Periskop.id - Longsor TPST Bantargebang menjadi salah satu risiko serius dalam sistem pengelolaan sampah Jakarta yang setiap hari menghasilkan ribuan ton sampah. Risiko ini tidak hanya muncul dalam bentuk dampak lingkungan, melainkan juga korban jiwa.
Kabar duka sekaligus peringatan keras kembali datang dari fasilitas pembuangan sampah utama ibu kota. Longsor TPST Bantargebang dilaporkan terjadi pada Minggu (8/3), dalam rentang waktu sekitar pukul 14.30 hingga 15.30 WIB.
Titik longsor utama teridentifikasi berada di Zona 4A. Longsoran material sampah yang sangat besar menimbun sedikitnya lima unit truk sampah yang sedang beroperasi di lokasi serta merusak satu bangunan warung yang berada di sekitar area tersebut.
Berdasarkan analisis awal, penyebab utama longsor diduga kuat berkaitan dengan hujan ekstrem dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bekasi dan sekitarnya sejak Sabtu. Curah hujan tersebut membuat gunungan sampah menjadi jenuh air dan kehilangan stabilitas, sehingga memicu guguran material yang berujung pada bencana.
Longsor Bantargebang Bukan Kejadian Pertama
Peristiwa longsor gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Melansir laporan Antara, insiden serupa telah terjadi beberapa kali dalam dua dekade terakhir.
Pada 2003, longsor sampah pernah menimpa kawasan permukiman di sekitar lokasi TPST Bantargebang. Tiga tahun kemudian, pada 2006, longsoran di Zona 3 runtuh dan menimbun puluhan rumah warga di sekitarnya. Dalam kejadian tersebut tercatat dua orang meninggal dunia.
Rangkaian insiden juga kembali terjadi pada 2026. Pada bulan Januari, tanah ambles di area TPST hingga menyeret tiga truk sampah ke dasar sungai. Kemudian pada Maret, gunungan sampah setinggi sekitar 50 meter runtuh di Zona 4C. Longsoran tersebut menimbun satu warung serta lima truk sampah.
Hingga 9 Maret 2026, tercatat enam orang meninggal dunia, termasuk pemilik warung dan sejumlah sopir truk yang berada di lokasi saat kejadian.
Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa masalah di TPST Bantargebang merupakan akumulasi dari beban operasional yang terus meningkat selama bertahun tahun.
Beban Sampah Jakarta Terus Meningkat
Longsor TPST Bantargebang juga menyoroti kapasitas tempat penampungan sampah yang semakin mengkhawatirkan.
Saat ini, volume sampah dari Jakarta yang dikirim ke Bantargebang mencapai sekitar 7.400 hingga 8.000 ton per hari. Dengan jumlah tersebut, kapasitas landfill di lokasi tersebut semakin terbatas.
Ketinggian gunungan sampah di TPST Bantargebang bahkan telah mendekati 60 meter, yang menunjukkan bahwa tempat pembuangan akhir tersebut hampir mencapai kapasitas maksimalnya.
Kondisi ini membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mencari solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bantargebang.
RDF Rorotan Disiapkan sebagai Solusi
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengoperasian fasilitas pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel atau RDF di Rorotan, Jakarta Utara.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa fasilitas tersebut sedang dalam tahap commissioning atau pengujian operasional.
"Yang di Rorotan kami sedang melakukan commissioning. Mudah-mudahan segera selesai, sehingga Rorotan bisa beroperasi normal," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (9/3).
Apabila sudah beroperasi, fasilitas RDF Rorotan ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Menurut Pramono, kapasitas tersebut sudah cukup membantu untuk mengurangi beban sampah yang selama ini dikirim ke Bantargebang.
Dengan kemampuan tersebut, fasilitas RDF di Rorotan diperkirakan dapat mengurangi pengiriman sampah ke Bantargebang hingga sekitar 1.000 hingga 1.500 ton per hari.
Melansir laman resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), peletakan batu pertama atau groundbreaking RDF Plant Jakarta di Rorotan dilakukan pada 13 Mei 2024.
Fasilitas ini dibangun di atas lahan seluas 7,87 hektare milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
RDF Plant Jakarta menjadi proyek kedua Pemprov DKI Jakarta dalam upaya mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Sebelumnya, fasilitas serupa telah dibangun di TPST Bantargebang dan mulai beroperasi sejak 2023.
Apa Itu RDF?
Melansir laman resmi Pemprov DKI Jakarta, RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari sampah.
Secara sederhana, RDF dapat diartikan sebagai bahan bakar yang berasal dari sampah.
Jenis sampah yang dapat diolah menjadi RDF umumnya merupakan sampah anorganik atau sulit terurai, seperti:
- plastik
- kertas
- kain
- karet
- kulit
Nilai kalor bahan bakar RDF bahkan setara dengan batu bara muda, sehingga dapat dimanfaatkan oleh berbagai industri, terutama pabrik semen.
Untuk menghasilkan RDF, sampah harus melalui beberapa tahapan proses, yaitu:
- penyaringan atau screening
- pemilahan atau separating
- pencacahan atau shredding
- pengeringan atau drying
Target kapasitas awal RDF Rorotan diperkirakan mencapai 2.500 ton sampah per hari dan mampu menghasilkan sekitar 875 ton bahan bakar alternatif setiap hari.
Namun seperti yang disampaikan oleh Pramono Anung, fasilitas ini belum dapat langsung mencapai kapasitas maksimal tersebut pada tahap awal operasional.
Potensi Mengurangi Beban Bantargebang
Apabila kapasitas RDF Rorotan dapat mencapai target awalnya yaitu 2.500 ton per hari, fasilitas ini berpotensi mengurangi sekitar 30 persen volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.
Bahkan menurut data dari laman resmi Wika, jika kapasitas tersebut benar benar tercapai, maka fasilitas RDF di Jakarta bisa menjadi salah satu fasilitas pengolahan sampah terbesar di dunia.
Sebagai perbandingan, fasilitas RDF terbesar saat ini berada di Tel Aviv, Israel, dengan kapasitas sekitar 1.500 ton per hari.
Selain fasilitas pengolahan sampah, RDF Plant Jakarta juga akan dilengkapi berbagai sarana pendukung lain yang direncanakan mulai beroperasi pada 2025, di antaranya:
- fasilitas pengelolaan air limbah
- sistem pengendali emisi
- zona penyangga
Dengan berbagai fasilitas tersebut, RDF Rorotan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi tekanan terhadap TPST Bantargebang, sekaligus memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Jakarta dalam jangka panjang.
Tinggalkan Komentar
Komentar