periskop.id - Memanasnya konflik antara AS-Israel dan Iran menjadi perhatian dunia. Apalagi setelah terjadinya rentetan serangan militer dan saling ancam di antara ketiga negara tersebut. Bahkan, hal ini turut diikuti oleh kecaman yang dilakukan dari negara kawasan dan negara barat.

Di balik situasi tersebut, ada peran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dalam menjaga keamanan Iran. Korps elit militer Iran ini dapat dikatakan sebagai benteng perlawanan ketika merespons tekanan dari AS dan Israel, baik secara langsung maupun melalui sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah.

Selain bertugas menjaga keamanan negara dan mempertahankan ideologi Revolusi Islam Iran, korps ini juga dikenal aktif dalam operasi regional, mulai dari peluncuran rudal, penggunaan drone, hingga dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang berseberangan dengan kepentingan Amerika dan Israel.

Dalam kondisi konflik di kawasan Timur Tengah saat ini, keterlibatan IRGC dinilai berpotensi memperbesar skala ketegangan, sekaligus memperumit upaya meredam konflik yang sudah telanjur memanas.

Awal Pembentukan IRGC

Pada dasarnya, IRGC bukanlah pasukan militer reguler Iran. Pasukan ini merupakan cabang lain yang paling kuat dari angkatan bersenjata Iran. IRGC hanya bertanggung jawab kepada Kantor Pemimpin Tertinggi.

Melansir dari Britannica, kelompok ini didirikan pada tahun 1979 sebagai bagian dari revolusi Iran oleh Ruhollah Khomeini. 

Ia sekaligus sebagai pemimpin pertama pascarevolusi selama periode 1979-1989. Khomeini mendirikan IRGC pada April 1979 melalui surat keputusan resmi yang bertujuan untuk menyatukan dan mengorganisasi bermacam-macam kelompok paramiliter yang hadir di tengah-tengah kekacauan revolusi dan memiliki cita-cita revolusioner.

Pasukan ini berfungsi sebagai pendukung militer reguler Iran (Artesh). Hadirnya IRGC pun disebut secara tegas di dalam konstitusi baru yang disahkan di tahun yang sama.

IRGC memiliki prinsip berupa penolakan untuk tunduk di bawah kendali politik dan mengintegrasikannya ke dalam angkatan bersenjata reguler. Ketegangan kelompok militer ini dengan pemerintahan Iran terjadi ketika IRGC bersitegang dengan presiden pertama Iran, Abolhasan Bani-Sadr (1980-1981).

Konflik politik dengan beberapa pejabat negara itu berakibat pada pencopotannya jabatannya sebagai presiden pada tahun 1981.

Namun menariknya, presiden berikutnya, yaitu Mohammad Ali Raja’i dan Ali Khamenei (1981-1989) mendukung kelompok pendukung militer ini. Ali Khamenei secara penuh memberikan dukungan kepada IRGC dengan memberikan sumber daya yang besar.

Adanya dukungan elit politik, membuat IRGC mengalami perkembangan yang pesat dari kekuatan, struktur, dan kompleksitas. Pada 1985, Khomeini mendeklarasikan pengesahan terhadap pembentukan angkatan laut dan udara IRGC.

Perkembangan Kelompok IRGC

Penguatan posisi IRGC terjadi setelah masa kepemimpinan Ali Khamenei pada 1989. Ketika terpilihnya presiden Mohammad Khatami periode 1997-2005, IRGC mulai memasuki urusan politik negara. Hal ini karena adanya kebijakan reformasi yang dilakukan oleh Khatami yang dapat mengancam dominasi IRGC. Khamenei pun segera melakukan pembentukan unit inteljen untuk memperkuat pengaruh IRGC.

Penguatan posisi IRGC pun melonjak ketika masa kepresidenan Mahmoud Ahmadinejad periode 2005-2013. Apalagi, Ahmadinejad merupakan mantan anggota IRGC. Puluhan anggota IRGC pun memperoleh posisi strategis di pemerintahan. IRGC juga mendapatkan banyak pinjaman dana untuk membangun proyek-proyek besar.

Ketika meletusnya demonstrasi pada 2009 akibat adanya dugaan kecurangan pemilu dalam pemilihan Ahmadinejad, IRGC memegang peranan penting dalam meredam ketegangan demonstrasi. Khamenei sempat kecewa dengan Kementerian Intelijen karena tidak mampu mengatasi demonstrasi sehingga ia pun memperluas pembentukan unit intelijen IRGC.

Peran IRGC

IRGC memegang peran strategis dalam ranah politik dan keamanan Iran. Organisasi ini tidak hanya berfungsi sebagai pengawas rezim dalam negeri, tapi juga menjadi aktor utama dalam mendukung dan mengoordinasikan jaringan milisi yang tersebar di berbagai wilayah di Timur Tengah. Untuk menjalankan operasi dan pengaruhnya di luar negeri, IRGC mengandalkan Quds Force untuk melawan pengaruh Barat dan Israel.

Selain itu, IRGC juga memiliki peran besar di sektor perekonomian dengan keterlibatan langsung dalam bidang infrastruktur, perbankan, konstruksi, dan perdagangan. Dominasi ekonomi ini memperluas jaringan kekuasaan IRGC di dalam negeri sekaligus menopang keberlanjutan agenda militer dan politik yang dijalankannya.