di masa pemerintahan Barack Obama, Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara P5+1 plus Jerman menandatangani perjanjian nuklir yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Dalam kesepakatan ini, Iran setuju untuk membuka program nuklirnya kepada pemeriksaan internasional dengan alasan damai, sementara AS dan negara lain berjanji mencabut sanksi terhadap Iran. Ini dianggap sebagai momen penting untuk memperbaiki hubungan kedua negara.

AS Cabut dari JCPOA, Ketegangan Kembali Memuncak

Namun, pada 2018, ketika Donald Trump menjabat sebagai Presiden AS, ia membawa negaranya keluar dari JCPOA dan kembali menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Keputusan ini mengakhiri harapan hubungan membaik dan memicu meningkatnya ketegangan antara dua negara

Konflik Timur Tengah Berlatar Ketegangan Baru (2023-2025)

Ketegangan semakin tajam setelah 7 Oktober 2023 saat konflik besar pecah di Gaza. Dalam konteks itu, kelompok-kelompok bersenjata yang mendapat dukungan Iran seperti Houthi di Yaman dan Hezbollah di Lebanon turut terlibat dalam perlawanan terhadap Israel. Ketegangan ini kemudian memicu konflik lebih luas yang melibatkan kedua kekuatan besar, yaitu AS dan Iran. Berdasarkan laporan, konflik bersenjata antara Iran dan Israel memuncak pada Juni 2025 ketika Israel menargetkan fasilitas nuklir Iran dan AS ikut melakukan serangan terhadap beberapa situs nuklir Iran.

Operasi “Lion’s Roar” Picu Serangan Balasan Iran (2026)

Pada 28 Februari 2026, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara serta rudal ke sejumlah target penting di Iran. Operasi gabungan yang disebut Operation Lion’s Roar itu menyasar pangkalan militer, fasilitas pertahanan, hingga struktur kepemimpinan Iran.

Serangan tersebut langsung dibalas oleh Iran dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara sekutu Amerika di kawasan Teluk. Aksi saling serang ini membuat ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.

Ancaman Krisis Energi Global

Dalam jangka pendek konflik ang terjadi berisiko memicu krisis energi dunia. Sebab, sebagian besar jalur distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah ke Eropa dan Asia melewati Selat Hormuz, wilayah yang berada di sekitar pengaruh Iran. Jika jalur tersebut sampai diblokade, pasokan energi global bisa terganggu serius dan mendorong lonjakan harga minyak serta gas di pasar internasional.

Tak hanya itu, arus perdagangan dunia juga bergantung pada Terusan Suez di Mesir. Gangguan pada dua jalur strategis ini berpotensi menghambat lebih dari 30% perdagangan global. Situasi ini bukan sekadar persoalan konflik militer. Dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi dan perdagangan internasional, bahkan memicu krisis ekonomi global yang lebih besar.