Periskop.id - Industri perhotelan dan restoran di Hungaria kembali menghadapi kekurangan tenaga kerja menjelang musim wisata musim semi dan musim panas.
Kondisi ini mendorong para pelaku usaha untuk mencari pekerja dari luar negeri guna mengisi berbagai posisi yang semakin sulit dipenuhi oleh tenaga kerja lokal.
Melansir Daily News Hungary, Jumat (13/3), hotel dan restoran di negara tersebut masih dapat menemukan koki dan pelayan terlatih dalam beberapa kasus.
Namun para pengusaha menyebut bahwa proses perekrutan menjadi jauh lebih sulit untuk posisi yang kurang diminati seperti pencuci piring, petugas kebersihan, serta staf housekeeping.
Akibatnya, semakin banyak pelaku usaha beralih pada pekerja tamu asing. Jika sebelumnya pekerja migran lebih sering ditempatkan di area dapur atau pekerjaan belakang layar, kini pekerja asal Asia mulai terlihat bekerja sebagai pelayan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan.
Para pelaku industri menyebut bahwa persoalan ini terutama terlihat di luar ibu kota Budapest. Di wilayah tersebut jumlah tenaga kerja lebih sedikit dan peluang pelatihan juga lebih terbatas sehingga proses perekrutan menjadi semakin sulit.
Wilayah Pedesaan Menghadapi Tantangan Terbesar
Rudolf Semsei, wakil presiden Asosiasi Industri Perhotelan Hungaria, mengatakan kepada Portfolio bahwa situasi tenaga kerja sangat berbeda antara Budapest dan daerah pedesaan.
Budapest sebagai ibu kota menawarkan lebih banyak peluang karier serta tempat usaha yang lebih besar. Sebaliknya, restoran dan hotel di daerah kesulitan menarik tenaga profesional yang terlatih.
Salah satu penyebab utamanya adalah banyak lulusan sekolah perhotelan memilih bekerja di Budapest. Akibatnya, kota-kota kecil di Hungaria kekurangan kandidat yang memenuhi kualifikasi.
Semsei menilai bahwa kerja sama yang lebih kuat dengan sekolah kejuruan dapat membantu mengatasi sebagian masalah tersebut.
Jika pelaku usaha perhotelan menjalin hubungan dengan siswa sejak masa pelatihan, perusahaan memiliki peluang membangun tenaga kerja yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Namun usaha kecil di luar ibu kota sering tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menyediakan mentor bagi para peserta pelatihan. Kondisi ini membuat pengembangan tenaga kerja dalam jangka panjang menjadi lebih sulit dilakukan.
Pekerja dari Asia Semakin Terlihat
Kekurangan tenaga kerja paling terasa pada pekerjaan manual seperti petugas kebersihan, staf housekeeping, dan pencuci piring.
Roland Sívó, penasihat Asosiasi Nasional Pengusaha Pariwisata dan Perhotelan, mengatakan banyak restoran bahkan kesulitan menemukan pelamar untuk pekerjaan dapur dasar. Untuk mengatasi kondisi tersebut, sejumlah pelaku usaha mulai merekrut pekerja dari luar negeri.
“Di beberapa restoran, kini bukan hal yang aneh melihat pelayan dari Filipina atau Sri Lanka,” kata Sívó.
Selain di restoran, staf asing juga mulai terlihat di hotel kelas atas. Dalam beberapa kasus, pekerja dari Ukraina atau Mongolia mengisi posisi operasional.
Meski demikian, komunikasi terkadang menjadi tantangan. Hal ini terutama terjadi ketika pekerja asing dan pekerja lokal sama sama memiliki kemampuan bahasa Inggris yang terbatas.
Persaingan Gaji Semakin Ketat
Persaingan mendapatkan tenaga kerja di sektor ini juga semakin meningkat. Restoran kerap mencoba menarik karyawan dari tempat usaha lain dengan menawarkan gaji lebih tinggi.
Situasi tersebut menciptakan kompetisi terus menerus untuk mendapatkan pekerja berpengalaman.
Pada saat yang sama, generasi muda semakin enggan mengambil pekerjaan dengan jam kerja panjang, jadwal tidak menentu, atau kewajiban bekerja di akhir pekan. Faktor ini membuat sektor perhotelan kurang menarik sebagai karier jangka panjang.
Meski demikian, banyak anak muda masih bekerja sementara di restoran sebagai bartender, runner, atau pelayan sambil menempuh pendidikan.
Beberapa pekerja bahkan berpindah pindah restoran dan memilih bekerja di tempat yang menawarkan bayaran tertinggi pada hari tertentu.
Regulasi Baru Berpotensi Menaikkan Pendapatan Pekerja
Para pemimpin industri berharap perubahan regulasi terbaru dapat membantu meningkatkan daya tarik pekerjaan di sektor perhotelan.
Melalui program pemerintah yang bertujuan mendukung industri ini, restoran kini diperbolehkan membagikan hingga 20% dari pendapatan makanan dan minuman termasuk pajak pertambahan nilai sebagai biaya layanan kepada karyawan.
Kebijakan ini berpotensi meningkatkan pendapatan pekerja secara signifikan. Selain menerima gaji pokok, karyawan juga bisa memperoleh bagian dari service charge yang dibagikan oleh perusahaan.
Teknologi Digital dan AI Mulai Digunakan
Selain perubahan kebijakan, teknologi juga semakin banyak digunakan dalam industri perhotelan Hungaria.
Namun tujuan utama penggunaan teknologi bukan untuk menarik tenaga kerja muda, melainkan meningkatkan efisiensi operasional.
Beberapa restoran telah menggunakan layar pemesanan mandiri dan sistem pemesanan digital. Perangkat pemesanan berbasis tablet serta aplikasi seluler juga membantu mengurangi jumlah langkah yang harus ditempuh oleh pelayan saat bekerja.
Saat ini kecerdasan buatan lebih banyak digunakan untuk pemasaran, analisis data, serta pemantauan umpan balik pelanggan.
Beberapa koki dan pastry chef juga mulai memanfaatkan alat berbasis AI untuk menghasilkan ide resep baru, mengoptimalkan penggunaan bahan makanan, serta menghitung nilai gizi hidangan.
Meski begitu, para ahli industri menyebut penggunaan AI untuk menarik pelanggan melalui pemasaran otomatis masih berada pada tahap awal.
Peluang bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI)
Kekurangan tenaga kerja di sektor perhotelan Hungaria juga membuka peluang baru bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Ketika restoran dan hotel kesulitan merekrut tenaga lokal untuk posisi seperti pencuci piring, petugas kebersihan, dan housekeeping, pekerja asing menjadi solusi yang semakin dicari.
Situasi ini menciptakan permintaan tenaga kerja yang relatif stabil bagi pekerja migran dari Asia, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi membuka pasar penempatan tenaga kerja baru di sektor hospitality Eropa yang sebelumnya belum banyak diisi oleh pekerja Indonesia.
Persaingan antar restoran dalam mencari tenaga kerja juga dapat meningkatkan potensi pendapatan pekerja migran. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa restoran sering menawarkan gaji lebih tinggi untuk menarik karyawan dari pesaing.
Kondisi ini memberikan posisi tawar yang lebih baik bagi pekerja migran. Dengan adanya persaingan gaji, pekerja dapat memperoleh upah yang lebih kompetitif serta kesempatan memilih tempat kerja dengan kondisi yang lebih menguntungkan.
Selain itu kebijakan pemerintah Hungaria yang memperbolehkan pembagian hingga 20% pendapatan makanan dan minuman sebagai biaya layanan juga berpotensi meningkatkan penghasilan pekerja.
Selain gaji pokok, pekerja dapat menerima bagian service charge yang menambah total pendapatan mereka. Bagi PMI, hal ini dapat meningkatkan jumlah remitansi yang dikirimkan kepada keluarga di tanah air.
Kekurangan tenaga kerja juga lebih terasa di wilayah pedesaan Hungaria. Banyak lulusan perhotelan memilih bekerja di Budapest sehingga restoran dan hotel di kota kecil harus mencari alternatif tenaga kerja dari luar negeri.
Hal ini membuka peluang yang lebih luas bagi PMI untuk mendapatkan pekerjaan di daerah yang sebelumnya sulit diisi tenaga kerja lokal.
Persiapan sebelum bekerja di Hungaria
Mengacu pada Buku Panduan Pekerja Migran Indonesia di Hungaria 2024, terdapat sejumlah persiapan penting yang perlu dilakukan sebelum bekerja di negara tersebut.
Calon pekerja migran disarankan mencari informasi mengenai Hungaria terlebih dahulu, termasuk budaya dan kondisi sosial masyarakatnya. Pemahaman ini penting agar pekerja dapat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan kerja dan kehidupan sehari hari di negara tujuan.
Calon pekerja juga perlu menjalin komunikasi aktif dengan pemberi kerja, agen tenaga kerja, atau perusahaan outsourcing yang memfasilitasi penempatan kerja.
Dalam proses komunikasi tersebut, pekerja dianjurkan menanyakan program orientasi kerja serta berbagai informasi terkait pekerjaan yang akan dijalani. Informasi mengenai hak dan kewajiban sebagai pekerja migran juga penting untuk diketahui sebelum keberangkatan.
Selain itu calon pekerja dapat mengunjungi Kedutaan Besar Hungaria di Jakarta untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai negara tujuan, jenis pekerjaan, pemberi kerja, serta izin tinggal yang diperlukan.
Persiapan lain yang perlu diperhatikan adalah memastikan informasi mengenai akomodasi tempat tinggal. Calon pekerja migran sebaiknya menanyakan fasilitas yang disediakan serta barang barang apa saja yang perlu dibawa dari Indonesia.
Pemahaman mengenai aturan perjalanan dan pekerjaan di kawasan Uni Eropa juga penting. Hungaria telah menjadi anggota Uni Eropa sejak tahun 2004 dan bergabung dengan wilayah Schengen pada tahun 2007.
Dengan izin tinggal di Hungaria, pekerja migran Indonesia dapat bepergian ke negara negara Schengen lain tanpa visa. Wilayah Schengen mencakup 25 negara Uni Eropa seperti Austria, Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, hingga Swedia serta empat negara non Uni Eropa yaitu Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss.
Namun izin kerja di Hungaria tidak memberikan hak untuk bekerja di negara Uni Eropa lain. Izin tersebut hanya berlaku untuk pekerjaan di Hungaria.
Karena itu pekerja migran disarankan selalu memeriksa aturan visa dan paspor sebelum bepergian ke negara lain di kawasan tersebut.
Setelah tiba di Hungaria, pekerja migran Indonesia juga diwajibkan melakukan beberapa kewajiban administratif. Salah satunya adalah melakukan lapor diri bagi warga negara Indonesia yang tinggal di Hungaria selama enam bulan atau lebih.
Lapor diri dilakukan secara daring melalui Portal Peduli WNI. Proses ini memungkinkan data pekerja tercatat oleh perwakilan Indonesia di luar negeri dan memudahkan akses terhadap layanan konsuler apabila diperlukan.
Selain itu pekerja migran juga perlu meminta beberapa dokumen penting kepada pemberi kerja. Dokumen tersebut meliputi TAJ Card sebagai nomor jaminan sosial, kartu pajak sebagai nomor wajib pajak, serta kartu izin tinggal.
Perlu diketahui bahwa pemberi kerja tidak diperbolehkan menahan dokumen tersebut maupun paspor pekerja karena semuanya merupakan hak pribadi pekerja migran.
Tinggalkan Komentar
Komentar