Periskop.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan sektor industri tidak akan langsung pulih begitu Selat Hormuz kembali dibuka. Normalisasi diperkirakan membutuhkan waktu 30 hingga 60 hari ke depan.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menerangkan, kesepakatan geopolitik yang telah tercapai masih harus diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam kondisi nyata di lapangan sebelum dampaknya benar-benar dirasakan para pelaku industri.
"Kita lihat, mungkin dalam waktu 30-60 hari ini sudah bisa kembali senormal mungkin. Kita lihat hasilnya," ujar Anindya dalam kunjungannya ke Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6).
Dibukanya kembali jalur pelayaran strategis itu, menurut Anindya, diharapkan meredakan gangguan rantai pasok global yang selama konflik memicu kenaikan harga bahan baku dan kelangkaan sejumlah komoditas. Namun, ia menegaskan, membaiknya arus logistik internasional tidak akan langsung mendongkrak aktivitas manufaktur secara instan.
"Dengan sumbatan ini sudah mulai dibuka lebih sedikit, kita berharap ekonomi bisa kembali lebih baik lagi, tapi tidak akan se-normal seolah-olah belum ada perang," sebut Anindya.
Ia mengingatkan, momentum pemulihan global perlu diimbangi dengan penguatan ketahanan ekonomi dalam negeri. Sekitar 50% hingga 55% pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada konsumsi domestik, sehingga Kadin mendorong pemerintah memperkuat konsumsi rumah tangga, perdagangan, dan investasi agar fondasi pemulihan industri lebih kokoh.
UMKM turut disebut Anindya sebagai pihak yang harus dilibatkan dalam proses pemulihan. Secara agregat, kontribusi investasi UMKM terhadap perekonomian nasional dinilainya cukup besar untuk diabaikan.
Ia juga meminta pemerintah mempercepat kemandirian di sektor pangan, energi, dan sumber daya strategis lainnya guna meminimalkan dampak gejolak geopolitik ke depan. Perhatian khusus dimintanya diberikan kepada sektor-sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, elektronik, dan pertanian, sekaligus menjaga iklim investasi bagi industri padat modal.
"Itu kita mesti proteksi supaya investasinya masuk. Jadi, padat modal, tapi juga padat karya itu penting sekali ditingkatkan," tambahnya.
Dari sisi investasi, Anindya optimistis sentimen pelaku usaha akan membaik pada semester II/2026. Realisasi investasi kuartal I sudah mencapai sekitar Rp500 triliun, dengan kuartal II diproyeksikan relatif stabil, sementara kuartal III dan IV berpotensi tumbuh seiring pulihnya kepercayaan investor.
"Di kuartal III dan kuartal IV bisa lebih baik lagi karena mereka sudah siap-siap prime up," pungkas Anindya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar